Jumat, 22 Sep 2017
radarsurabaya
Surabaya

Bau Hilang, Warga Kembali Rusun Romokalisari

Dilarang Tangkap Ikan dan Udang karena Beracu

Minggu, 16 Jul 2017 09:15 | editor : Abdul Rozack

KEMBALI NORMAL: Warga Rusunawa Romokalisari sudah kembali ke kediamannya masing-masing setelah insiden pembuangan limbah B3 yang menyebabkan bau menyengat.

KEMBALI NORMAL: Warga Rusunawa Romokalisari sudah kembali ke kediamannya masing-masing setelah insiden pembuangan limbah B3 yang menyebabkan bau menyengat. (SATRIA NUGRAHA/RADAR SURABAYA)

SURABAYA - Warga Rusun Romokalisari mulai menempati rumah mereka. Sebab, aroma limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) yang dibuang di jembatan Rumah Susun Sewa (Rusunawa) Romokalisari mulai menghilang.

Sebelumnya, beberapa warga trauma dengan adanya pembuangan limbah. Sebab, hal itu mengakibatkan 10 orang pingsan dan dirawat di RS BDH. Alhasil, tak sedikit warga yang mengungsi ke rumah sanak saudara agar terhindar dari bau limbah.

"Soalnya hingga Jumat (14/7) sore aroma limbah masih sering tercium. Itu membuat warga was-was. Akhirnya ngungsi ke rumah famili," beber Ketua Paguyuban Rusun Romokalisari Hery Supriyanto ditemui Radar Surabaya, Sabtu (15/7) . 

Namun, lanjut Hery, pada kemarin pagi aroma limbah cair tersebut mulai menghilang. Hal itu membuat beberapa warga yang sempat mengungsi sudah kembali ke rumah masing-masing. "Siang tadi (kemarin) mereka sudah mulai kembali ke rusun. Sebab sudah kami beri masukan agar segera kembali. Soalnya situasi sudah aman. Bau limbah sudah menghilang," ungkap pria 44 tahun itu.

Hilangnya aroma busuk dari limbah tersebut tak lepas dari kinerja Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya yang melakukan penyemprotan pada aliran sungai. Total, ada puluhan truk penyemprot yang sudah diterjunkan untuk menghilangkan aroma limbah dengan semprotan khusus.

Meski demikian, aroma yang hilang itu tak lantas membuat efek bahaya limbah ikut lenyap. Pengawas Pembangunan dan Lingkungan Hidup (PLH) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Adit mengatakan, dampak limbah cukup buruk. Menurutnya, semua ikan di sungai jelas akan mati.

"Bahkan, saat air laut pasang juga otomatis mengancam kondisi laut sekitar karena bercampur air sungai," ujarnya. 

Ia mengaku, untuk membuat kondisi sungai kembali normal dibutuhkan waktu yang sangat lama. "Tergantung dari jenis limbahnya. Kalau berat, bisa butuh waktu berbulan-bulan," kata Adit.

Limbah tersebut juga membuat mangrove di sekitar sungai mengering. Hal itu membuat Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya langsung bertindak cepat. Puluhan pohon mangrove langsung ditebang. Sebab, pohon dipastikan sudah rusak dan tidak bisa hidup lagi.

Kepala DLH Surabaya, Musdiq Ali Suhudi menambahkan, untuk saat ini jenis limbah masih diteliti. Ia mengaku butuh waktu satu Minggu untuk mengetahui jenis limbah. "Selama belum ada pengumuman dari kami, kami imbau kepada warga agar tidak mencari ikan dan udang di sekitar sungai. Sebab, dipastikan mengandung racun," pungkasnya. 

Untuk mencegah kejadian serupa, Muadiq mengaku bakal bekerja sama dengan warga rusun untuk meningkatkan pengamanan. "Kita akan koordinasi dengan RW setempat dan Linmas. Kami akan jaga pintu masuk menuju rusun. Soalnya selama ini memang sepi," kata Muadiq. (gus/hen)

(sb/gus/jek/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia