Jumat, 24 Nov 2017
radarsurabaya
icon featured
Ekonomi
Harusnya Mulai 2017 dan Beroperasi 2019

Jauh dari Realisasi, Perluasan Bandara Tunggu Kajian Kemenhub

Senin, 11 Sep 2017 18:20 | editor : Abdul Rozack

BERI LAYANAN: Salah satu pesawat yang siap memberangkatkan para penumpang. Untuk memberikan layanan prima, perluasan bandara rencananya akan dilakukan meski saat ini masih menunggu kajian Kemenhub.

BERI LAYANAN: Salah satu pesawat yang siap memberangkatkan para penumpang. Untuk memberikan layanan prima, perluasan bandara rencananya akan dilakukan meski saat ini masih menunggu kajian Kemenhub. (SATRIA NUGRAHA / RADAR SURABAYA)

SURABAYA - Pembangunan terminal 3 Bandara Internasional Juanda tampaknya masih jauh dari realisasi. Pasalnya, hingga kini pembangunannya masih dalam tahap studi kelayakan dan penyusunan detail engineering desain (DED). 

Kepala Dinas Perhubungan Jawa Timur (Dishub Jatim) Wahid Wahyudi mengatakan, PT Angkasa Pura I selaku operator Bandara Juanda, sudah punya rencana untuk pengembangannya. "Bahkan sudah masuk tahap studi kelayakan dan penyusunan DED," ujar Wahid, Minggu (10/9). 

Diakui Pemprov Jatim memang berharap bahwa terminal 3 Juanda serta penambahan runway bisa segera dibangun. Kendati demikian, dirinya belum mendapat informasi kapan hal itu terealisasikan. 

Sebab, peranan Pemprov sendiri hanyalah kordinasi terkait masukan terhadap titik kordinat lahan yang dibutuhkan. Serta penyediaan tata ruang yang dibutuhkan. Sedangkan penyedia anggaran adalah PT Angkasa Pura. Termasuk penyediaan dokumen terkait pembangunan pengembangan bandara. 

"Anggaran belum atau tidak ada itu tergantung Angkasa Pura I. Tidak dari APBD atau APBN, tapi murni dari Angkasa Pura. Saat ini baru tahap perencanaan. Setelah itu pembebasan lahan," tegasnya.  

Wahid menuturkan, pembangunan pengembangan Bandara Juanda ini masih dalam tahap pembahasan di Kementrian Perhubungan. Meski begitu, dia tak menampik bahwa kondisi bandara di Sidoarjo tersebut telah overload atau melebihi kapasitas. Dengan hanya terminal I dan II, juga satu landasan pacu. Masih dirasa kurang. 

Mengingat kapasitas dua terminal itu hanya 12,5 juta penumpang pertahun. Padahal di 2016 lalu, jumlah penumpang mencapai 19 juta lebih. "Begitu juga Juanda hanya punya satu runway untuk dua kepentingan. Yakni kepentingan pemberian layanan penumpang umum dan militer. Saat keduanya berjalan bersamaan, terjadi kepedatan di runway," bebernya. 

Wahid mencatat, saat ini dari satu landasan pacu, jarak antara pesawat take off dengan landing mencapai 1 menit 20 detik. Angka tersebut bisa dikatakan cukup padat. Oleh karena itu kebutuhan landasan pacu kedua sangat mendesak. Selain tentunya pembangunan gedung terminal 3. 

Sebelumnya, Gubernur Jatim Soekarwo mengatakan, progres pengembangan Bandara Internasional Juanda sampai saat ini belum terlaksana. Proses pengerjaan yang semestinya dimulai tahun ini pun, belum tampak. 

Dirinya mengaku sudah rapat dengan pemeritah pusat, Red dan telah disetujui pengembangannya. Tapi progresnya belum jalan hingga saat ini. Pengembangan Bandara Internasional Juanda, termasuk pembangunan terminal 3, seharusnya sudah bisa dioperasikan 2019 mendatang. Bahkan, detail engineering desain (DED) proyek tersebutt sudah selesai dan disetujui. 

Begitu juga dengan tanahnya yang akan digunakan, telah diserahkan dari Bupati Sidoarjo Saiful Ilah ke pemerintah pusat melalui Pemprov Jatim. Tinggal pengerjaan fisiknya saja, yang semestinnya mulai 2017. 

(sb/bae/jek/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia