Sabtu, 21 Oct 2017
radarsurabaya
icon featured
Ekonomi

27.500 Ton Garam Impor dari Australia Dibongkar di Perak

Sabtu, 12 Aug 2017 08:20 | editor : Abdul Rozack

27.500 Ton Garam Impor dari Australia Dibongkar di Perak

SURABAYA-Impor garam dari Australia yang dilakukan oleh PT Garam sebesar 75 ribu ton mulai berdatangan di Indonesia. Jumat (11/8) malam, sebanyak 27.500 ton garam impor dibawa oleh kapal MV Golden Kiko untuk dibongkar di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, 

Hal itu seperti diungkapkan Anang Abdul Qoyyum, Direktur Keuangan PT Garam yang dihubungi Radar Surabaya, Jumat (11/8). Menurut dia, sebenarnya ada tiga kapal yang membawa garam dari Australia untuk dibagi ke tiga wilayah pelabuhan yang ditunjuk pemerintah, yakni Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, Pelabuhan Belawan Medan, dan Pelabuhan Ciwandan Banten. 

”Yang datang dan diturunkan di Pelabuhan Tanjung Perak sebesar 27.500 ton. Garam impor ini akan didistribusikan untuk IKM (industri kecil dan menengah) di wilayah Jatim, Jateng, dan Kalimantan Barat,” papar Anang. 

Sisanya, lanjut dia, sebanyak 25 ribu ton sudah datang lebih dulu di Pelabuhan Ciwandan Banten pada Kamis (10/8). Garam impor yang dibongkar di pelabuhan ini untuk didistribusikan ke wilayah Jawa Tengah, DKI, dan Jawa Barat.  

Selanjutnya, kata Anang, kedatangan ketiga menggunakan Kapal MV Uni Challenge dan dijadwalkan tiba pada 21 Agustus 2017 di Pelabuhan Belawan, Medan. Kapal ini  membawa garam 22.500 ton yang oleh PT Garam akan disebar ke sejumlah IKM di wilayah Sumatera dan sekitarnya.

”Kami berharap dengan masuknya garam impor dari Australia ini, harga (garam) di wilayah Indonesia Timur, seperti Jatim, Jateng, dan Kalbar bisa menekan turun Rp 4.500 hingga Rp 5.000 per kilogram,” kata dia. 

Anang menegaskan, pihaknya saat ini tengah melakukan verifikasi sejumlah IKM yang ada di tiga wilayah tersebut. Tujuannya, agar tidak ada IKM abal-abal yang menerima garam impor Australia yang merupakan program penugasan dari pemerintah. 

Sementara itu, Ketua Asosiasi Petani Garam (APG) Jatim, Muhammad Hasan mengatakan impor garam yang dilakukan PT Garam jangan sampai menggangu produksi petani garam di Indonesia. ”Ini harus benar didistribusikan kepada IKM yang membutuhkan, jangan yang abal-abal,” kata dia. 

Hasan berharap pemerintah sudah tidak lagi melakukan impor garam setelah ini. Pasalnya, mulai September dan Oktober, Jawa Timur sudah memulai panen garam. ”Saat ini sudah siap panen, rencananya ada 2,5 juta ton yang akan dipanen petani garam di Indonesia. Ini sudah mampu memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia sebesar 1,6 juta ton per tahun,” tegas Hasan.

(sb/han/jek/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia