Sabtu, 25 Nov 2017
radarsurabaya
icon featured
Persona

Prof. Dr. Ir. Hari Suprapto, M. Agr, Guru Besar FPK UNAIR

Makenaide Kudasai: Jangan Sampai Kita Kalah

Kamis, 17 Aug 2017 00:00 | editor : Abdul Rozack

Prof. Dr. Ir. Hari Suprapto, M. Agr, Guru Besar FPK Universitas Airlangga

Prof. Dr. Ir. Hari Suprapto, M. Agr, Guru Besar FPK Universitas Airlangga (Via/Radar Surabaya)

Makenaide kudasai. Semboyan Jepang ini artinya: jangan sampai kita kalah. Menurut Prof. Dr. Ir. Hari Suprapto, M. Agr, semboyan Negeri Sakura ini sangat pas untuk diterapkan oleh generasi muda Indonesia di era persaingan global seperti sekarang. Jangan sampai kita kalah dengan generasi muda bangsa lain. Terutama di bidang pendidikan. Berikut petikan wawancara jurnalis Radar Surabaya, Via Nita Wicitra dengan Guru Besar Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) Universitas Airlangga (Unair) tersebut, mengenai pentingnya bekerja keras untuk mengisis kemerdekaan  agar tidak kalah dengan negara lain. 

Merdeka, Prof. Hari?

Merdeka.

BuaH HaTi: Bagi Prof. Hari Suprapto, Kedua putrinya akiko Chira Cahayani (kanan) dan risa Titis Wijayanti yang kini menjadi dokter adalah suatu kebanggaan bagi dia dan istrinya.

BuaH HaTi: Bagi Prof. Hari Suprapto, Kedua putrinya akiko Chira Cahayani (kanan) dan risa Titis Wijayanti yang kini menjadi dokter adalah suatu kebanggaan bagi dia dan istrinya. (Via/Radar Surabaya)

Menurut Prof. Hari, apa makna kemerdekaan itu?

Secara umum saya mengartikan merdeka itu bebas dari penjajahan bangsa asing. 

Usia kemerdekaan Indonesia tahun ini sudah menginjak angka ke-72. Tahun ini peringatan HUT Kemerdekaan RI mengangkat tema Indonesia Kerja Bersama. Menurut Prof. Hari, apa makna yang terkandung dalam tema tersebut?

Indonesia masih tergolong muda umurnya bila dibandingkan dengan negara lain. Contohnya Amerika Serikat yang sudah merdeka selama 241 tahun. Jadi, untuk menuju dewasa, Indonesia harus banyak dibenahi. Misalnya, kalau mau memberantas korupsi atau kemiskinan itu, semua butuh proses. Contohnya saja Amerika yang merupakan negara maju saja membutuhkan waktu 50 tahun untuk memberantas korupsi.

Kelebihan dan kekurangan Indonesia di usia sekarang?

Kelebihan orang Indonesia itu ulet. Hal itu bisa dilihat pada masyarakat lapisan bawah yang semangat mencari nafkahnya sangat tinggi, Bisa dicontohkan penjual sayur di pasar. Pasti berangkatnya sebelum subuh. 

Tapi, kekurangannya orang Indonesia itu juga malas. Sumber daya alam Indonesia sangat luar biasa. Gara-gara iklim, juga membuat orang malas (iklim tropis, Red). Di Jepang, kalau musim panas juga malas kerja. Oleh karena itu ada yang namanya liburan musim panas. Di sana (Jepang, Red) liburan musim panas 40 hari. Kalau di Indonesia, hanya ada 2 musim. Makanya banyak orang malas kerja, juga karena kepanasan. 

Prof. Hari menempuh pendidikan S2 dan S3 di Jepang. Kenapa tidak kerja di sana saja? Kok malah kembali ke Indonesia?

Sebetulnya saya sudah PNS pas menjalani pendidikan S1. Kemudian saya itu dikuliahkan oleh pemerintah dengan beasiswa Jepang (beasiswa Monbusho, Red) selama 7 tahun. Dari 1991 hingga 1997. Kalau di Indonesia seperti Departemen P&K. Ya, saya merasa, saya dikuliahkan oleh pemerintah. Kalau sudah selesai, ya harus kembali. Itu yang namanya jaga amanah.

Apa yang Prof. Hari lakukan untuk mengisi kemerdekaan?

Kerja keras dan tekun di bidang masing-masing untuk menghasilkan sesuatu. Kalau saya yang bidangnya sebagi pengajar, saya ya bekerja keras untuk mendidik mahasiswa saya. Kemudian, saya tekun menghasilkan penelitian-penelitian baru yang akan dijadikan jurnal ilmiah.

Bagaimana cara Prof. Hari menyampaikan arti kemerdekaan ke mahasiswa? Karena sekarang ini banyak mahasiswa yang tidak tahu sejarah Indonesia. Mereka tidak paham, bagaimana sulitnya meraih kemerdekaan.

Saya selalu menyampaikan kepada para mahasiswa untuk selalu belajar sungguh-sungguh, bekerja keras dan berakhlak mulia. Karena kejujuran dan akhlak mulia akan diterima di mana-mana, serta bisa bermanfaat bagi nusa dan bangsa.

Momen atau karya apa yang paling berkesan selama Prof. Hari meniti karir?

Momen berkesan waktu saya kuliah di Hirosima. Tepatnya saat diajari cara membuat vaksin. Karena di sana saya diajari menjadi orang mandiri. Benar-benar mandiri karena cara pengajarannya hanya diberi tema, kemudian belajar sendiri. Tiap satu bulan buat laporan. Sudah sampai mana tugasnya. Beda kalau di Indonesia. Di sini masih belum bisa diterapkan sistem seperti itu.

Apakah Prof. Hari memiliki tokoh panutan?

Ada. Prof. Nakai. Beliau pembimbing saya waktu di Hirosima. Awalnya Prof. Nakai tanya, “Kamu ke Jepang mau apa?” Saya jawab jika ingin belajar, biar pintar dan bisa berkarya saat pulang nanti. Prof. Nakai berkata, “Cikara, kekuatan.” Maksudnya, jadikan itu sebagai motivasimu di sini (Jepang, Red). Juga disampaikan semboyan: makanaide kudasai. Artinya: jangan sampai kalah. Jangan mau kalah dengan yang lainnya. Sejak saat itulah semboyan Jepang tersebut selalu menjadi pengingat dan penyemangat untuk bisa bersaing sekaligus bersemangat agar tidak kalah dari yang lain.

Apa masukan Prof. Hari tentang pembangunan Indonesia yang belum dicapai saat ini? Tepatnya setelah kemerdekaan.

Pendidikan satu-satunya jalan untuk membangun Indonesia. Khususnya dari segi kemiskinan. Dampak pendidikan belum bisa dirasakan dengan waktu singkat. Karena butuh proses. Setelahnya, lama-lama akan menjadi negara maju. 

Apa harapan Prof. Hari yang ingin diwujudkan di Indonesia ini?

Kemiskinan berkurang, dan pasti prosesnya panjang. Saya ingin Indonesia ada pemerataan. Seperti di Cina, tingkat pendapatan kurvanya seperti labu bentuknya. Kalau di Indonesia, kurvanya segitiga. Yang miskin, miskin banget. Yang kaya, kaya banget. Saya ingin ada pemerataan. Kalau cukup sandang, pangan, dan papan, maka kriminalitas akan berkurang.

Apa yang menjadi moto Prof. Hari?

Makenaide kudasai. Jangan sampai kalah. Itu yang menjadi moto di hidup saya. Saat itu pernah suatu ketiga saya ingin menyerah saat S3 di Hirosima. Tapi, saya ingat kata-kata itu dan juga dukungan istri menjadi penyemangat saat akan menyerah. Istri berkata jika saya harus lulus S3. Agar pas kembali, ilmu saya bisa bermanfaat di tanah air kita.

Apa yang bisa Prof. Hari sampaikan untuk memaknai Hari Kemerdekaan di Agusus 2017 ini? Menurut Prof. Hari, upaya apa yang harus dilakukan para pendidik agar setiap orang bisa memaknai Hari Kemerdekaan dengan baik?

Memberi contoh ke anak-anak di segala bidang. Contoh: sebagai dosen harus mengajar dengan sungguh-sungguh, tidak boleh berperilaku buruk. Baik dalam bertindak atau pun dalam hal berpakaian.

Kesan dan pesan apa yang ingin Prof. Hari sampaikan untuk mahasiswa Universitas Airlangga, khususnya Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK)?

Belajar giat dan makenaide kudasai. Jangan sampai kalah di bidang akademis. Karena pendidikan bisa mengubah segalanya. 

Prof. Hari sudah bergelar Guru Besar. Artinya, sudah mencapai tangga tertinggi sebagai seorang pengajar. Lantas, apa impian atau keinginan pribadi yang belum Prof. Hari raih selama ini?

Untuk tidak menjadi rakus. Lebih bersyukur atas apa yang sudah saya raih. Saya sadar diri, sebagai pengajar, semua yang sudah saya raih sudah cukup. Saya juga tidak ingin menghalalkan semua cara untuk menjadi lebih dan lebih lagi dalam kehidupan. Saya sudah senang cukup sandang, pangan, dan papan. Anak-anak sudah saya beri pendidikan yang baik. Anak pertama sudah menjadi dokter spesialis jantung di Rumah Sakit Universitas Airlangga. Yang kedua sekarang telah menjadi dokter umum di salah satu rumah sakit di Bojonegoro, dan satu tahun lahun lagi akan meneruskan ke dokter spesialisnya. Saya juga bersyukur memiliki istri yang pengertian. Karena selama 7 tahun saya menempuh pendidikan S2 dan S3, istrilah yang menemani suka duka saya di negara orang. Istri yang menjadi salah satu dosen di Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga, mengorbankan mengajarnya selama 7 tahun demi menemani saya di Hirosima. 

(sb/jpg/jek/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia