Kamis, 23 Nov 2017
radarsurabaya
icon featured
Iso Ae

Ikut Komunitas Pengajian, Donjuan jadi Suka Pakai Gamis dan Sok Kemayu

Selasa, 12 Sep 2017 05:25 | editor : Abdul Rozack

Ikut Komunitas Pengajian, Donjuan jadi Suka Pakai Gamis dan Sok Kemayu

Entah kesambat apa si Donjuan, 43. Ia berubah drastis jadi agak kewanita- wanitaan setelah mengikuti komunitas keagamaan. Ia berdalih pria yang memakai gamis karena untuk mengikuti anjuran imamnya. 

Umi Hany Akasah-Wartawan Radar Surabaya

Istri Donjuan, sebut Karin  37, menilai pemikiran Donjuan sudah jauh dari ajaran kebenaran. Donjuan menilai gamis, sama dengan jubah sehingga bisa dipakai pula oleh seorang pria.

"Penampilan suami jadi menakutkan, kayak wanita tapi brengosen," kata Karin di sela sela gugatan cerai di Pengadilan Agama (PA), Klas 1A Surabaya, kemarin.

Karin pun mulai kesal. Apalagi, suaminya sampai nekat risegn kerja demi komunitas yang ia ikuti. Donjuan memulai membuka bisnis online dan menjual busana-busana dari komunitasnya.

Suaminya aktif dalam komunitasnya setiap malam minggu. Kegiatan dilakukan dengan berkeliling dari rumah anggota komunitasnya. 

"Ngaji-ngaji biasa, tapi mereka laki-laki pakai gamis panjang. Kadang ada beberapa yang pakai kerudung dislempangkan," paparnya.

Wanita yang tinggal di kawasan Kapasari itu pun sebenarnya suka dengan komunitas tersebut. Suaminya lebih alim dan tidak neko neko. Yang membuat Karin sebal yakni suaminya jadi suka membeli gamis yang harganya mahal. 

Uang kerja bisnis jualan baju dan perhiasan secara online dijual dan dibelikan gamis, kemudian dipakai di kamar dan saat bertemu dalam pertemuan komunitas.

"Saya melihatnya suami sudah keterlaluan, kalau hanya pakai gamis enggak masalah, ini sekarang penampilannya tambah parah. Sok kemayu. Bisa bisa gamis itu hanya jadi penutup tabu kalau dia berubah hombreng," kata ibu satu anak itu. 

Sementara Donjuan mengaku tidak seperti yang dituduhkan istrinya. Ia berlaku normal dan membeli gamis untuk bisnis onlinenya. "Saya beli hanya untuk coba pantes apa gak, setelah itu  saya jual kembali," papar pria yang dulu bekerja di bidabng ekspor impor itu. 

Sedangkan, untuk komunitasnya memang diberlakukan untuk memakai gamis sehingga dalam berdoa tetap khusuk dan sesuai peraturan komunitas. "Kalau di jalan ya enggak pakai gamislah, malu," pungkasnya.

(sb/han/jek/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia