Senin, 23 Apr 2018
radarsolo
icon featured
Kombis

Sensasi Memasak dengan Peralatan Jadul

Sabtu, 14 Apr 2018 14:15 | editor : Fery Ardy Susanto

Sejumlah pelajar bercengkerama di pojok dapur tempo dulu di gelaran Solo Indonesian Culinary Festival di Stadion Manahan, Jumat (13/4).

Sejumlah pelajar bercengkerama di pojok dapur tempo dulu di gelaran Solo Indonesian Culinary Festival di Stadion Manahan, Jumat (13/4). (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

SOLO – Ajang Solo Indonesian Culinary Festival (SICF) 2018 di area parkir Stadion Manahan, 12-15 April tak hanya memanjakan lidah pecinta kuliner. Namun juga menjadi wadah edukasi bagi generasi muda. Buktinya, keberadaan pojok dapur tempo dulu di gelaran ini mendapat perhatian dari para pelajar.

Ya, desain dapur yang unik dan terkesan lawas ini jadi perhatian para kids zaman now. Di hari kedua, Jumat (13/4), nampak pelajar menyerbu ke dapur tersebut. Mereka terkesan takjub dengan dapur yang terbuat dari dinding gedhek alias anyaman bambu ini.

Untuk memasak, tidak lagi menggunakan kompor. Melainkan memakai tungku perapian dari tanah liat. Bahan bakar yang digunakan pun dari kayu. Sementara peralatan memasaknya juga dari bahan gerabah.

Daryono, Ketua Panitia SICF 208 mengaku konsep dapur tempo dulu sengaja dihadirkan. Untuk mengangkat khasanah kuliner masa lalu dari sisi keragaman, kekayaan, hingga proses pembuatan.

”Kami ingin menampilkan potensi kuliner, mulai dari cara memasak hingga penyajian yang menggunakan alat-alat zaman dulu. Jadi tidak pakai kompor tapi tungku. Juga tidak ada peralatan berbahan plastik,” terang Daryono kepada Jawa Pos Radar Solo.

Sementara itu, hari kedua kemarin juga dijejali kompetisi fruit carving. Peserta datang dari kalangan perhotelan, akademisi, dan umum. Tak hanya itu, juga ada lomba menggambar bagi anak-anak dengan tema kuliner tradisional.

”Penilaian fruit carving dari tingkat kerumitannya. Serta keserasian dalam memadukan judul dengan hasil karya yang dibuat. Selain itu juga keaneragaman bahan dan kerapian,” sambung Daryono.

Ninik Oktianasari, pengunjung asal Banjarsari mengaku rajin mengikuti gelaran ini dari tahun ke tahun. Baginya, event semacam ini harus dipertahankan. Selain itu bisa jadi referensi bagi para wisatawan untuk mengulik kuliner tradisional khas Kota Bengawan.

”Banyak sekali menu kulinernya, sampai bingung memilih. Positifnya, acara ini tidak pernah menanggalkan kulinerr tradisional. Jadi masih bisa mencicipi makanan tradisionalnya,” beber Ninik.

(rs/gis/fer/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia