Rabu, 18 Oct 2017
radarsurabaya
icon featured
Lifestyle Sidoarjo

Menjaga Tradisi Batik Tulis di Kota Delta

Selasa, 10 Oct 2017 10:11 | editor : Lambertus Hurek

TRADISI: Tiga peserta telaten mengikuti workshop batik tulis di Museum Mpu Tantular.

TRADISI: Tiga peserta telaten mengikuti workshop batik tulis di Museum Mpu Tantular. (Agus Yanto/Radar Sidoarjo)

BUDURAN-Demam batik tidak lagi sehebat ketika batik ditetapkan sebagai warisan dunia delapan tahun lalu. Karena itu, sejumlah seniman yang tergabung dalam Sanggar Citraleka berusaha merawat seni batik tulis dengan mengadakan pelatihan rutin setiap pekan.

Worskhop di Museum Mpu Tantular, Buduran, ini baru digelar sejak enam bulan lalu. "Kegiatan membatik ini durasinya dua jam. Sejauh ini sudah lumayan bagus respons dari masyarakat," ujar Antonius Juniarto, koordinator Sanggar Citraleka, kemarin.

Berbeda dengan kursus melukis, yang diikuti banyak orang, menurut Juniarto, peserta workshop batik masih sangat terbatas. Rata-rata hanya enam sampai sembilan orang. Sesekali bisa lebih dari 10 orang. Ini karena proses membuat batik tulis tradisional membutuhkan ketekunan dan ketelatenan. 

"Proses membatik itu memang lama. Mulai dari nyanting, pewarnaan, setelah diwarnai kemudian dilorot lilinnya, sampai selesai," ujar pria yang kerap mengikuti kegiatan melukis on the spot itu.

Yang menarik, workshop membatik di Museum Mpu Tantular ini dibimbing oleh sejumlah seniman lukis Kota Delta. Juniarto, yang dikenal sebagai koodinator Komunitas Perupa Delta, menjadi pembimbing utama. "Kita ingin tunjukkan bahwa seni rupa itu sangat luas. Batik ini juga termasuk seni rupa," katanya. 

(sb/rek/rek/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia