Sabtu, 21 Oct 2017
radarsurabaya
icon featured
Lifestyle

Pengalaman Spiritualitas Malah Langgengkan Pelacur Jalanan

Rabu, 02 Aug 2017 07:05 | editor : Abdul Rozack

TANDA KELULUSAN: Prof Bagong Suyanto (tengah) memberi tanda kelulusan kepada Dr Mohammad Suud, MA disaksikan Prof Ida Bagus Wirawan (kiri) setelah menjalani ujian terbuka doktor di Ruang Adi Sukadana Kampus B, Fisip Unair, Jumat (28/7).

TANDA KELULUSAN: Prof Bagong Suyanto (tengah) memberi tanda kelulusan kepada Dr Mohammad Suud, MA disaksikan Prof Ida Bagus Wirawan (kiri) setelah menjalani ujian terbuka doktor di Ruang Adi Sukadana Kampus B, Fisip Unair, Jumat (28/7). (ISTIMEWA)

SURABAYA – Penelitian yang menyebutkan Pelacur  setelah mendapatkan pembinaan mental spiritual selama di tempat rehabilitasi,  dapat menyadarkan dan mengentaskan mereka  dari pekerjaanya, dipatahkan oleh hasil penelitian Mohammad Suud.   Dari hasil penelitian  yang dia lakukan, justru pengetahuan religiositas yang mereka dapatkan selama di tempat itu akan meringankan  beban mental  mereka, sehingga mereka  bisa melakukan pekerjaannya secara berkelanjutan. Tidak heran jika ada pelacur sampai tua  masih  menjalani pekerjaannya. Dari pengalaman spiritualitas yang mereka jalani, semakin menambah keyakinan mereka bahwa Tuhan akan  mengasihinya dan  memberi ampun atas dosa-dosa dari amal baiknya.

Hal ini tertuang  dalam Disertasi berjudul Pengalaman Spiritualitas Pelacur Jalanan, (Suatu Studi  Etnografi di Kota Surabaya) yang ditulis Mohammad Suud untuk memperoleh gelar Doktor. Ujian berlangsug di ruang Adi  Sukadana Kampus B, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unair  Jalan Darmawangsa Surabaya, Jumat (28/7).

Di sela-sela ujian, Suud  menjelaskan bahwa dari hasil  penelitiannya,  pelacur  dalam memulai pekerjaannya juga menyebut nama Tuhan  dan mempunyai kepedulian terhadap sesama dalam bekerja. Dorongan spiritual akan menjadi pengalaman spiritualitas mereka.  Untuk itu,  kalau pemerintah mau merehabilitasi mereka  dengan  cara yang tidak tepat dalam membina mental mereka, tidak menutup kemungkinan  justru mereka akan semakin paham dalam menjalankan dunia pelacuran dengan berbekal pengalaman spiritualitasnya itu.

Oleh karena  itu,  menurut Suud pengalaman spiritualitas mereka  harus dibongkar, dan diluruskan kembali kesadaran spiritualnya. Pendekatan Rukiyah  bisa dilakukan dalam menyadarkan mereka. Mindset pemerintah dan masyarakat harus berubah, membantu bukan memaksa mereka untuk keluar dari pekerjaannya sebagai  pelacur.“Pemahaman bahwa pekerjaan yang ia lakoni itu dosa, kalau dosa masuk neraka dan ada siksa, itu   tidak membuat mereka takut,”  kata Suud yang juga Dosen Fisip Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS)  ini.

Untuk menyelesaiakan Disertasi  ini Suud malakukan penelitian selama dua tahun terhadap pelacur jalanan yang biasa mangkal di beberapa sudut kota Surabaya. Disertasi setebal 4.5 cm dan berat 21  kg ini berhasil dia  pertahankan di  hadapan sepuluh dewan  penyanggah dalam ujian doktor terbuka.  Suud dinyatakan lulus dengan predikat cumlaude   dengan nilai 3,88. Dia merupakan Doktor ke 198 di Ilmu Sosial Unair.

Ada yang menarik dalam diri Suud, selama menempuh pendidikan Doktor yang dimulai pada 2012. Dia membiarkan rambutnya panjang hingga sebahu dan ini merupakan nadar  tidak mau memotong rambutnya hingga dinyatakan lulus. Rambut panjang ini juga sebagai strategi penelitian etnografi supaya diterima di lingkungan prostisusi.  “Menempuh pendidikan Doktor itu penderitaan, ”kata Suud.

“Setelah ini, Agustus  saya akan seperti Bapak ini. Cari hari baik,” sambungnya  sambil menunjuk Prof Bagong Suyanto berambut cepak disampingnya yang juga sebagai ko promotornya  bersama  Prof Ida Bagus Wirawan sebagai promotornya.

Sementara itu Prof Soedarso Djojonegoro salah satu dewan penyanggah sekaligus Ketua Dewan Pembina Yayasan Wijaya Kusuma  menyatakan, dengan diraihnya gelar Doktor ini akan meningkatkan Sumber Daya Manusia di UWKS. Dia berharap Doktor keempat di Fisip UWKS ini   segera menjadi Guru Besar, sehingga akan meningkatkan akrediatsi UWKS. “Mudah-mudahan dua tahun lagi bisa,” jawab  Suud.

(sb/jpg/jek/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia