Sabtu, 25 Nov 2017
radarsurabaya
icon featured
Ekonomi

Jatim Gudangnya Kopi, Pertahankan Kampung Kopi di Jatim Fair

Senin, 16 Oct 2017 19:39 | editor : Abdul Rozack

Kepala Biro Perekonomian Pemprov Jatim Dr.Ir. Aris Mukiyono, MT, MM

AYO NGOPI BARENG: Kepala Biro Perekonomian Pemprov Jatim Dr.Ir. Aris Mukiyono, MT, MM (kiri) saat menyeduh kopi di kampung kopi Jatim Fair 2017. (ABDULLAH MUNIR/RADAR SURABAYA)

SURABAYA-Jawa Timur dikenal dengan sebagai penghasil produk pertanian dan perkebunan tertinggi di Indonesia. Salah satunya adalah kopi yang memiliki puluhan varian yang tersebar mulai dari Bondowoso, Banyuwangi, Malang, Jombang hingga kawasan Magetan. 

Hal inilah yang coba ditingkatkan Pemprov Jatim untuk meningkatkan produksi petani. Melalui event Jatim Fair, pemprov berusaha meningkatkan ketertarikan masyarakat terhadap kopi produksi petani Jatim. Sebanyak tujuh stand dengan nama kampung kopi tetap tersaji di acara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Jatim tersebut. 

“Ini tidak lepas dari sejarah Jatim Fair. Pak Gub (Gubernur Jatim, Soekarwo) awalnya ingin menggalakkan kampung-kampung kopi di daerah. Itu salah satu idenya. Sehingga UKM (usaha kecil menengah) bisa dilibatkan,” ujar Kepala Biro Administrasi Perekonomian Sekdaprov Jatim Aris Mukiyono, Minggu (15/10).

Aris pun sadar, kopi saat telah menjadi salah satu komoditi unggulan di Jatim. Banyak varian yang dihasilkan dari kebun-kebun kopi yang tersebardi perkebunan. Bahkan salah satu jenis kopi luwak yang kualitasnya sudah mendunia, juga bisa dihasilkan dari provinsi dengan penduduk 32 juta jiwa ini. 

“Kami ingin masyarakat tahu bahwa Jatim juga menjadi gudangnya kopi. Dari yang diracik secara tradisonal hingga modern ada di Jatim. Bedanya, unsur etnik lebih terasa di kopi yang dihasilkan kebun di Jatim ini,” bebernya. 

Sementara itu, salah satu pemilik stand Jaka Cangkir, Arif. Dia sengaja datang dari Lamongan untuk memanjakan penikmat kopi yang datang ke Jatim Fair. “Kalau di Gresik punya kopi Giras. Di Lamongan ada Joko Cangkir,” kata Airf saat ditemui di stand Jatim Fair. Diterangkannya, yang menjadi pembeda kopinya dengan kopi lain dari cara penyajiannya. Dia menyajikan kopi selir atau murni diramu dengan susu dan rempah pilihan. 

Selain kopi Joko Cangkir, salah satu pemilik kopi lainnya Abdullah Munir yang menyajikan kopi Nongkojajar dengan varian tradisional yang dihasilkan dari kebun di daerah Bromo. “Pemilihan kopi dilakukan dua kali saat sebelum dan sesudah di sangrai. Hanya green bean (biji kopi hijau) yang sempurna saja yang saya pakai,” terangnya.

(sb/bae/jek/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia