Jumat, 24 Nov 2017
radarsurabaya
icon featured
Hukum & Kriminal Surabaya

Gara-gara Cikrak, Dilaporkan Teman dan Jadi Buron Berbulan-bulan

Selasa, 14 Nov 2017 07:40 | editor : Abdul Rozack

BUKAN SEDANG MENERIMA TAMU: Pelaku bersikap seperti di acara hajatan yang lengkap dengan baju batik.

BUKAN SEDANG MENERIMA TAMU: Pelaku bersikap seperti di acara hajatan yang lengkap dengan baju batik. (ISTIMEWA)

SURABAYA-Jangan anggap remeh cikrak. Alat yang biasa digunakan untuk menampung sampah itu bisa digunakan untuk menghajar orang. Pengalaman Arofiq, 33, adalah buktinya. Warga Jalan Ketintang Masjid atau di Jalan Pandean Gang IV itu menghajar temannya, Santoso, 39, warga Jalan Pandean IV atau Jalan Putat Jaya Gang 8B menggunakan cikrak. 

Cikrak rupanya bisa menjadi senjata bagi Arofiq. Terbukti Santoso babak belur dihajar Arofiq yang marah dengan korban. Puas membuat korbannya babak belur, Arofiq memilih kabur dan membuatnya menjadi buronan Polsek Genteng. 

Kapolsek Genteng, Kompol Arie Tri Setiawan menjelaskan pelaku melakukan penganiayaan pada 22 Juli silam, sekitar pukul 21.00 WIB. “Motif pemukulan dipicu korban bertanya kepada pelaku keberadaan anaknya. Tapi pertanyaan itu membuat pelaku tersinggung, marah, hingga membuatnya emosi. Kemudian menghajar korban,” jelas Arie, sapaannya, Senin (13/11).

Arie menambahkan pelaku nampaknya takut setelah menghajar korban. Itu sebabnya dia memilih kabur dan dinyatakan menjadi buronan. Masalahnya korban langsung melaporkan aksi pemukulan itu ke Polsek Genteng. 

Tidak mudah bagi anggota Polsek Genteng untuk menyeret tersangka. Masalahnya pelaku kerap berpindah-pindah dalam masa pelariannya. Padahal aparat sudah mendatangi beberapa tempat yang biasa dijadikan tempat mangkal pelaku. Hasilnya nihil.

Polisi baru menangkap tersangka yang saat itu berada di Putat Jaya, Kamis (2/11). “Pada saat penangkapan itu pelaku mengakui perbuatannya, yang menyebabkan korban babak belur akibat cikrak,” terangnya.

Akibat perbuatannya, pelaku dijerat dengan pasal 351 KUHP tentang penganiayaan berat. “Ancaman hukumannya hingga lima tahun penjara,” pungkas perwira dengan dua melati di pundak itu. (sar/rif)

(sb/sar/jek/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia