Kamis, 23 Nov 2017
radarsurabaya
icon featured
Hukum & Kriminal

Gagal Kirim Sabu-sabu Lantaran Ban Kempes

Selasa, 12 Sep 2017 07:30 | editor : Abdul Rozack

JADI SELEBRITI: Margiharjo (tengah) dikawal Wakasat Narkoba Polrestabes Surabaya Kompol Anton Prasetyo (kanan) keluar dari ruang tahanan diabadikan wartawan televisi.

JADI SELEBRITI: Margiharjo (tengah) dikawal Wakasat Narkoba Polrestabes Surabaya Kompol Anton Prasetyo (kanan) keluar dari ruang tahanan diabadikan wartawan televisi. (YUAN ABADI/RADAR SURABAYA)

SURABAYA-Ibarat cerita dalam novel, perjalanan yang ditempuh Margiharjo, 37, harus berliku. Perjalanannya mengantar narkoba jenis sabu-sabu (SS) tidak mulus. Sebab warga Jalan Pucang Arjo Kertaya itu gagal mencapai tujuan, yakni mengantar SS kepada kliennya di kawasan Raya Nginden, Semolowaru.

Penangkapan Margiharjo tergolong mulus. Masalahnya pria yang bekerja serabutan di persewaan sound system itu sudah menjadi target operasi (TO) polisi. akibatnya, saat melintas di kawasan Raya Nginden dia dibekuk polisi, Sabtu 26/8).

“Dia sudah lama menjadi TO lantaran sudah cukup lama mengedarkan SS. Kami langsung mengintai tersangka begitu mendapat informasi rencana transaksi yang dilakukan tersangka,” terang Wakasat Narkoba Polrestabes Surabaya Komisaris Polisi (Kompol) Anton Prasetyo, Senin (11/9).

Sebetulnya polisi sudah menyanggong tersangka cukup lama. Hanya saja Margiharjo tidak muncul-muncul ketika ditunggu-tunggu. Polisi memutuskan mobile, dengan menyusuri rute yang dilalui Margiharjo. 

“Kami mendapati tersangka mendorong atas motornya yang kempes. Saat itu kami langsung membekuk tersangka dan menemukan tiga poket SS seberat 2,82 gram. Barang tersebut ia sembunyikan di saku celana kanan tersangka,” lanjutnya.

Mantan Kapolsek Asemrowo ini menyeret tersangka ke rumah kosnya di kawasan Jalan Semolowaru dan kembali menemukan barang bukti lain, yakni lima poket besar ss dengan seberat 24,85 gram. “Kami juga menyita buku catatan transaksi, timbangan eletrik, dan sebuah klip kosong untuk mengemas SS,” lanjutnya. 

Margiharjo sendiri mengaku sudah setahun menjadi pengedar SS. Dia mengaku mendapatkan SS dari pengedar lain yang berinisial RZ (DPO). Meski sebagai pengedar, namun ia kerap diminta RZ untuk mengantarkan SS dengan upah Rp 50 ribu per gram. 

“Penghasilan utama saya sebagai tukang sound system masih kurang. Lumayan buat tambah-tambah,” ungkap mantan pengamen jalanan ini. Kini perjalanan Margiharjo harus terhenti di penjara.

(sb/yua/jek/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia