Senin, 20 Nov 2017
radarsurabaya
icon featured
Hukum & Kriminal

Ngaku Teman, Guru Honorer Wanita Dimintai Video Vulgar, Diperas 183 Jt

Senin, 13 Nov 2017 11:00 | editor : Lambertus Hurek

Ngaku Teman, Guru Honorer Wanita Dimintai Video Vulgar, Diperas 183 Jt

Hati-hati merekam adegan ‘dewasa’ apalagi sampai dipertontonkan atau dikirimkan ke orang lain. Paling tidak, apa yang menimpa LM, 38, seorang guru honorer wanita di Sidoarjo. Gara-gara pernah membikin lalu mengirimkan video dan foto vulgar atau berbau pornografi, dia telah menjadi korban pemerasan.

Pelakunya diduga Irwan Setiawan alias Bayu, 28, warga Dusun Pagerwojo, Desa Gelam, Kecamatan Candi. Sejak Mei hingga Oktober 2017 lalu, tersangka telah memeras korban senilai Rp 183,3 juta. Polisi berhasil menyita satu buah ponsel milik tersangka dan uang sisa pemerasan sebesar Rp 500 ribu. Kini pria tersebut telah ditangkap dan ditahan di Polsek Sidoarjo.

Kapolresta Sidoarjo Kombes Pol Himawan Bayu Aji menjelaskan pemerasan bermula sekitar Februari 2017 lalu saat tersangka yang berstatus duda ini mendapatkan nomor telepon LM. Nomor telepon tersebut didapatnya dari buku sang adik. Tersangka iseng mengirimkan pesan singkat. 

“Tersangka ini mengaku sebagai salah satu teman kuliah korban. Korban percaya hingga akhirnya komunikasi menjadi lebih intens,” kata Himawan Bayu Aji, Minggu (12/11).

Saat hubungan mereka semakin dekat, tersangka meminta nomor telepon korban yang lain yang tersambung ke aplikasi Whatsapp. Korban pun memberikan nomor lagi hingga keduanya tidak hanya berkirim pesan namun juga foto. 

Tak berselang lama, tersangka meminta LM untuk membuat video pribadi yang menunjukkan beberapa bagian tubuh pribadinya. Permintaan itu juga dituruti. “Ada sekitar 10 video berisi konten vulgar yang dikirimkan ke tersangka,” lanjut Himawan.

Sekitar Mei 2017, tersangka mulai berulah. Video yang dikirimkan kepadanya malah digunakan sebagai senjata untuk memeras korban. Tersangka mengancam akan menyebarluaskan video tersebut ke media sosial (medsos). Tetapi jika korban memberikan uang kepadanya, video tidak akan disebar.

“Awalnya tersangka meminta Rp 10 juta dan kemudian habis dalam semalam karena digunakan untuk berfoya-foya di Tretes,  Pasuruan,” terangnya.

Ternyata pemerasan berlanjut. Ia kembali meminta korban untuk mentransfer uang sebanyak 43 kali hingga angkanya mencapai Rp 183 juta. Transfer sebanyak itu dilakukan dengan nomor rekening penerima yang berbeda-beda. Rupanya tersangka menggunakan rekening temannya. 

“Tetapi kami berhasil menyita Rp 500 ribu uang hasil pemerasan yang masih tersisa,” katanya.

Nah, awal ditangkapnya tersangka yakni korban berusaha menghindar dengan mengganti nomor HP-nya. Namun, tersangka tidak hilang akal dengan mengancam korban melalui temannya. Ancaman ditunjukkan dengan mengirim video korban ke temannya tersebut. Hingga akhirnya tersangka kembali mendapat nomor telepon korban dan mengancamnya lagi.

Pada posisi yang menjadi korban pemerasan dan sudah keluar uang banyak, akhirnya korban memberanikan diri melapor ke polisi. Tersangka pun berhasil diringkus di rumahnya. “Tersangka sempat menolak mengakui perbuatannya, hingga kami berhasil menyita HP-nya dan akhirnya kami buka percakapan di Whatsappnya dengan korban. Ia pun tidak bisa mengelak,” tambah Himawan.

Tersangka akhirnya dijerat UU ITE pasal 45 ayat 4 UU RI nomor 19 tahun 2016 tentang mendistribusikan informasi atau dokumen elektronik dengan maksud melakukan pemerasan dan pengancaman. Akibatnya tersangka terancam hukuman lima tahun penjara dan denda maksimal Rp 1 miliar. (gun/jee) 

(sb/gun/rek/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia