Kamis, 26 Apr 2018
radarsolo
icon featured
Travelling

Paseban Candi Kembar yang Instagramable

Sabtu, 14 Apr 2018 12:54 | editor : Fery Ardy Susanto

Pengunjung berswafoto di Paseban Candi Kembar, Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Jumat (13/4).

Pengunjung berswafoto di Paseban Candi Kembar, Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Jumat (13/4). (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

KLATEN – Candi Plaosan di Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan setiap harinya mampu menyedot perhatian wisatawan lokal dan mancanegara. Ini dimanfaatkan pemerintah desa setempat dengan membangun desa wisata. Berupa kawasan Paseban Candi Kembar yang terletak tepat di sisi barat candi.

Objek wisata yang dikelola komunitas pemuda Desa Bugisan, Mandapa itu menawarkan sejumlah spot berswafoto. Sebagai pemikat, kawasan ini dihias deretan lampion. Dipasang di sepanjang jalan desa serta dengan latar belakang pemandangan eksotis candi.

”Pengembangan Paseban Candi Kembar ini merupakan bantuan Pemkab Klaten kepada desa kami. Sebesar Rp 200 juta sebagai wujud program desa wisata. Juga ada pendampingan dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogja dan bantuan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta,” jelas pengelola Paseban Candi Kembar, Nur Widiyono kepada Jawa Pos Radar Solo, Jumat (13/4).

Paseban Candi Kembar memanfaatkan tanah kas desa seluas 3.000 meter persegi. Kawasan ini juga dilengkapi sejumlah gazebo untuk beristirahat wisatawan. Tak ketinggalan deretan warung makan yang memanjakan lidah.

Nurdin (sapaan Nur Widiyono) mengaku meski baru beberapa bulan berjalan, namun objek wisata ini mampu menarik minat wisatawan. Sebagai pelepas lelah setelah menikmati Candi Plaosan.

”Paling diminati ya bola-bola lampion warna-warni. Paling ramai menjelang sore hari. Bisa mencapai 500 pengunjung di akhir pekan. Ada juga wisatawan dari Eropa dan Singapura yang berkunjung,” klaim Nurdin.

Sementara ini, wisatawan yang ingin ke Paseban Candi Kembar belum ditarik biaya. Sembari menunggu peraturan desa (Perdes) yang mengatur retribusi. Pengunjung cukup merogoh kocek Rp 3.000 untuk biaya parkir.

Pemasukan dari parkir saja, per bulan bisa mencapai Rp 10 juta. Diharapkan dengan rencana penarikan retribusi tiket masuk sebesar Rp 5.000, bisa mendongkrak pendapatan.

”Kami juga sering menyediakan hiburan kesenian karawitan dan jegug lesung bagi wisatawan yang memintanya. Mengingat potensi kesenian di desa kami cukup besar. Didukung acara Festival Candi Kembar yang diselenggarakan setiap tahunnya,” tandas Nurdin.

Nurul Fitri Astuti, 22, pengunjung asal Kalasan, Jogja mengaku baru pertama kali singgah ke Paseban Candi Kembar. Ia cukup terkesan karena objek ini memadukan spot swafoto dengan tempat bersantai, serta pemandangan Candi Plaosan.

”Mungkin perlu ditambahkan lagi gazebonya. Jujur saya cukup menikmati. Apalagi kuliner yang disediakan harganya terjangkau,” bebernya.

(rs/ren/fer/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia