Senin, 23 Oct 2017
radarsurabaya
icon featured
Persona Surabaya
Haris Rizky, Pendongeng Surabaya

Semangat Hidupkan Kebiasaan Mendongeng, Nabung untuk Beli Kostum

Minggu, 08 Oct 2017 08:00 | editor : Abdul Rozack

Haris Rizky, Pendongeng Surabaya

LUCU: Mengenakan atribut badut komplit dengan bonekanya, Haris Rizky menyampaikan dongeng pada anak-anak yang hadir di acara road show Lomba Kampung Pendidikan Kampunge Arek Surabaya (KPKAS) di RW 07 Kelurahan Perak, Kecamatan Semampir, Sabtu siang (7/10) (ANGGUN ANGKAWIJAYA/RADAR SURABAYA)

Ada pemandangan lain saat road show Lomba Kampung Pendidikan Kampunge Arek Surabaya (KPKAS) di RW 07 Kelurahan Perak, Kecamatan Semampir,  Sabtu siang (7/10). Seorang badut tampak sedang mendongeng di depan anak anak SD.  Siapa dia?
ANGGUN ANGKAWIJAYA-Wartawan Radar Surabaya
Penampilannya lucu dengan rambut keriting putih dan hidung mancung serta kacamata. Tangan kanannya menggendong boneka bernama Ayis.
Pak Badut pun mengajak anak-anak mendengarkan dongeng yang disampaikannya. Kali ini Pak Badut bercerita tentang monyet nakal yang suka mencuri pisang pak tani. Suatu hari pak tani mau memanen pisang, namun buah tersebut sudah tidak ada. Usut punya usut ternyata dicuri oleh seekor monyet.
Pak tani pun berhasil menangkap monyet nakal tersebut. Setelah diberitahu jika mencuri itu tidak baik, akhirnya si monyet ini meminta maaf dan tidak akan mengulanginya lagi.
Anak-anak pun begitu memperhatikan. Mereka merespons pertanyaan yang diajukan Pak Badut usai mendengarkan dongeng tersebut. Pak Badut pun puas karena pesan moral dan kebaikan yang disampaikan kepada anak-anak berhasil.
Lelaki yang mengenakan kostum badut yang disapa pak Badut itu bernama Haris Rizky.  Pria 34 tahun ini sehari-harinya bekerja sebagi pendongeng anak dari Tim Pelayanan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota  Surabaya.
Pegawai Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surabaya ini mengaku menjadi pendongeng untuk anak- anak sejak 2005 yang lalu. Bersama tim dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surabaya, dia blusukan dari kampung satu ke kampung lainnya. “Tapi, kalau diminta mendongeng di luar jam kerja, boleh saja,” kata Haris.
Awalnya dia tak mengenakan kostum khusus.  Hasilnya anak-anak pun kurang tertarik untuk mendengarkan dongeng yang disampaikannya. “Akhirnya saya kreasi sendiri. Kostum beli sendiri,” akunya.
Haris mulai mengenakan kostum saat mendongeng pada 2009 lalu. “Saya nabung dulu. Harga kostumnya nggak murah,” ungkapnya.
Ada kostum badut, punawakan, kakek sihir,  dan anoman.  “Hasilnya anak-anak lebih senang dan tertarik untuk mendengarkan dongeng yang saya sampaikan,” kata Haris
Alumni Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Negeri Surabaya (Unesa) ini mendongeng berdasarkan kisah sehari-hari yang gampang dicerna oleh anak-anak. “Yang penting pesan moral dan kebaikan sampai kepada mereka,” ucap Haris.
Ia mengaku senang mendongeng karena banyak anak-anak zaman sekarang yang mendapat cerita kurang mendidik. Dari sinetron, mendengarkan orang bicara, dari internet ataupun lainnya. “Mendongeng zaman sekarang seperti barang langka. Ini dampak dari orangtua yang terlalu sibuk, sehingga mereka tidak ada waktu untuk mendongeng bagi anak-anaknya,” jelas Haris.
Dengan belajar secara otodidak, Haris bisa menjadi pendongeng. Dia sudah banyak membaca buku tentang bagaimana cara mendongeng yang baik dan melihat di internet.
Haris mengaku sudah sering blusukan di wilayah Surabaya. Namun, daerah Tandes belum sempat dijelajahi untuk mendongeng. “Saya ingin para orangtua bisa mendongeng untuk anak-anaknya. Saya juga ingin anak-anak zaman sekarang bisa mendongeng,” ungkapnya.
Untuk mewujudkan impiannya, Haris mendirikan perkumpulan pendongeng di rumahnya di Jalan Surabayan. “Saya membuka kesempatan kepada siapa saja untuk belakar menjadi pendongeng,” ujar Haris. 
Haris mengaku sering dimintai anak-anak di sekitar rumahnya. “Lagi nongkrong diminta dongeng. Ya sudah, dilayani saja,” ucapnya sambil tersenyum.

(sb/jpg/jek/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia