Kamis, 14 Dec 2017
radarsurabaya
icon featured
Ekonomi Sidoarjo

Kondisinya Kritis, 134 Koperasi Diusulkan Ditutup

Kamis, 12 Oct 2017 08:43 | editor : Lambertus Hurek

HASIL EVALUASI: Salah satu koperasi di Sidoarjo. Dinas Koperasi dan Usaha Mikro telah melakukan evaluasi terhadap 1.432 koperasi. Dari pemeriksaan awal ada 302 koperasi yang masuk dalam kategori kritis.

HASIL EVALUASI: Salah satu koperasi di Sidoarjo. Dinas Koperasi dan Usaha Mikro telah melakukan evaluasi terhadap 1.432 koperasi. Dari pemeriksaan awal ada 302 koperasi yang masuk dalam kategori kritis. (SURYANTO/RADAR SIDOARJO)

KOTA-Dianggap tidak produktif, Pemkab Sidoarjo mengusulkan penutupan 134 koperasi. Caranya dengan tidak memperpanjang izin ratusan koperasi tersebut. Langkah itu dilakukan untuk meningkatkan kinerja koperasi di Sidoarjo.

Pelaksana tugas (plt) Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Sidoarjo M Tjarda mengatakan, sebelumnya pihaknya sudah melakukan evaluasi terhadap 1.432 koperasi. Evaluasi dilakukan dengen memeriksa kelengkapan surat, kinerja, sampai keanggotaannya. “Dari pemeriksaan awal, ada 302 koperasi yang dianggap kritis, sedangkan yang sudah hampir tutup ada 159 koperasi,” katanya.

Koperasi yang dianggap kritis itu bisa dilihat dari kinerjanya dalam melayanai anggota. Koperasi itu sudah tidak ada Rapat Anggota Tahunan (RAT) selama dua tahun berturut-turut, tidak ada perputaran uang, dan ditinggal oleh pengurus dan anggotanya. Koperasi masuk dalam kategori kritis di antaranya juga tidak bisa memberikan laporan pertanggungjawaban.

Namun, ungkap Tjarda, koperasi yang kritis itu tidak langsung ditutup. Dinas Koperasi dan usaha Mikro masih memberikan pendampingan. Ternyata setelah dilakukan pendampingan, ada koperasi yang benar-benar tidak bisa diselematkan. "Totalnya 134 koperasi itu," imbuhnya.

Menurut Tjarda, faktor utama matinya koperasi karena pengurus yang tidak peduli. Banyak pengurus koperasi yang menganggap koperasi hanya pekerjaan sambilan. Selain itu juga tidak ada inovasi dari pengurus. Selama ini koperasi hanya menjalankan simpan pinjam. Paradigma itu, kata dia, harus segera dihilangkan. 

Ke depan, Tjarda akan memperbaiki koperasi agar tidak ada penutupan lagi. Salah satu caranya dilakukan dengan rebranding koperasi. “Anggota dan pengurus koperasi diupayakan dari kalangan pemuda sehingga kerjanya bisa cepat dan terukur,” terangnya. 

Selain itu, Pemkab juga akan membuat konsep baru koperasi. Yakni dengan memadukan antara koperasi dan minimarket. "Tidak hanya simpan pinjam, anggota dan warga bisa membeli kebutuhan di koperasi,” lanjut Tjarda. 

(sb/rek/rek/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia