Kamis, 14 Dec 2017
radarsurabaya
icon featured
Features Sidoarjo

AKP Wahyu Norman Hidayat Hobi Berburu Kuliner

Rabu, 06 Dec 2017 18:38 | editor : Lambertus Hurek

AKP Wahyu Norman Hidayat

AKP Wahyu Norman Hidayat (guntur/radar sidoarjo)

Tidak harus koki jadi yang pintar untuk bisa memahami aneka rasa makanan yang enak. Wakasatreskrim Polresta Sidoarjo AKP Wahyu Norman Hidayat ternyata piawai mencicipi berbagai kuliner khas Jawa, Sumatera, dan Kalimantan.

 

Guntur Irianto

Wartawan Radar Sidoarjo

SAAT ditemui di ruangan kerjanya oleh Radar Sidoarjo, AKP Wahyu Norman Hidayat terlihat santai. Sesekali polisi ini melihat ke arah laptopnya. Beberapa kali ponselnya berdering yang menunjukkan bagaimana sibuknya ia menyiapkan berkas dan melihat laporan perkembangan penyidikan untuk diserahkan ke atasannya.

"Beginilah kesibukan saya sekarang ini," kata mantan Kasatreskrim Jombang tersebut kemarin. Setiap hari Wahyu selalu bertemu dengan tumpukan berkas dan berbagai kegiatan lainnya sebagai wakasatreskrim.

Namun, rasa capek dan penat ini bisa menghilang ketika dihadapkan pada makanan enak kesukaannya. Dalam sehari ia bisa mengunjungi empat warung untuk menyalurkan hobi kulinernya. "Di Sidoarjo ini baru beberapa warung saja. Salah satunya Warung Ijo dan nasi sambal di sekitar wilayah kota," katanya.

Ia mengaku sudah mendapat referensi makanan enak dari teman-teman polisi yang lain. Namun, Wahyu masih penasaran dengan rasa kupang lontong di sekitar Tanggulangin. "Katanya sih enak. Saat saya datang, tapi ramai. Di sana harus makan sambil pakai kaos biar lebih menikmati," jelasnya.

Pria kelahiran Banyuwangi ini sudah mencoba beberapa masakan di tiga pulau selama bertugas sebagai polisi. Di Kepulauan Riau, masakan yang dominan adalah ikan. Mulai gulai kepala ikan hingga lobster bakar. Bedanya dengan di Jawa, semua ikan yang disajikan segar. "Rasanya lezat karena semua diolah saat ikan itu segar,"tuturnya.

Setelah dimutasi ke Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Wahyu langsung mencari makanan khas di daerah itu. Soto banjar jadi favoritnya. "Enak juga masakannya, soto banjar ini," tuturnya.

Dari Kalimantan, ia sempat singgah dulu di Surabaya sebagai KBO Satreskrim Polrestabes Surabaya. Ia pun melakukan hal yang sama. Berburu kuliner hingga menemukan nasi sambal di wilayah Wonokromo yang sudah terkenal.

Namun, dari semua makanan itu, Wahyu masih belum bisa move on dari masakan khas Banyuwangi: rujak soto dan nasi tepong. Menurut dia, rasa masakan ini selalu menjadi juara di lidahnya, selain nasi sambal di Wonokromo. Dua masakan Banyuwangi ini menggunakan resep lama, turun temurun hingga sekarang. Ini membuat cita rasanya berbeda dengan masakan yang sama di daerah lain. "Di Surabaya ada rujak soto, saat saya coba rasanya beda. Di Banyuwangi rasanya khas seperti masakan dengan resep lama. Maknyoos pokoknya," terangnya.

Untuk mendapatkan makanan favoritnya, Wahyu tidak jarang harus antre lama. Bisa antre sampai satu jam untuk bisa makan nasi sambal di Surabaya. "Saya antre satu jam tidak masalah asal bisa makan-makanan favorit saya," pungkasnya. (rek)

(sb/gun/rek/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia