Kamis, 18 Jan 2018
radarsurabaya
icon featured
Lifestyle Sidoarjo

Stop AIDS! Jauhi Penyakitnya, Bukan Penderitanya!

Selasa, 12 Dec 2017 19:09 | editor : Lambertus Hurek

Stop AIDS! Jauhi Penyakitnya, Bukan Penderitanya!

HIV/AIDS memberikan momok tersendiri bagi beberapa orang awam yang mendengarnya. Bagaimana tidak? Bagi sejumput orang, HIV/AIDS adalah sebuah penyakit mematikan. Terjangkitnya penyakit ini sama saja dengan vonis mati. Namun, sebenarnya apa sih sebenarnya HIV-AIDS itu sendiri?

HIV merupakan singkatan dari Human Immunodeficiency Virus. Artinya, virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia dan menimbulkan AIDS. Virus ini menyerang sistem kekebalan tubuh dan melemahkan kemampuan tubuh untuk melawan infeksi dan penyakit.

AIDS merupakan singkatan dari Acquired Immuno Deficiency Syndrome, yaitu kumpulan gejala penyakit akibat menurunnya sistem  kekebalan tubuh oleh HIV. Masyarakat perlu mengetahui tentang HIV agar dapat memberikan perlindungan bagi diri sendiri, serta jika ada yang terinfeksi, masyarakat juga dapat mengetahui bagaimana seharusnya memberikan perlakuan terhadap penderita HIV, sekaligus dapat mengetahui dan mencegah penularan HIV itu sendiri.

HIV/AIDS di Indonesia

Di Indonesia, sejak pertama kali ditemukannya infeksi HIV pada tahun 1987 HIV tersebar di 368 dari 497 kabupaten/kota di seluruh provinsi. Pulau Bali adalah provinsi pertama tempat ditemukannya infeksi HIV/AIDS di Indonesia. Menurut UNAIDS, di Indonesia ada sekitar 690 ribu orang pengidap HIV sampai 2015. Dari jumlah tersebut, setengahnya berusia antara 15 hingga 49 tahun. Wanita usia 15 tahun ke atas yang hidup dengan kondisi HIV sekitar 250 ribu jiwa. Angka kematian akibat AIDS mencapai 35 ribu orang. Dengan demikian, terdapat anak-anak yatim piatu akibat kematian orang tua karena AIDS berjumlah 110.000 anak.

Penularan HIV

Bagaimana HIV dapat menular dari satu orang ke yang lainnya? Terdapat 4 jalur utama penularan virus HIV:

1. Darah. Misalnya saja, melalui penggunaan jarum yang tidak steril (jarum suntik yang tidak steril, jarum tato yang tidak steril), transfusi darah dari donor yang terinfeksi HIV.

2. Cairan sperma.

3. Cairan vagina. HIV juga dapat ditularkan melalui cairan sperma maupun cairan vagina. Maka dari itu, berhubungan seks dengan seringnya bergonta-ganti pasangan juga merupakan faktor utama penyebab penularan HIV-AIDS disamping juga dapat menimbulkan penyakit menular seks lainnya.

4. Kehamilan dan Kelahiran. HIV juga dapat ditularkan pada bayi melalui proses kehamilan dan kelahiran, dan HIV juga dapat ditularkan melalui air susu ibu (ASI) dari ibu yang terinfeksi HIV.

Sebaliknya, HIV tidak dapat ditularkan melalui ludah, air mata, muntahan, keringat, dan HIV juga tidak dapat ditularkan melalui sentuhan kulit (misalnya bersalaman) kepada orang yang terinfeksi HIV. HIV juga tidak ditularkan melalui gigitan nyamuk, penggunaan baju atau

handuk, atau barang-barang yang dipakai penderita HIV secara bersamaan.

Kapankah seseorang harus segera memeriksakan diri ke dokter?

Jika diketahui terdapat riwayat kontak dengan penderita HIV, ataupun terdapat faktor risiko dari 4 jalur penularan HIV tersebut (misalnya berganti-ganti pasangan seksual, penggunaan jarum suntik yang tidak steril, dll) seseorang sebaiknya harus segera memeriksakan diri untuk mendapatkan pemeriksaan-pemeriksaan khusus untuk mendapatkan penanganan segera.

Apakah HIV sudah ada obatnya?

Sampai saat ini belum ada obat yang secara ampuh bisa membunuh virus HIV. Obat-obatan yang ada saat ini digunakan untuk menghambat pertumbuhan virus dan menaikkan sistem kekebalan tubuh manusia.

Apakah HIV dapat dicegah?

Tentu saja bisa. Dengan menghindari faktor-faktor penularan HIV, kita dapat mencegah terjadinya penularan HIV.

1. Berperilaku seks yang aman.

2. Tidak berhubungan seks secara bebas/ bergonta-ganti pasangan.

3. Tidak berbagi alat suntik dan tidak menggunakan narkoba.

4. Mencari sumber informasi yang akurat.

5. Bagi ibu hamil maupun menyusui yang terinfeksi HIV, dapat mengkonsultasikan diri ke dokter ataupun tenaga kesehatan untuk mendapatkan informasi maupun penanganan lanjutan untuk upaya pencegahan penularan infeksi dari ibu kepada anak.

Haruskah kita menjauhi penderita HIV-AIDS?

Tidak. Kita sebaiknya tidak mengucilkan maupun menjauhi penderita HIV. Kita dapat menyalurkan bantuan berupa dukungan dan motivasi pada penderita HIV untuk terus menjalani hidup yang jauh lebih baik.

Masih dalam rangka memperingati hari AIDS sedunia yang jatuh pada tanggal 1 Desember mari kita upayakan bersama untuk mencegah penyebaran HIV. (*)

(sb/rek/rek/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia