Minggu, 22 Oct 2017
radarsurabaya
icon featured
Features Surabaya

Waspada Mata Malas Pada Anak

Kamis, 12 Oct 2017 16:41 | editor : Abdul Rozack

dr Erry Dewanto, SpM, Klinik Mata EDC

dr Erry Dewanto, SpM, Klinik Mata EDC (Dokumen Radar Surabaya)

Apa itu Mata Malas ?

Mata malas adalah gangguan penglihatan sebelah mata pada anak-anak karena otak dan mata tersebut tidak bekerjasama yang mengakibatkan penglihatan menurun. Kondisi ini juga dikenal dengan istilah medis amblyopia dan umumnya diketahui saat anak-anak berusia 4 tahun. Kemampuan penglihatan yang buruk ini dapat mengganggu perkembangan mata, mengakibatkan kerusakan penglihatan berkepanjangan pada mata tersebut. 

Mata malas terjadi ketika koneksi saraf dari salah satu mata ke otak tidak terbentuk secara sempurna pada masa kanak-kanak. Mata dengan kemampuan penglihatan yang buruk akan mengirimkan sinyal visual yang kabur atau keliru ke otak.

Otak kemudian akan mengirimkan sinyal lebih sedikit pada mata yang buruk. Lambat laun, kinerja kedua mata menjadi tidak sinkron dan otak akan mengabaikan sinyal dari mata yang buruk tersebut.

Penyebab Mata Malas

Gangguan perkembangan penglihatan ini bisa disebabkan oleh berbagai hal. Beberapa di antaranya meliputi: 

• Mata juling (strabismus). Ini merupakan penyebab terbanyak di balik mata malas. Riwayat keluarga sering menjadi penentu untuk kondisi anak seperti ini.

• Gangguan refraksi, yaitu adanya perbedaan refraksi pada kedua mata sehingga mata dengan penglihatan yang lebih jelas akan menjadi dominan untuk melihat. Contoh gangguan refraksi adalah rabun jauh, rabun dekat, serta astigmatisme.

• Katarak pada anak. Mata malas akibat katarak sering menyebabkan kondisi yang paling parah.

Di samping penyebab, para pakar juga menduga ada beberapa faktor yang berpotensi meningkatkan risiko mata malas. Faktor-faktor risiko tersebut adalah kelahiran prematur, bayi yang lahir dengan berat badan di bawah normal, faktor keturunan, serta gangguan perkembangan. 

Gejala-gejala Mata Malas

Anak Anda mungkin tidak akan mengeluhkan penglihatannya. Seiring dengan berjalannya waktu, seseorang yang mengalami ambliopia mungkin terbiasa dengan keadaan salah satu mata yang lebih tajam penglihatannya. Pemeriksaan mata profesional merupakan satu-satunya cara untuk menentukan jika anak Anda mengalami mata malas. Akan tetapi, ada gejala-gejalanya sendiri yang bisa Anda cari.

• Persepsi kedalaman yang buruk. Ini ditandai dengan kesulitan anak menganalisis tingkat kedalaman (stereopsis) dan melihat film-film 3D. Juga kesulitan melihat benda-benda yang jauh, seperti papan tulis di sekolah.

• Mata juling. Jika mata anak Anda kelihatannya berada pada posisi yang tidak benar, maka ia mungkin mengalami strabismus, yang merupakan penyebab umum ambliopia.

• Kejulingan, penggosokan mata, dan tindakan memiringkan kepala yang rutin dilakukan oleh anak Anda. Semua hal ini mungkin merupakan gejala-gejala penglihatan yang kabur, yang merupakan efek samping umum dari kondisi ambliopia.

• Anak menjadi marah atau tidak tenang ketika Anda menutupi salah satu matanya. Beberapa anak bisa mengalami hal ini jika Anda menutupi salah satu mata mereka. Ini mungkin sebuah tanda bahwa mata mereka tidak mengirimkan sinyal visual yang seimbang ke otak.

• Anak mengalami kesulitan di sekolah. Terkadang, seorang anak mungkin kesulitan belajar karena ambliopia. Berbicaralah dengan guru anak Anda dan tanyakan apakah anak Anda mencari-cari alasan saat diminta membaca dari jauh (misalnya: “Saya pusing” atau “Mata saya gatal”).

Apabila mengalami gejala dan tanda klinis tersebut, bawalah anak anda ke Klinik Mata EDC Group agar kondisi matanya bisa diperiksa secara mendetail. Diagnosis dan pengobatan sedini mungkin sebaiknya dilakukan guna mencegah gangguan penglihatan jangka panjang dan bahkan kebutaan.

Bagaimana pengobatannya?

Pahami penyebab mata malas. Ambliopia terjadi saat otak kesulitan berkomunikasi dengan mata dalam cara yang benar. Kondisi ini mungkin terjadi saat salah satu mata memiliki kekuatan fokus yang lebih baik dari mata satunya.

Ambliopia bisa sulit dideteksi sendirian karena tidak menyebabkan perubahan visual atau bentuk apa pun pada mata. Satu-satunya cara untuk mendiagnosis mata malas secara akurat adalah dengan berkunjung ke dokter mata

Untuk mengatasi ambliopia, anak harus menggunakan mata yang lemah (secara paksa, bila perlu). Hal ini akan memaksa mata yang lemah tersebut untuk menjadi lebih kuat. Seiring dengan berjalannya waktu, tindakan ini akan dapat memperbaiki fungsi penglihatan di mata yang lemah. Dokter mungkin menyarankan:

• Menutup mata yang lebih kuat dengan penutup mata.

• Mengaburkan pandangan mata yang lebih kuat dengan obat tetes mata atau dengan kacamata.

Anak mungkin diharuskan mengenakan penutup mata atau kacamata sepanjang hari atau hanya pada saat-saat tertentu saja. Cara ini mungkin perlu dilakukan selama beberapa minggu sampai beberapa bulan. Pada kasus yang lebih berat, diperlukan waktu yang lebih lama. Jika ambliopia terjadi karena kelainan mata yang lain, misalnya katarak, kelainan lain tersebut harus diatasi terlebih dahulu.

Tata laksana ambliopia paling baik dimulai sebelum usia 6 tahun, dimana fungsi penglihatan anak masih bisa berkembang hingga usia maksimal 9-10 tahun. Jika terlambat, efeknya tentu tidak lebih baik, meskipun masih bisa memperbaiki fungsi penglihatan, hasilnya tidak akan semaksimal jika dilakukan pada rentang usia tersebut.

Setelah terapi berakhir, jangan lupa untuk memeriksakan mata anak secara rutin, karena ambliopia bisa terulang kembali meskipun telah sembuh sempurna.

Tata laksana ambliopia memang sederhana, tetapi terkadang menimbulkan ketidaknyamanan pada anak. Untuk itu, dapat dilakukan hal berikut:

• Jelaskan pada anak mengenai tujuan penggunaan penutup mata atau kacamata, yaitu untuk memperbaiki fungsi penglihatannya.

• Jelaskan kepada teman, guru, siapapun orang di sekitar anak bila perlu, mengenai kondisi anak dan tata laksana yang sedang dilakukan.

• Menggunakan penutup mata, kacamata, atau obat tetes mata hanya sesuai anjuran dokter. Jika dokter menyarankan untuk digunakan sepanjang hari, lakukanlah. Jika dokter menyarankan untuk menggunakannya pada saat-saat tertentu saja, lakukanlah.

• Jika memungkinkan, hiasi penutup mata yang dipakai oleh anak. Tanyakan terlebih dahulu kepada dokter apakah diperbolehkan.

• Lakukan hal-hal yang menyenangkan, misalnya mewarnai gambar atau membuat kerajinan tangan saat anak sedang mengenakan penutup mata atau kacamata. Hal ini akan semakin mendorong anak untuk menggunakan mata yang lemah.

Terapi yang dapat dilakukan di rumah

Lakukan tes benda gerak. Lihat respons anak Anda terhadap gerakan untuk mengetahui jika salah satu matanya merespons dengan lebih lambat dari mata lainnya. Cari bolpoin dengan bagian tutup yang berwarna terang atau benda berwarna cerah lainnya. Minta anak Anda untuk berfokus pada sebuah titik spesifik pada benda tersebut (misalnya tutup bolpoin atau bagian bundar dari permen lolipop). 

• Minta anak Anda untuk berfokus pada bagian yang sama sembari mengikuti gerakan benda berwarna tersebut dengan matanya.

• Gerakkan benda dengan perlahan ke kanan dan ke kiri. Lalu, gerakkan ke atas dan ke bawah. Awasi mata anak Anda dengan berhati-hati saat Anda menggerakkan bendanya. Perhatikan jika salah satu mata terlihat lebih lambat daripada mata lainnya saat mengikuti gerakan benda.

• Tutupi salah satu mata anak dan gerakkan bendanya lagi: ke kiri, kanan, atas, dan bawah. Tutupi mata satunya dan ulangi terapi ini.

(sb/jpg/jek/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia