Rabu, 18 Oct 2017
radarsurabaya
icon featured
Gresik

Produk KPR Mikro BTN Kurang Diminati

Jumat, 11 Aug 2017 09:04 | editor : Aries Wahyudianto

KURANG : Produk KPR mikro untuk rumah dari BTN ternyata kurang diminati.

KURANG : Produk KPR mikro untuk rumah dari BTN ternyata kurang diminati. (YUDHI/RADAR GRESIK)

KEBOMAS - PT Bank Tabungan Negara (BTN) mengaku produk Kredit Pemilikan Rumah (KPR) Mikro untuk sektor informal kurang diminati. Ini terlihat dari jumlah KPR Mikro yang telah disetujui kredit oleh BTN, tidak ada satupun berasal dari Kabupaten Gresik.

Deputi Branch Manager Bank Tabungan Negara (BTN) Gresik, Tubagus Erik mengatakan, hingga semester I/2017 jumlah penyaluran KPR Mikro BTN sebanyak Rp 5,6 miliar. Jumlah ini setara dengan 53 unit rumah.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 40 rumah diajukan oleh nasabah area Lamongan dan sisanya nasabah di area Tuban. “Untuk nasabah Gresik tidak ada yang mengajukan program ini (KPR mikro,red),”ujar Erik.

Dijelaskan, ada banyak faktor yang membuat sektor informal di Gresik enggan memanfaatkan program ini. Salah satunya persyaratan harus memiliki lokasi usaha sendiri dengan minimal telah beroprasi lima tahun. Ini nantinya akan menjadi jaminan bank manakala terjadi kondisi gagal bayar.

“Rata-rata pedagang dan nelayan menolak saat kami tawari hal tersebut. Mereka takut terjadi sesuatu dengan usahanya yang membuat tidak bisa membayar angsuran,” jelasnya.

Sementara itu, Asosiasi Pengembang Perumahan dan Pemukiman (Apersi) Gresik, Koko Wijayanto menuturkan, sebenarnya sektor pekerja informal adalah segmen yang cukup empuk untuk memasarkan produk rumah. Ini dikarenakan jumlah pekerja informal di Gresik mencapai 369 ribu pekerja. “Survei BPS menyebut sektor ini memberikan kontribusi sekitar 27 persen terhadap penjualan rumah di Gresik akibat kuatnya daya beli mereka,” ujarnnya.

Namun demikian, tren yang terjadi belakangan ini sektor pekerja informal memilih untuk menginvestasikan dananya ke sektor non properti. Seperti kendaraan dan perhiasan. “Inilah yang saat ini menjadi tantangan pengembang dan perbankan untuk melakukan penetrasi agar pekerja informal ini mau membeli rumah,”tandasnya. (fir/ris)

(sb/ris/ris/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia