Senin, 20 Nov 2017
radarsurabaya
icon featured
Lifestyle

Penderita Kanker Payudara, Dulu Diatas 40 Tahun Sekarang 25 Tahun

Senin, 13 Nov 2017 19:12 | editor : Abdul Rozack

Dr Andreas Djaputra, SpB dokter spesialis RS Adi Husada Undaan Wetan

Dr Andreas Djaputra, SpB dokter spesialis RS Adi Husada Undaan Wetan (ANGGUN ANGKAWIJAYA/RADAR SURABAYA)

SURABAYA – Kaum perempuan yang menderita kanker payudara jumlahnya semakin meningkat. Bahkan umur penderita semakin muda. “Kalau dulu kebanyakan usia pasien penderita kanker payudara diatas 40 tahun, kini bergeser menjadi 35 tahun. Malah ada yang masih umur 25 tahun ,” terang dr Andreas Djaputra, SpB dokter spesialis RS Adi Husada Undaan Wetan, Minggu (12/11). 

Pergeseran usia pasien penderita kanker payudara bukan karena penyakit ini semakin cepat menyebar, tapi karena meningkatnya kesadaran para kaun hawa untuk memeriksa kondisi diri sendiri. “Ini efek dari informasi. Ternyata banyak yang datang bukan saat mereka sakit. Tapi kebanyakan iseng dan ternyata ditemukan kanker payudara,” ungkap Andreas. 

Dari pemeriksaan dini tersebut, banyak ditemukan kanker yang termasuk dalam stadium dini, yaitu stadium satu sampai stadium dua. “Jadi penanganannya lebih cepat dilakukan dan resiko bisa diminimalisir,” lanjut Andreas. 

Andreas menjelaskan, pengobatan kanker payudara stadium dini bisa dilakukan dengan cara pembedahan, radiasi, kemoterapi, hormonal terapi dan imunoterapi. Ditegaskan Andreas, kanker payudara dini bisa disembuhkan asalkan tidak ada sisa sel kanker. Pada ibu muda, mereka masih bisa hamil dan menyusui anaknya setelah operasi pengangkatan dan dinyatakan sembuh. “Tapi selama wanita tersebut masih menderita kanker, maka jangan hamil dulu,” tegas Andreas.

Untuk tindakan pembedahan atau dikenal dengan Breast Conserving Surgery (BCS) hanya bisa dilakukan pada kanker stadium dini. Ukuran kanker tidak lebih dari tiga sentimeter, ukuran kanker dan ukuran payudara sebanding agar dapat diperoleh hasil kosmetik yang memuaskan, multi sentris (kanker lebih dari satu dan tidak bisa diangkat hanya satu irisan).

“Lokasi juga turut menentukan. Misal pada medial atau perifer sekali atau pada puting dan gelang susu. Maka akan memberikan bentuk yang kurang baik,” terang Andreas. 

Andreas menjelaskan, setelah menjalani operasi pasien masih harus menjalani radioterapi untuk memantau hasilnya. “Minimal tiga tahun untuk memantaunya, enam bulan sekali kontrol. Kalau tidak menjalani radioterapi bisa kambuh,” pungkasnya. (ang/nur) 

(sb/ang/jek/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia