Jumat, 15 Dec 2017
radarsurabaya
icon featured
Hukum & Kriminal Surabaya

STNK Palsu untuk Dongkrak Harga Motor Curian

Kamis, 07 Dec 2017 15:47 | editor : Wijayanto

DIKEMBANGKAN: Wakasatreskrim Polrestabes Surabaya Kompol I Dewa Gede Juliana (kiri) menginterogasi kedua tersangka.

DIKEMBANGKAN: Wakasatreskrim Polrestabes Surabaya Kompol I Dewa Gede Juliana (kiri) menginterogasi kedua tersangka. (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

SURABAYA  - Didepan polisi Heri Setiawan mengaku sudah melakoni pekerjaannya di jual beli STNK sudah setahun berjalan. Dalam kurun waktu itu, Heri tahu betul tak mudah mendapatkan STNK sesuai pesanan.

Selain itu, orang yang menawarkan STNKpun tak setap hari ada.  Sebab menurutnya, STNK yang dijual itu merupakan hasil temuan atau dari kendaraan yang unitnya ditarik leasing karena tunggakan kredit.

Dengan alasan itulah, ia selalu mematok harga  tinggi untuk STNK yang dijualnya. Dari harga Rp 100 ribu, dia bisa menjualnya hingga harga Rp 200 hingga Rp 500 ribu. Menurutnya selisih harga tersebut tergantung dari jenis motor dan tahun produksinya.

“Semakin baru, tentunya STNK tersebut juga sulit di dapat, selain itu ada jenis motor dengan cc besar, karena jumlahnya tentu jarang,” ungkapnya.

Dia menjelaskan, tujuan pelaku curanmor memanfaatkan jasanya bukan semata-mata hanya ingin aman dari pemeriksaan polisi. Mereka juga menggunakan modus tersebut agar motor harga curian yang ia jual ke penadah bisa naik.

Naiknya cukup signifikan, antara Rp 500 ribu  hingga Rp 1 juta jika dibandingkan dengan motor curian yang “bodong”

“Sebab pembeli juga bisa menggunakan motor tersebut tanpa harus was-was jika motor tersebut adalah motor curian,” terang Heri. Dia menjelaskan pelanggan atau orang yang memesan STNK darinya tak hanya datang dari Surabaya saja, melainkan dari beberepa kota lain, seperti Sidoarjo, Mojokerto, Malang, Bojonegoro dan Madura.

Biasanya pengiriman STNK tersebut bisa diambil langsung atau diantar paket. Yang penting uangnya dilunasi lebih dahulu. “Ya pokoknya harga deal dulu, setelah itu bisa diambil,” tandasnya.

Heri sendiri mengaku menjalankan bisnis ilegalnya tersebut karena tergiur dengan keuntungan yang diperoleh. Sebab jika nasib mujur, dia bisa memperoleh uang ratusan ribu tanpa harus kerja keras.

“Uangnya saya gunakan untuk mencukup biaya hidup sehari-hari dan juga membeli STNK lain yang dijual,” pungkasnya. (yua/rud)

(sb/yua/jay/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia