Rabu, 18 Oct 2017
radarsurabaya
icon featured
Surabaya

Harga Ikan Asin Melejit Akibat Garam Mahal

Minggu, 13 Aug 2017 06:30 | editor : Abdul Rozack

Harga Ikan Asin Melejit Akibat Garam Mahal

Sudah sebulan lebih harga garam melonjak. Tidak hanya 100 persen, tapi lebih. Kenaikan itu juga berimbas pada harga ikan asin. Harganya juga ikutan naik. Dua kali lipat lebih. Rasa ikan asin pun kian asin.

UMI HANY A/BAEHAQI AM - Wartawan Radar Surabaya 

Gagal panen tahun 2016 di daerah pusat produksi garam, berdampak pada kelangkaan garam di Indonesia. Harga garam pun bisa ditebak dengan mudah. Harganya naik di pasaran, karena demand lebih besar dari supply. Karena sekarang garam mahal, harga ikan asin pun ikutan mahal. Hal ini harus dimaklumi karena garam menjadi bahan utama pembuatan ikan asin.

Berdasarkan pantauan Radar Surabaya di sejumlah pasar tradisional, harga beberapa jenis ikan asin naik hingga dua kali lipat. Meski demikian, para penjual ikan tetap memenuhi stok ikan asin karena permintaannya cukup banyak.

Pegadang ikan asin Pasar Pegirikan, Sumiati mengatakan, sejak harga garam naik, harga ikan asin juga turut naik dua kali lipat. "Ikan asin banyak macamnya. Harganya naik semua. Tapi, tetap laku, kok. Karena banyak yang suka," kata Sumiati kepada Radar Surabaya, Jum'at (11/8).

Dipaparkannya, harga berbagai macam ikan asin yang dijual ada berbagai jenis.. Harga ikan asin jenis japuh yang sebelumnya Rp 70.000 per kilogram (kg), naik menjadi Rp 80.000 hingga Rp 90.000 per kg. Sedangkan, ikan asin tanpa kepala yang sebelumnya Rp 38.000 per kg, naik menjadi Rp 40.000 per kg.  Ikan asin belah, yang semula hanya Rp 10 ribu per kg, kini naik dua kali lipat menjadi Rp 20 ribu per kg.

Sementara itu, garam dapur beryodium kemasan plastik kecil yang  biasanya dijual Rp 1.000 per bungkus, naik menjadi Rp 2.000. Bahkan di beberapa toko,  dijual Rp 3.000 per bungkus. Ada pula yang  menjual garam krosok atau curah  kasar yang sebelumnya Rp 4.000 per kg, naik menjadi Rp 6.000 per kg. "Kalau ikan asin itu permintaannya dari hotel, restoran, warung gitu banyak. Sekarang ngetrennya kan makan nasi goreng asin, atau nyambel ikan asin," kata Sumiati.

Padagang berdarah Madura itu mengaku lebih senang jika harga garam tinggi karena banyak pembeli yang cari. "Saya juga cari sulit, tapi yang cari juga banyak," paparnya.

Naiknya harga garam akibat gagal panen tahun lalu, memang ikut dirasakan oleh pedagang ikan asin. Bahkan ada beberapa produsen ikan asin yang terpaksa menghentikan produksinya karena mahalnya harga garam. Setidaknya itu yang dirasakan oleh Zubaidah. Pedagang ikan asin di Pasar Pabean Surabaya ini begitu merasakan dampak dari melonjaknya harga garam. "Sepi sekarang. Tidak ada yang beli," ujar Zubaidah kepada Radar Surabaya, Jumat (11/8). 

Baca selengkapnya di edisi cetak Radar Surabaya, Minggu (13/8/2017)

(sb/han/bae/jek/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia