Senin, 23 Apr 2018
radarsolo
icon featured
Features

Sosok Sastrawan yang Dermawan Itu Sudah Berpulang

Kamis, 12 Apr 2018 16:21 | editor : Fery Ardy Susanto

Almarhum sastrawan Danarto.

Almarhum sastrawan Danarto. (AHMAD KHAIRUDIN/RADAR SOLO)

MUNGKIN generasi milenial belum banyak mengenal sosok Danarto. Namun bagi pecinta sastra, namanya sudah tidak asing lagi. Karya-karyanya menjadi masterpiece di dunia sastra Indonesia. Kini, pria 77 tahun itu telah tiada. Rabu (11/4), jenazahnya dimakamkan di kampung halamannya di Sragen.

Danarto meninggal dunia karena kecelakaan, Selasa malam (10/4) di Tangerang Selatan. Jenazah pria kelahiran Sragen, 27 Juni 1940 itu tiba di Sragen Rabu (11/4) sekitar pukul 14.40 WIB. Di rumah duka Jalan Kapuas No. 57, Kampung Karangdowo, Kelurahan/Kecamatan Sragen.

Puluhan pelayat sudah menunggu. Di rumah sederhana dengan cat warna putih dan hijau itu, jenazah disemayamkan sebelum dimakamkan di tempat pemakaman umum (TPU) Ngasem, Kroyo, Karangmalang. Di kediaman kakak tertuanya Muryono, tampak sejumlah pejabat seperti Wakil Bupati Dedy Endriyatno dan para seniman hadir.

”Beliau berpesan kalau meninggal minta disandingkan dengan pusara ibunya di Ngasem,” ujar keponakan almarhum, Wendi Harjuno.

Awalnya, Pemkab Sragen ingin memberikan penghormatan terakhir kepada almarhum dengan disemayamkan di Pendapa Rumah Dinas Bupati. Namun atas pertimbangan keluarga, rencana tersebut dibatalkan.

”Karena sudah meninggal sejak Selasa, keluarga ingin jenazah segera dimakamkan,” tandas Wendi.

Danarto merupakan anak Siti Aminah yang  berprofesi sebagai pedagang di Pasar Kota Sragen. Ayahnya, Djakio Hardjosoewarno bekerja di Pabrik Gula Modjo. Danarto sendiri merupakan anak keempat dari lima bersaudara.

Danarto  menikah dengan Siti Zainab Lufiati, seorang psikolog pada 1986. Namun hingga akhir hayatnya, pasangan ini belum dikaruniai seorang anak.

“Mereka bercerai setelah 15 tahun berumah tangga. Istrinya meninggal dunia, kalau tidak salah 2016 lalu,” ungkap Wendi.

Danarto kuliah di ASRI Jogjakarta. Aktif di Sanggar Bambu pimpinan pelukis Sunarto PR dan ikut mendirikan Sanggar Bambu Jakarta. pada 1976, sempat mengikuti International Writing Program di Universitas Iowa, Iowa City, Amerika Serikat. Dia juga pernah bekerja di majalah Zaman, pada 1979-1985 dan mengikuti berbagai festival dan ajang puisi internasional.

Selain sastrawan, ia dikenal juga dikenal sebagai pelukis. Pernah mengadakan pameran di beberapa kota. Sebagai budayawan dan penyair, ia pernah mengikuti program menulis di luar negeri. Di antaranya di Kyoto, Jepang.

”Beliau sangat dermawan. Orangnya humoris dan low profile. Kadang apa yang menjadi miliknya dijual untuk diberikan orang lain,” kenangnya.

”Adik saya Windya itu keponakan kesayangannya beliau. Sekarang kuliah di IKJ yang berhubungan dekat dengan Ratna Sarumpaet,” imbuh Wendi.

Sahabat Danarto yang juga pekerja seni, Halim HD mengaku dekat almarhum sejak 1970. Dia pernah membuat mimbar  teater di Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) dari cerita cerpen karya Danarto.

”Dia seniman serbabisa. Almarhum juga dikenal sebagai konseptor artistik seni pertunjukan,” terang Halim.

”Sebetulnya dilihat karya seni rupa, dia mendahului zamannya. Orang belum kepikirkan, dia sudah lakukan itu. Kita belum dengar, misal magic realim tahun 1977, tapi dia sudah menulis itu sejak 1968,” terangnya.

(rs/din/fer/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia