Senin, 23 Apr 2018
radarsolo
icon featured
Features

Produk Kecantikan Intans, Aman atau Tidak?

Senin, 16 Apr 2018 13:30 | editor : Fery Ardy Susanto

Serum untuk memutihkan kulit.

Serum untuk memutihkan kulit. (SILVESTER KURNIAWAN/RADAR SOLO)

SEMUA wanita pasti ingin tampil cantik. Tapi tak jarang menempuh cara instan. Termasuk menggunakan produk kecantikan ilegal.

Mendapatkan produk kecantikan ilegal semudah membeli kacang goreng. Beberapa produk bisa dibeli via online. Penjual mengunggah produk-produk tersebut di media sosial maupun web, disertai penjelasan khasiat bagi penggunanya.

Bisa juga didapat di toko atau salon kecantikan kecil. Untuk toko-toko supplier kecantikan besar di Kota Bengawan, hampir dipastikan tidak menjual. Sebab, produk ini diduga kuat tidak memiliki izin edar alias ilegal.

Jawa Pos Radar Solo berkesempatan bertemu dengan seorang penjual produk tersebut. Sebut saja Bunga (nama samaran). Bunga mengaku sudah tiga tahun berbisnis produk kecantikn jenis whitening injection alias suntik putih. Produk ini berkhasiat membuat cerah kulit dalam waktu relatif singkat.

Harganya yang terjangkau dan hasilnya bisa dilihat hanya dalam hitungan bulan, membuat dagangan Bunga laris manis di pasaran. Tentu saja dari sisi bisnis sangat menjanjikan.

“Sebagai penjual saya sangat diuntungkan. Sebulan bisa jual 8-10 produk. Perputaran uangnya lebih cepat dibanding penjualan kosmetik ternama yang juga saya jual di toko online saya,” ujar Bunga.

Bunga mengaku tidak sengaja mengenal produk tersebut. Awalnya hanya menjual produk kosmetik seperti lulur mandi dan beberapa barang lainnya dengan merek-merek yang laris di pasaran. Hingga suatu saat dirinya mendapat tawaran beberapa kosmetik dengan harga miring oleh salah satu supplier.

“Awalnya saya sempat pikir-pikir karena itu barang KW alias tembakan produk ternama. Tapi setelah beberapa waktu, ternyata banyak juga yang cari. Nah, mulai dari sana saya mulai jual lipstik, krim wajah, dan beberapa kosmetik KW,” beber dia.

Selang setahun kemudian, produk whitening injection mulai masuk pasaran. Melalui proses yang sama, ia akhirnya menjual produk tanpa izin dari BPOM. Kala itu, peminatnya pun belum sebanyak saat ini, lantaran belum banyak masyarakat yang tahu. Produk tersebut mulai booming 2-3 tahun belakangan.

“Saya pikir mulai booming itu karena mulai banyak testimoni soal khasiat produk itu. Dan makin banyak juga toko online yang mulai memasarkan produk sejenis dari berbagai merek,” kata Bunga.

Dalam 2-3 tahun terakhir produk kosmetik terlaris yang mampu ia jual adalah jenis whitening injection. Mayoritas pelanggan membeli via online. Namun beberapa di antaranya melakukan transaksi pembelian lewat tatap muka.

“Harganya variatif. Beda merek, beda harga dan isinya. Satu boks biasanya berisi 6-10 ampul dengan kisaran harga Rp 250-800 ribu,” jelas Naura.

Bagaimana aturan pakainya? Naura mengaku cukup mudah. Hanya dengan menyuntikkan serum ke dalam tubuh. Biasanya, satu ampul untuk satu kali suntikan. Lalu untuk suntik kedua dilakukan sepekan sesudahnya, begitu seterusnya.

“Dipakainya sekali sepekan untuk satu ampul. Jadi kalau isinya 10 ampul bisa untuk 10 pekan pemakaian. Kalau mau lebih cepat terlihat hasilnya bisa tambah dosisnya di bulan kedua pemakaian. Caranya disuntikkan di lengan seperti proses memasukkan infus,” beber dia.

Lantas bagaimana dengan yang tidak berani menyuntik dirinya sendiri? Bagi beberapa pelanggan yang kebingungan untuk pemakaian produk tersebut, Naura juga bisa memfasilitasinya. Tentunya dengan biaya tambahan di luar harga produk.

“Memang beberapa ada yang minta tolong untuk dipakaikan. Kalau seperti itu biasanya saya kenakan biaya tambahan Rp 80 ribu. Kebetulan saya ada kawan bidan, ongkos satu kali suntik biasanya saya kasih Rp 30 ribu. Tapi kalau yang tidak kuat suntik cairan itu juga bisa dicampur di produk kecantikan lain seperti body lotions dan lainnya,” jelas dia.

Apa ada efek sampingnya? Dari pengalaman dia selama ini, pemakaian produk ini tidak banyak memiliki efek samping. Hanya saja wajib banyak minum air, karena cairan yang berisi vitamin C dan kolagen tersebut berpengaruh membuat kulit menjadi lembab. Karena itu, konsumsi air yang banyak selalu ia sarankan agar hasil cepat terlihat.

“Kalau langsung jadi putih memang tidak. Kulit memang jadi lebih lembab dan dari situ lama-kelamaan kulit akan makin cerah,” jelas dia.

Apakah ada yang komplain terhadap produk yang selama ini dia jual? Bunga berani memastikan bahwa seluruh pelanggannya puas. Buktinya, sejauh ini tidak seorang pun komplain atas pemakaian produk yang dibeli dari dirinya. Malah, dari pelanggan lamanya dirinya mendapat banyak pembeli baru dari jaringan pertemanan para pelanggannya.

“Jadi saya jual berbagai macam produk kecantikan. Ada yang legal, tapi banyak yang ilegal. Rata-rata pelanggan saya anak kuliahan dan wanita usia 30-an tahun yang memang harus selalu tampil menarik. Mayoritas puas karena mereka tak perlu menghabiskan waktu berlama-lama merawat diri di salon kecantikan. Dan pastinya lebih irit biaya,” jelas Bunga.

Ditanya apakah dirinya juga memakai produk yang sama untuk merawat diri? Bunga menjawab tidak. Dia hanya sebatas jual beli atas produk tersebut. Meski gencar promosi di media sosial, dirinya mengaku harus berpikir berkali-kali jika harus menggunakan produk tersebut. Sebab, secara pribadi dirinya sadar bahwa produk yang ia jual tidak memiliki izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

“Hasilnya memang maksimal. Kulit bisa empat kali lebih cerah dalam hitungan bulan. Tapi kalau disuruh pakai saya pilih tidak. Memang sih kandungan serum itu lebih dari 50 persen merupakan vitamin C yang baik untuk kulit, tapi kan kita tidak tahu apakah kandungan lainnya aman atau tidak,” imbuh Bunga.

Kendati secara bisnis sebenarnya sangat menjanjikan, Bunga memilih menyudahi bisnis tersebut usai salon miliknya yang juga ia jadikan tempat menjajakan produk kecantikan abal-abal tersebut terendus oleh petugas dari dinas kesehatan (dinkes) dan BPOM Jateng beberapa tahun lalu.

“Nggak banyak juga yang disita petugas. Hanya yang saya pajang saja yang diangkut (BPOM). Tapi karena saya sudah sibuk dengan kerjaan saya saat ini, akhirnya jual beli online ini saya kurangi sekarang,” tutup Bunga.

(rs/ves/fer/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia