Sabtu, 25 Nov 2017
radarsurabaya
icon featured
Gresik

Tiga Saksi JPU Ringankan Dirut PT Garam

Selasa, 12 Sep 2017 10:58 | editor : Aries Wahyudianto

KURSI PANAS : Dirut PT Garam Ahmad Budiono, Saat Mendengarkan Keterangan Saksi Di Pengadilan Negeri Gresik.

KURSI PANAS : Dirut PT Garam Ahmad Budiono, Saat Mendengarkan Keterangan Saksi Di Pengadilan Negeri Gresik. (Yudhi/Radar Gresik)

KEBOMAS –Kasus penyalahgunaan garam impor yang menjerat Direktur Utama (Dirut) PT Garam Ahmad Budiono terus berlanjut. Dalam sidang kemarin, Jaksa Penuntut Umum (JPU) mendatangkan tiga orang saksi yang berasal dari internal PT Garam. Hasilnya, ketiganya-ketiganya memberikan kesaksian yang meringankan terdakwa.

Tiga saksi tersebut antara lain, Kepala Biro Keuangan PT Garap Dede, Kepala Biro Pemasaran PT Garam Moh Syafrani serta Staf Kementrian Perdagangan Anik Wulianto. Ketiga saksi memberikan keterangan terkait menyangkut impor garam industri dari Australia dan India yang menjerat terdakwa Dirut PT Garam, Ahmad Budiono.

“Mengenai alasan impor garam dari Australia dan India lantaran adanya gagal panen karena masih hujan. Makanya Juni kita putuskan untuk mengimpor garam,” ujar Kepala Biro Keuangan PT Garam Dede.

Sementara itu, saksi kedua Kepala Biro Pemasaran PT Garam Moh Syafrani mengatakan jika selama pemasaran garam belum ada keluhan dari konsumen terkait garam impor tersebut. "Kalau di Australia, tidak ada penggolongan itu. Setahu saya, Naclnya tinggi semakin baik tinggal diberikan iodium pada saat proses produksi," beber Syafrani.

Sementara itu, pengacara terdakwa Maha Awan Buana mengatakan dari kesaksian tersebut sudah terbukti jika kliennya tidak menyalahi proses impor. “Saya tadi bertanya pada saksi dari kementrian perdagangan, kalau prosedur memakai garam impor ini ada yang tidak sesuai prosedur. Harusnya pada impor sebelumnya sudah ada tindakan. Namun saksi tidak bisa menjawabnya,” ujar Maha Awan Buana.

Ia menilai apa yang dilakukan kliennya sudah sesuai aturan. Dimana impor tersebut dilakukan agar tidak terjadi kelangkaan garam lantaran gagal panen. “Sebelumnya kan sudah disampaikan oleh saksi kedua, mengenai gagal panen. Bayangkan saja, jika harus tender lagi, proses itu memerlukan waktu tiga bulan. Kalau masih dilakukan, dampaknya akan meluas. Semuanya akan protes mengenai kelangkaan garam,” bebernya.

Terpisah, Jaksa Lyla Yurifa mengatakan, dalam agenda sidang selanjutnya pihaknya bakal kembali mendatangkan saksi. Rencananya bakal menghadirkan saksi dari pihak kepolisian. "Iya masih saksi," ujar Lyla, didampingi tiga jaksa lain Novie, Hadi Sucipto dan Budi Prakoso. (fit/rof)

(sb/ris/ris/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia