Rabu, 20 Sep 2017
radarsurabaya
Ekonomi

Bisnis Kopi Makin Seksi

Sabtu, 15 Jul 2017 20:39 | editor : Abdul Rozack

Saat ini minum kopi menjadi bisnis yang sangat menggiurkan. Maklum, nyruput kopi bukan lagi kebiasaan untuk menghilangkan kantuk. Tapi, sudah berubah menjadi life style. Hidup belum asyik kalau sehari saja nggak ngopi. Begitu kira-kira pemahaman para pecinta kopi.  

Umi Hany Akasah- Wartawan Radar Surabaya

Kedai, warung, atau tempat ngopi menjamur di Surabaya. Bahkan, di Sidoarjo dan Gresik, tempat-tempat yang menyajikan minuman kopi, juga tumbuh subur. Ada yang skalanya kecil, hanya sebatas warung di ujung gang dengan dingklik-dingklik panjang. Atau kedai-kedai di dekat kampus dengan layanan WIFI super cepat, hingga tempat-tempat nongkrong yang keren di mal, hotel berbintang, maupun kafe-kafe  di jalan utama.    

Kopi pun sudah seperti air putih saja. Bisa didapatkan dengan sangat mudah. Ketika kita ke luar rumah, menemukan tempat penjual kopi jauh lebih mudah mendapatkan warung makan. Di satu jalan yang panjangnya tak lebih dari 25 kilometer (km), bisa kita temukan lima-enam warung kopi. Herannya lagi, warung-warung itu laku semua. Banyak yang nongkrong sambil main gadget dengan cangkir atau gelas di depannya.

Pemandangan yang hamper mirip juga bisa dijumpai kalau kita windows shopping di pusat-pusat perbelanjaan. Sepuluh tahun lalu, hanya beberapa kafe saja yang kita jumpai di sebuah pusat perbelanjaan. Biasanya kafe-kafe berkelas yang pemiliknya membeli franchise-nya dari luar, seperti Starbuck atau The Coffee Bean and Tea Leaf. Atau kafe-kafe made in Indonesia yang menyasar kelas atas, seperti Excelso atau Coffee Toffee.  

Tapi, lihatlah sekarang. Kafe-kafe itu sudah mau keluar kandang. Tidak hanya buka di mal atau hotel berbintang saja. Mereka semakin mendekati konsumennya. Di jalan-jalan strategis, di kawasan perumahan elit, di dekat ataupun di dalam, kampus, di rumah sakit,  atau di tempat-tempat keramaian lainnya. Para pengusaha itu berani berekspansi, karena pasarnya memang ada.     

Hendrick Hartono, seorang pengusaha mengatakan jika sekarang ini bisnis kopi, terutama pengolahan kopi ibarat perempuan cantik yang bertubuh seksi. Sehingga banyak laki-laki yang mendekatinya. “(Bisnis kopi, Red) lagi seksi-seksinya. Banyak yang mau bermain di dalamnya,” kata Hendrick. 

Dijelaskannya, tren minum kopi di tahun 2017 ini mampu meningkat karena berbagai hal. Pertama, karena generasi millennial yang mempunyai karakter khusus, yakni lebih sosial dan tingkahnya sangat dinamis. Akibatnya, generasi millennial yang menjadi penikmat kopi lebih suka seduhan kopi tongkrongan. “Bukan lagi kopi yang diseduh di rumah. Kalau yang itu, sudah kelewat. Kopi seduhan rumah itu era orang tua mereka,” urainya.

Hendrick bercerita, era orang tua kita lebih mempertimbakan harga kopi. Sementara kalau generasi sekarang, lebih mempertimbangkan pengalaman ketika ngopi. “Harga semahal apapun, kalau mereka (generasi millennial, Red) suka, ya dibeli saja,” ungkap  pengusaha kopi yang sudah mengantongi lisensi Q Grader dari Specialty Coffee Association of Indonesia itu.   

Diakui Hendrik, kopi yang diseduh di kafe memang lebih mengedepankan gaya hidup. Tidak hanya soal rasa dan harga, tapi juga suasana, model penyajian, hingga cara membuat. “Sekarang ngopi itu seperti sebuah perjalanan. Nggak cuman minum kopi saja lho,” ingatnya....

Selengkapnya di edisi Cetak Radar Surabaya

(sb/han/jek/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia