Senin, 20 Nov 2017
radarsurabaya
icon featured
Kota Lama
Riwayat Gedung Kadin di Jl Kembang Jepun (4)

Sentuhan Arsitektur Tiongkok dari Joglo Berkepala Naga

Senin, 13 Nov 2017 15:38 | editor : Wijayanto

NOK NAGA: Rumah khas berarsitektur Tiongkok dengan nok-nok kepala naga yang ada di atap gedung Kadin di Jalan Kembang Jepun.

NOK NAGA: Rumah khas berarsitektur Tiongkok dengan nok-nok kepala naga yang ada di atap gedung Kadin di Jalan Kembang Jepun. (MIFTAKHUL JANNAH/RADAR SURABAYA)

Bangunan Cagar Budaya (BCB) bekas kantor Kamar Dagang dan Industri (Kadin) yang terletak di Jalan Kembang Jepun 25-27 atau yang sekarang ditempati oleh CV. Angkasa Mesin itu, ternyata memiliki cerita historis yang cukup panjang. Mulai dari pendirian gedung, aktivitas yang dilakukan di dalamnya, hingga gaya arsitektur dari gedung itu sendiri.

Miftakhul Janah Fajriyah-Wartawan Radar Surabaya

Ternyata banyak masyarakat yang belum mengetahui adanya gedung Kadin ini, khususnya ketika mereka melewati Jalan Kembang Jepun. Bahkan, tak banyak pula masyarakat sekitar yang mengetahui sisi historis dari gedung itu.

Sekilas, penampakan fisik gedung Kadin yang sederhana terlihat layaknya gedung atau pertokoan pada umumnya yang memiliki luas persegi dengan dua lantai. Padahal, gedung yang berjaya pada tahun 60-an tersebut memiliki spot khas yang menarik, khususnya yang berada di lantai tiga. Kekhasan itu ditunjukkan dengan berdirinya bangunan joglo yang ikonik di mana pada sisi atap joglo tersebut, terdapat dua kepala naga yang saling bertolak belakang.

Freddy H Istanto, Ketua Surabaya Heritage, mengungkapkan, selain memiliki gaya arsitektur klasik Yunani. Gedung Kadin memang memiliki sentuhan arsitektur Tionghoa di mana hal tersebut tidak terlepas dari para Jiao Lien yang sebelumnya pernah menempati bangunan tua ini.

"Pada joglo yang berada di lantai paling atas, 100 persen memang merupakan arsitektur Tiongkok. Desain kolom kayu yang sederhana dan atap joglo dengan ujung nok-nok kepala naga yang sejajar menjadi buktinya," kata Freddy.

Meskipun penggunaan kepala naga sebagai nok tidak terlalu lazim, Freddy mengatakan, hal tersebut dapat menjadi sebuah simbol tentang nilai dari sebuah bangunan.

"Bisa dikatakan, nok kepala naga itu menjadi petunjuk bahwa ruangan tersebut merupakan salah satu ruang atau bagian yang penting dalam bangunan kadin," pungkasnya.

Beberapa masyarakat umum berpendapat, ruang terbuka yang berada di lantai tiga itu adalah tempat yang juga digunakan para Jiao Lien untuk sembahyang. Disisi lain, Freddy menjelaskan masih ada silang pendapat terkait fungsi ruangan terbuka itu.

"Sejauh yang saya ketahui, tempat itu dahulunya hanya digunakan para Jiao Lien untuk acara yang santai. Seperti untuk berbincang ataupun sekadar menikmati pemandangan sore dengan minum teh. Terkait sebagai tempat persembahyangan, saya belum bisa memastikan benar atau tidaknya," ungkap Freddy.

Senada dengan Freddy, Edi Sutanto, salah satu warga yang tinggal tidak jauh dari gedung Kadin, juga menepis pendapat tersebut. "Kalau digunakan untuk ibadah, tentu saja tidak benar. Karena lokasi Kadin sendiri tidak jauh dari klenteng, sehingga untuk beribadah para Jiao Lien tidak melakukannya di gedung itu," ungkap pria keturunan Tionghoa tersebut saat ditemui Radar Surabaya di kediamannya.

Saat ini, lanjut Edi, gedung kadin itu telah dialih fungsikan menjadi CV. Angkasa Mesin. Sebuan pertokoan yang menyediakan berbagai macam alat pertanian hingga genset.

Marianti, Owner CV Angkasa Mesin menyebutkan, dirinya dan sang suami resmi membeli bangunan tua itu sejak tahun 1997. "Sudah 12 tahun disini, awalnya hanya sebagai tempat menyimpan barang-barang saja. Tetapi sejak 2005 kami resmi memulai aktivitas perniagaan," imbuhnya.

Marianti juga mengatakan tidak ada pemugaran yang cukup berarti dalam gedung itu. "Kami mengikuti peraturan pemkot. Sebagai bangunan cagar budaya, arsitektur gedung ini masih asli. Mulai dari bingkai jendela, bilik ruangan hingga ubin pada lantai masih sama sesuai dengan peninggalan sejarah," kata Marianti.

Namun demikian, terlepas dari kesan mistik pada joglo yang terdapat di lantai tiga, Marianti mengungkapkan dirinya tidak lagi menggunakan area yang berada di lantai tiga. "Baik saya maupun karyawan disini tidak pernah naik (ke lantai tiga). Tempatnya tidak cukup fungsional, kami cukup menggunakan lantai satu dan dua. Di lantai satu untuk gerai penjualan dan di lantai dua untuk kantor," tutupnya. (*/habis/hen)

(sb/mif/jay/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia