Selasa, 21 Nov 2017
radarsurabaya
icon featured
Lifestyle

Efek Negatif Ponsel Pada Anak Ini Membuat Orang Tua Bakal Kewalahan

Selasa, 14 Nov 2017 08:00 | editor : Abdul Rozack

KECANDUAN GADGET: Kebanyakan anak memanfaatkan ponsel untuk melihat video dan bermain game. Orang tua harus bijak dan menggontrol agar penggunaannya t

KECANDUAN GADGET: Kebanyakan anak memanfaatkan ponsel untuk melihat video dan bermain game. Orang tua harus bijak dan menggontrol agar penggunaannya tidak untuk hal negatif. (ANDY SATRIA/RADAR SURABAYA)

SURABAYA – Setelah diancam akan diblokir oleh pemerintah Indonesia, akhirnya pihak Whatsapp menghapus konten animasi GIF (graphic interchange format, Red) yang berbau porno. Namun langkah ini harus tetap diikuti oleh pengawasan orangtua yang memberikan telepon seluler kepada anaknya. Sebab, hal-hal negatif, bisa didapat dari aplikasi atau website yang lain. Hal tersebut diungkapkan oleh psikolog RS Adi Husada Kapasari Robby Agustinus.

Robby menuturkan, perkembangan teknologi saat ini tidak bisa dibendung. Kebijakan tetap berada pada orangtua untuk memberikan ponsel atau tidak kepada anaknya. Apalagi yang masih duduk dibangku SD sampai SMA.  

“Kalau ponsel ini berfungsi untuk mempermudah komunikasi, tidak masalah.Tapi  pada kenyataanya sudah banyak berubah fungsi atau fungsinya sudah tidak sesuai. Kebanyakan digunakan untuk lihat video dari youtube dan bermain game,” kata Robby kepada Radar Surabaya, Senin (13/11). 

Bahkan, tidak jarang orangtua justru kalah canggih dibandingkan anak. Yang perlu diperhatikan adalah kualitas relasi ortu dan anak. Diungkapkan Robby, fungsi yang salah ini yang harusnya tidak didapatkan anak. Bila fungsinya hal yang demikian, sebaiknya anak tidak diberikan ponsel. 

Robby menjelaskan, ketika anak sering bermain game atau menonton video menggunakan ponsel akan berdampak pada kontraksi otot mata menjadi lebih intens. Yang akhirnya berdampak pada kesulitan untuk mempertahankan konsentrasi. 

Dokter mata juga menyatakan radiasi dari  layar gadget memberikan pengaruh yang tidak baik untuk mata. Selain itu, anak yang terbiasa bermain game atau bahkan sudah kecanduan, akan cenderung lebih sensitif secara emosional. 

“Hal ini akan nampak dari perilaku yang suka marah dan menjadi tidak sabar. Sebaiknya orangtua bila memberi anak HP berikan yang secukupnya, untuk telepon atau SMS. Bukan untuk nonton video atau main game,” terang Robby.

Agar anak tidak marah saat diperingatkan atau diarahkan, orangtua harus lebih banyak mendengar apa yang menjadi curahan isi hati dan pikiran anak. Mengkritik dan menasehati secara berlebihan justru tidak tepat sasaran. Alhasil, anak akan menilai bapak atau ibunya nggak asyik diajak ngobrol, selalu menyalahkan anak dan cerewet. 

“Kondisi ini membuat anak menjadi malas untuk bercerita dengan ortu. Ini menjadi kondisi yang sudah berbahaya,” ungkap Robby. (ang/nur) 

(sb/ang/jek/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia