Kamis, 23 Nov 2017
radarsurabaya
icon featured
Events Surabaya
Pesan Hari Pahlawan Wali Kota Surabaya

Anak Muda Tak Boleh Lengah, Jangan Bermain Gadget Terus

Jumat, 10 Nov 2017 19:03 | editor : Abdul Rozack

Ilustrasi Edisi Hari Pahlawan

Ilustrasi Edisi Hari Pahlawan (Dokumen Radar Surabaya)

10 November merupakan hari yang sangat bersejarah bagi Kota Surabaya. Menyandang nama Kota Pahlawan, menjadikan arek-arek Suroboyo terus memiliki semangat bak Pahlawan yang berjuang pada 10 November 1945 silam.

Meski berbeda zaman, Pahlawan Zaman Now masih dapat dilihat dari tokoh-tokoh pemimpin masa kini. Salah satu pemimpin sekaligus ibuk'e arek-arek Suroboyo, Tri Rismaharini sudah dapat mewakili sebagai pahlawan masa kini bagi Kota Surabaya. Terlebih, berbagai prestasi mulai tingkat regional, nasional dan Internasional telah disabetnya.

Dalam berbagai kesempatan, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini selalu menekankan kepada generasi muda agar tidak mudah menyerah. Semangat berkobar dari pahlawan harus dimiliki oleh setiap warganya. Karena menurutnya, para pejuang mendapatkan kemerdekaan bukan dengan cara yang muda tetapi dengan seluruh perjuangan dan pengorbanan yang luar biasa. 

"Mari kita berjuang terus, tidak ada kata menyerah. Pertahankan api perjuangan bagi Indonesia raya agar mampu membawa pesan damai, aman, sentosa dan sejahtera," tegasnya.   

Wali Kota sarat akan prestasi ini juga berpesan, meskipun sudah merdeka, anak-anak muda tidak boleh lengah. Pasalnya, persaingan ke depan antar negara sangat berat. “Oleh karenanya, anak muda harus belajar lebih keras agar bisa mempertahankan kemerdekaan itu,” ujar wali kota perempuan pertama di Surabaya itu.

Tri Rismaharini juga menyampaikan di depan anak-anak pada saat sekolah kebangsaan di Gedung GNI agar tahu bahwa kemerdekaan yang diraih, bukan karena diberi. Tetapi merupakan hasil perjuangan para pahlawan. Semua warga Surabaya kala itu ikut bertempur dan ribuan orang gugur.

“Kalian bisa bersekolah dan beraktivitas seperti sekarang, karena hasil perjuangan. Karena itu, sudah seharusnya kalian meneruskan perjuangan para pahlawan. Tentunya tidak dengan mengangkat senjata, melainkan dengan belajar dan berani keluar dari zona nyaman,” kata Risma Kamis (9/11).

Wali Kota perempuan kelahiran Kota Kediri ini menjelaskan, dipilihnya lokasi Gedung GNI karena di kawasan tersebut, pada 1945 silam, dr. Soetomo yang menimba ilmu ke Belanda, kembali ke Indonesia karena rasa cinta kepada bangsa Indonesia. Melalui ilmu yang sudah didapat, Soetomo bersama dengan kawan-kawannya berhasil mencetuskan Sumpah Pemuda.

“Para pahlawan dulu berani dan mempunyai nyali demi mempertahankan kemerdekaan. Karena itu, kalian jangan pernah merasa takut atau rendah diri. Kalian harus berani berjuang untuk memperebutkan keberhasilan. Apalagi kalian dibekali dengan ilmu pengetahuan. Gunakan apa yang kalian miliki untuk kemajuan kalian, orang tua, sesama dan bangsa Indonesia,” sambungnya.

Selama sekitar satu jam, wali kota yang berhasil menerima penghargaan Global Green City Award PBB di New York, menyampaikan banyak pesan penting kepada para pelajar. Tentang semangat kepahlawanan yang harus diwarisi, tentang pentingnya keberanian untuk bersaing dengan pelajar di seluruh dunia, tentang pentingnya menjadi pemenang di kota sendiri dan tidak bergantung pada orang lain.

Bahkan, ia juga mengimbau agar pelajar tidak terus bermain gadget melainkan belajar agar negara ini tidak dijajah oleh bangsa lain. “Penjajahan sesungguhnya sudah terjadi. Jangan terlena dengan gadget, itu semua by design untuk menghancurkan bangsa ini. Kalau kalian ingin negara ini tidak dijajah kembali maka kalian harus bisa membagi waktu jangan hanya main game terus. Waktu ini terbatas, jika kalian terlena maka negara lain akan masuk dan kalian akan menjadi penonton dan tidak bisa berbuat apa-apa,” pesannya.

Sedangkan pesan bagi masyarakat, lanjut wali kota, momentum Hari Pahlawan dimaknai sebagai tanda untuk tidak mengenal lagi kata lelah dan putus asa. Melainkan, kata Risma, tetap bekerja keras agar mampu memenangkan pertempuran yang sesungguhnya yakni melawan kemiskinan dan kebodohan. (jar/no) 

(sb/jar/jek/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia