Rabu, 17 Jan 2018
radarsurabaya
icon featured
Hukum & Kriminal
Pasca Kenaikan saat Natal dan Tahun Baru

Disperindag Jatim Stabilkan Harga Bahan Pangan

Jumat, 12 Jan 2018 09:20 | editor : Abdul Rozack

Grafis Harga Bahan Pangan

Grafis Harga Bahan Pangan (Grafis: Fajar)

SURABAYA –Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jatim masih berupaya menyetabilkan barang kebutuhan pokok di awal 2018. Setelah dianggap memicu inflasi 0,53 akhir tahun lalu, pemerintah pun berencana mengembalikan harga di pasaran. 

Kepala Disperindag Jatim M Ardi Prasetyawan mengatakan, sebenarnya dari laporan yang diterimanya tidak ada kendala stok. Baik telur, minyak goreng, beras, dan gula disebutkannya dalam kondisi dapat terpenuhi. “Bahan kebutuhan pokok sebenarnya sangat stabil. Jadi pasokan cukup. Memang ada tekanan kebutuhan masyarakat menghadapi Natal dan Tahun Baru kemarin sehingga permintaan meningkat,” ujar Ardi saat ditemui di Gedung Negara Grahadi, Kamis (11/1). 

Banyaknya permintaan ini, lanjutnya, membuat beberapa barang mengalami lonjakan. Kendati sebenarnya melihat stok di Jatim mencukupi. Tapi karena permintaan banyak akhirnya mengalami kenaikan. “Hanya saja memicu inflasi. Seperti pangan itu 0,53 persen sehingga itu yang harus kita antisipasi di Januari ini,” bebernya. 

Untuk itu, lanjut Ardi, pihaknya berencana melakukan operasi pasar terus dengan Bulog.  Tujuannya, menekan harga pangan agar bisa stabil. Meski, diakui Ardi, tidak semua daerah mengalami kenaikan harga kebutuhan pokok di pergantian tahun lalu. Dua daerah yang dalam catatannya yaitu Malang dan Surabaya. “Yang paling penting adalah Malang dan Surabaya kemarin mengalami kenaikan sedikit tinggi,” sebutnya. 

Selain beras yang jadi konsentrasi dalam menyetabilkan harga kebutuhan pangan adalah telur. Ardi menyebutkan bahwa telur ini harus distabilkan, baik pasokan maupun stoknya, agar jangan sampai over. Hal tersebut yang sempat terjadi pada September hingga November tahun lalu. Dimana stok yang terlalu banyak, menyebabkan harga telur jatuh diangka Rp 17 ribu per kilogram (kg). Padahal, biaya produksinya Rp 22 ribu per kg. Peternak pun banyak yang protes agar pemerintah menurunkannya. 

“Sekarang harga telur di pasaran sudah mencapai Rp 23 ribu. Tapi di Surabaya dan Malang masih Rp 24-25 ribu. Rencana kami akan gelontor  telur ambil di Blitar menjual ke Rumah Pangan Kita (RPK) Bulog dan e-warung,” urainya. 

Sedangkan untuk cabai, diakui Ardi harganya sudah mulai stabil. Dari sebelumnya saat dirinya sidak akhir bulan lalu di Madiun harganya mencapai Rp 45 ribu. Saat ini sudah turun di angka Rp 32 ribu. Harga tersebut memang belum pada posisi stabil, namun sudah lumayan turun dibanding saat pergantian tahun. 

“Sudah turun lagi (cabai). Tapi sebenarnya yang stabil di harga Rp 20-25 ribu per kilogram. Biaya produksi cabai itu kan Rp 15-16 ribu per kilogramnya. Jadi kami berusaha untuk bisa turun,” tandasnya. (bae/hen) 

(sb/bae/jek/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia