Rabu, 13 Dec 2017
radarsurabaya
icon featured
Surabaya

Surabaya jadi Kota Percontohan Gerakan Revolusi Mental Jokowi

Kamis, 07 Dec 2017 12:32 | editor : Wijayanto

SEMANGAT PERUBAHAN: Staf Khusus Kemenko PKM, Prasetijono Widjojo Malang Joedo (berdiri di podium), dalam pembentukan Gugus Tugas Revolusi Mental di Surabaya.

SEMANGAT PERUBAHAN: Staf Khusus Kemenko PKM, Prasetijono Widjojo Malang Joedo (berdiri di podium), dalam pembentukan Gugus Tugas Revolusi Mental di Surabaya. (WIJAYANTO/RADAR SURABAYA)

Surabaya – Surabaya terpilih sebagai kota percontohan Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM) yang digagas Kementerian Koodinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK). Hal ini seiring capaian yang diraih kota yang dipimpin Wali Kota Tri Rismaharini tersebut dalam pembangunan infrastrukur perkotaan yang dianggap peduli pada pembangunan sektor manusia dan budaya revolusi mental.

Seperti diketahui, GNRM adalah sebuah gerakan moral yang dicanangkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) lewat instruksi presiden (Inpres) Nomor 12 Tahun 2016. Gerakan ini mengajak seluruh elemen berubah ke arah yang lebih baik dengan mengutamakan tiga nilai dasar, yakni integritas, etos kerja dan gotong royong.

Gerakan ini diwujudkan dalam lima program yakni gerakan melayani, gerakan bersih, gerakan tertib, gerakan mandiri dan gerakan bersatu. “Kelima program gerakan ini telah berjalan di Kota Surabaya sehingga layak dijadikan percontohan untuk diadopsi daerah lain,” tutur Staf Khusus Kemenko PKM, Prasetijono Widjojo Malang Joedo, dalam pembentukan Gugus Tugas Revolusi Mental di Surabaya, kemarin.

Sekretaris Kota Surabaya (Sekkota) Surabaya, Hendro Gunawan mengatakan bahwa kepercayaan yang diberikan pemerintah ini menjadi tanggung jawab pihaknya untuk menjaga dan meningkatkan.

Ia mengakui secara infrastruktur, Surabaya sudah lengkap untuk mampu menjalankan lima program GNRM tersebut. Terutama dalam gerakan kebersihan dan ketertiban. Apalagi dukungan masyarakat dan warga kota pada program-program pemerintah juga baik.

Namun yang tidak kalah penting adalah menjaga hal itu dengan tidak putus dengan memberikan contoh dan teladan. Sebab, satu teladan jauh lebih diperhatikan daripada seribu perintah atau instruksi.

“Kita dorong ASN (aparatur sipil negara, Red) untuk bisa menjadi contoh bagi masyarakat dalam gerakan revolusi mental ini. Apalagi Ibu (Wali Kota Tri Rismaharini) juga sudah mewanti-wanti demikian,” katanya.

Salah satu gerakan revolusi mental yang dalam waktu dekat akan dilakukan, menurut Hendro, adalah mengajak para ASN di lingkungan pemkot Surabaya untuk bersepeda yang akan dilakukan pada Sabtu depan (9/12).

Prasetijono Widjojo menambahkan, Surabaya dipilih sebagai kota percontohan karena pembangunan yang dilakukan Risma dengan melibatkan partisipasi langsung dari warga kota telah mampu mengubah wajah kota dan mendapat banyak apresiasi dari pusat maupun internasional.

Ia mencontohkan program pengelolaan sampah di Surabaya yang sukses mereduksi jumlah sampah, meski jumlah penduduk di perkotaan terus bertambah. Menurut dia, program ini menunjukkan adanya gerakan bersih dan tertib dari masyarakat dan pemerintah daerah.

Selain mencerminkan adanya kebersamaan (gerakan bersatu) dan kesiapan aparat daerah dalam menyediakan fasilitas kepada rakyatnya (gerakan melayani). “Yang tak kalah penting, pengelolaan sampah di Surabaya yang selanjutnya bisa diubah menjadi bernilai ekonomis telah membuat masyarakatnya juga mandiri,” ujarnya.

Focus group discussion (FGD) yang digelar Kemenko PMK bekerja sama dengan Bakesbang ini diakhiri dengan acara diskusi untuk membentuk gugus tugas gerakan revolusi mental. Tugasnya adalah merumuskan program kerja yang bisa diaplikasikan oleh ASN di lingkungan pemkot Surabaya demi mewujudkan Indonesia yang tertib, bersih, melayani, bersatu dan mandiri. (jay) 

(sb/jay/jay/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia