Rabu, 18 Oct 2017
radarsurabaya
icon featured
Lifestyle

Keberhasilan Bayi Tabung hingga 33 Persen

Rabu, 02 Aug 2017 20:52 | editor : Wijayanto

BAHAGIA: Pasangan Vivi Aria Nursella dan Eko Ardian Ivan Dewangga, salah satu pasien bayi tabung asal Ponorogo yang sukses mendapat kehamilan pertamanya.

BAHAGIA: Pasangan Vivi Aria Nursella dan Eko Ardian Ivan Dewangga, salah satu pasien bayi tabung asal Ponorogo yang sukses mendapat kehamilan pertamanya. (Phaksi Sukowati/Radar Surabaya)

SURABAYA-Teknologi medis dalam program bayi tabung yang ada di Surabaya kini semakin mutakhir. Calon pasien tak perlu lagi pergi ke luar negeri untuk mengikuti program tersebut. Jumlah pasien bayi tabung pun terus bertambah setiap tahunnya.

Perasaan malu dan tabu dewasa ini mulai dikesampingkan masyarakat demi mendapatkan keturunan. Bila beberapa tahun lalu, memiliki anak melalui bayi tabung menjadi sesuatu yang tabu dan memalukan. Namun, kini jumlah pasangan yang memilih jalan upaya dengan bayi tabung terus meningkat.

Masyarakat telah membuka diri dan memanfaatkan berkembang teknologi dalam metode kedokteran sebagai salah satu alternatif mendapatkan keturunan dari pasangan sah dalam ikatan pernikahan.

Kini banyak rumah sakit ataupun klinik berdiri di Kota pahlawan yang menawarkan program klinis premium tersebut. Salah satunya Morula IVF Surabaya (MIS). Klinik yang sebelumnya berada di kawasan Bogowonto itu kemarin (31/7) resmi menempati gedung baru di National Hospital Surabaya.

Klinik bayi tabung ketiga dari lima klinik Morula yang ada di Indonesia ini diperkuat ahli andrologi yang cukup berpengalaman. Di antaranya adalah Dr. dr Amang Surya, SpOG, Dr. Ali Mahmud, SpOG (K) dan Dr. Benediktus Arifin, MPH, SpOG.

Amang mengungkapkan, sejak awal berdiri, kunjungan ke MIS meningkat lebih dari 2 kali lipat dalam setiap tahunnya. Sedangkan angka keberhasilan kehamilan rata-rata 27 persen hingga 33,3 persen. “Angka keberhasilan kehamilan ini cukup tinggi karena kami menganut prinsip high end dan hig tech di mana alat-alat tercanggih yang ada di dunia saat ini ada juga kami miliki," ujarnya.

Sejak berdiri pada November 2012 lalu, MIS sudah membantu 600 pasangan melalui program bayi tabung ini. Klinik ini menawarkan sejumlah metode terbaru mulai dari PGS (preimplantation genetic screening) hingga IMSI (intracytoplasmic morphologically selected sperm injection) dan time-lapse. 

IMSI menjadi salah satu metode andalan lantaran pengamatan sel sperma bisa dilakukan pembesaran secara morfologi dalam 6 ribu kali. "Bila sebelumnya kami hanya bisa memperbesar wujud sperma 4 kali ini jauh lebih besar. Jadi kami bisa lebih selektif melihat kondisi sperma yang secara kasat mata paling aktif dan berkualitas,” ujar dr Amang saat Grand Opening Morula IVF Surabaya, Senin (31/7).

Selain itu, kini juga terdapat laser mikron yang dimanfaatkan untuk memasukkan sel yang sudah terseleksi paling baik ke dalam sel telur. Laser mikron ini sangat kecil sehingga tak kasat mata oleh pandangan biasa.

Salah satu pasien program bayi tabung yang berhasil mendapat kehamilan pertamanya adalah pasangan asal Ponorogo Vivi Aria Nursella, 24 dan Eko Ardian Ivan Dewangga, 27. Pasangan nikah muda ini sudah lima tahun berumah tangga namun mengalami kesulitan mendapatkan keturunan. Setelah menjalani konseling pertamanya, ternyata diketahui suami, Eko Ardian mengalami asthenoteratozoospermia, kondisi di mana bentuk sperma dan gerakannya yang normal jumlahnya sangat sedikit.

Alhasil keduanya memutuskan mengikuti program bayi tabung (IVF) dengan pendampingan dokter selama satu bulan penuh. Upaya tersebut pun akhirnya membuahkan hasil sehingga Shella kini menjalani kehamilan di bulan ke tiga.

Pasangan ini ini mengaku telah merogoh kocek mencapai lebih dari Rp 100 juta demi menjalani program ini. Pasangan muda ini juga harus rela menetap kost satu bulan di Surabaya kemudian bolak-balik Ponorogo-Surabaya untuk menjalani kontrol kandungan. 

“Daripada kami hanya berobat dan berobat tanpa tahu kapan bisa mendapatkan keturunan, akhirnya kami sepakat program bayi tabung. Apalagi ini didukung keluarga. Kami tidak ingin buang-buang waktu,” ujar Sella.

Program selama satu bulan mulai dari konseling awal hingga penanaman. Embrio itu berhasil. Shella mengaku bersyukur dan tidak mempermasalahkan terkait biaya maupun pantangan yang diberikan dokter selama menjalani program. “Biaya tidak kami permasalahkan. Kami bersyukur bisa berhasil. Maunya sih kami kembar, tapi kalau kembar menunggu sebulan lagi. Kami sudah tidak sabar. Akhirnya satu saja tidak apa-apa. Yang penting bisa berhasil,” ujar Shella.

Shella, mengaku memang harus mematuhi semua yang disarankan dan dilarang dokter. Misalnya masalah makanan serta hal-hal yang boleh dan tidak boleh dikerjakan. Kini di usia kandungannya yang sudah memasuki tiga bulan, pantangan sedikit melonggar. Pantangan-pantangan makanan kini sudah boleh dimakannya, salah satunya cokelat.

“Alhamdulillah sudah memasuki kontrol terakhir. Tinggal nanti periksa kehamilan di Ponorogo saja, dan semoga bisa melahirkan di Ponorogo,” tambahnya.

Bagi Shella dan Eko yang merupakan pengusaha swasta ini, program bayi tabung ini bukan sesuatu yang memalukan. Namun, memiliki keturunan ialah tujuan segalanya dalam sebuah keluarga. 

“Salah satu alternatif untuk bisa mendapatkan keturunan sendiri, walau secara alami tidak mampu dilakukan. Kami tidak bisa melakukan sendiri, tidak ada salahnya meminta bantuan orang lain,” tandas Eko. (*)

(sb/psy/jay/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia