Rabu, 13 Dec 2017
radarsurabaya
icon featured
Hukum & Kriminal Gresik

Ada Bukti Asusila, Kades dan Camat Bongkar Warung Pangku Lowayu

Kamis, 07 Dec 2017 18:09 | editor : Abdul Rozack

DIROBOHKAN Satpol PP dibantu Muspika Dukun merobohkan bangunan liar yang digunakan sebagai warung remang-remang.

DIROBOHKAN Satpol PP dibantu Muspika Dukun merobohkan bangunan liar yang digunakan sebagai warung remang-remang. (YUDHI/RADAR GRESIK)

Sejumlah warung kopi remang-remang di Desa Lowayu, Kecamatan Dukun dibongkar Muspika Kecamatan Dukun. SATUAN Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dibantu polsek dan koramil merobohkan dua warung pangku didesanya.

Pembongkaran paksa dilakukan lantaran masyarakat sekitar resah dengan aktivitas warung yang ditengarai menjadi tempat perbuatan asusila.Dalam pembongkaran itu, tidak ada perlawanan dari pemilik warung karena dijaga ketat oleh polisi dan TNI. “Saya pasrah saja,” ujar Tarmudzi, 56, salah satu pemilik warung tesebut.

Tarmudzi hanya menyayangkan, pihak desa maupun kecamatan yang tidak memberikan peringatan berupa surat. “Selama ini hanya diperingati melalui lisan, tidak pernah ada teguran melalu surat resmi,” keluhnya.

Sementara itu, Kepala Desa Lowayu Muhammad Yato mengatakan, pihaknya sudah memberikan peringatan sejak tahun 2013 lalu. Saat itu, dua pemilik warung tersebut yakni Kuato dan Tarmudzi juga sudah menulis surat pernyataan akan membongkar sendiri warungnya jika tetap melanggar norma yang ada. “Ada suratnya. Itu sejak Desember tahun 2013 lalu,” tegasnya.

Dikatakan, pada Oktober lalu keresahan warga semakin memuncak. Akhirnya ia bersama Camat Dukun melakukan sidak di lokasi tersebut. Hasilnya, pihaknya menemukan ada perempuan serta ada perbuatan yang dianggap melanggar norma yang ada. “Ada buktinya, sudah kami foto terkait bukti-bukti tersebut,” ungkap dia. 

Ditambahkan, dirinya beserta masyarakat Desa Lowayu berharap agar aparat terus melakukan operasi rutin terhadap warung-warung lainnya. Sebab, masyarakat menemukan indikasi beberapa warung lain juga menyediakan layanan plus-plus. “Kami minta agar dilakukan operasi rutin terhadap warung-warung tersebut agar tidak meresahkan masyarakat,” imbuhnya. 

Sementara itu, Camat Dukun Arifin mengatakan penertiban ini lantaran pihaknya mendapatkan banyak laporan dari masyarakat terkait perbuatan asusila di warung-warung tersebut. Setelah cukup bukti, pihaknya melakukan koordinasi dengan Satpol PP. “Kami langsung mendatangi lokasi untuk melakukan pembongkaran,” ujar camat yang baru dilantik tersebut. 

Pria yang sebelumnya menjabat Sekretaris Dishub Gresik ini mengatakan di wilayahnya memang masih banyak warung yang diindikasi menjadi pusat kegiatan asusila. Dari data yang ada jumlahnya sekitar 37 warung.

“Kami sudah berkoordinasi dengan aparat yang berwenang untuk rutin melakukan operasi terhadap warung-warung tersebut,” kata dia.

Ditambahkan, pihaknya berharap partisipasi masyarakat untuk melaporkan segala bentuk perbuatan yang melanggar norma-norma yang ada. Sehingga, baik kecamatan, desa maupun masyarakat bisa bersinergi untuk mewujudkan Gresik Kota Santri. “Silahkan laporkan, nanti akan kami tindaklanjuti,” imbuh dia. (rof/ris)

(sb/rof/jek/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia