Minggu, 24 Sep 2017
radarsurabaya
Kota Lama
Menilik Sejarah Jalan Kranggan (7)

Kampung yang Menjadi Saksi Perkembangan Film di Surabaya

Minggu, 16 Jul 2017 23:22 | editor : Wijayanto

KEJAYAAN LAYAR LEBAR: Gedung bioskop Capital Concern yang dibangun tahun 1957 ini menjadi bukti pesatnya industri perfilman dan perkembangan bioskop di Surabaya. Namun saat ini gedung tersebut sudah tidak ada lagi.

KEJAYAAN LAYAR LEBAR: Gedung bioskop Capital Concern yang dibangun tahun 1957 ini menjadi bukti pesatnya industri perfilman dan perkembangan bioskop di Surabaya. Namun saat ini gedung tersebut sudah tidak ada lagi. (istimewa)

Kampung atau Jalan Kranggan bukan hanya menjadi saksi sejarah kerajaan maupun perjuangan meraih kemerdekaan saja. Namun seiring perkembangan Kota Surabaya, kampung yang terkenal dengan seni pembuatan keris itu juga menjadi saksi perkembangan film yang ada di Surabaya.

Hal ini terjadi setelah adanya dua gedung bioskop yang dibangun di wilayah tersebut, yaitu Garuda dan Capital Concern. Dibangunnya dua gedung bioskop di Jalan Kranggan bukan tanpa alasan, selain lokasinya yang startegis, saat itu bioskop juga menjadi tempat hiburan favorit untuk semua usia. Kedua bioskop itu tidak pernah sepi setiap minggu. Film yang diputar di dua bioskop ini juga berbeda. Jika Garuda lebih banyak film-film Asia, sedangkan Capital Concern menayangkan film dari Amerika atau Eropa. 

"Dua bioskop yang ada di Jalan Kranggan itu termasuk gedung bioskop tipe A, ya cukup mewah dan mahal pada saat itu. Selain fasilitas, kapasitasnya juga lebih besar. Sebab saat itu Pemkot Surabaya membangi gedung bioskop tersebut menjadi beberepa golongan ada yang AA, A hingga dengan D," ungkap ahli sejarah Surabaya, Purnawan Basundoro. 

Dengan banyaknya gedung bioskop tersebut, film-film yang diputar juga semakin beragam. Dunia perfilman saat itu sangat perkembang. Bahkan pada tahun 1970an industri film yang diputar di bioskop juga semakin bangkit. Tidak hanya bangkit dalam memutar film impor, tetapi juga memproduksi film-film nasional. Bahkan di era ini, aktor dan aktris film benar-benar disanjung, dipuja dan dimanjakan.

Puncaknya, ketika terbentuknya FFI (Festival Filem Indonesia). Bahkan, Kota Surabaya juga pernah menjadi tuan rumah FFI tahun 1981."Pemerintah yang mendirikan TVRI di tahun 1962, terus berkembang dan memancarluaskan tayangan programnya ke seluruh Nusantara. Peran bioskop mulai diambil alih karena TVRI mulai memutar film yang dapat ditonton di rumah," jelasnya. 

Meski adanaya kehadiran TVRI tidak lantas berpengaruh pada bioskop. Sebab, film yang diputar di bioskop berbeda dengan di TV. "Nah gedung bioskop yang ada di Jalan Kranggan termasuk satu diantara gedung lain yang mengubah pola seperti itu. Hal ini untuk mempertahankan jumlah penikmat bioskop," terang Dosen Sejarah Unair ini. (bersambung/nur)

(sb/yua/jay/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia