Sabtu, 24 Feb 2018
radarsolo
icon featured
Wonogiri

Wonogiri Darurat Kasus Kekerasan Seksual

Selasa, 13 Feb 2018 18:26 | editor : Bayu Wicaksono

Kapolres Wonogiri AKBP Robertho Pardede kunjungi bayi korban asusila terhadap anak di bawah umur.

Kapolres Wonogiri AKBP Robertho Pardede kunjungi bayi korban asusila terhadap anak di bawah umur. (IWAN KAWUL/RADAR WONOGIRI)

WONOGIRI - Hingga pertengahan Februari ini setidaknya sudah terjadi delapan kasus asusila dan pencabulan anak di bawah umur. Polisi meyakini saat ini sudah sangat mendesak pendidikan seks sejak dini. 

Kapolres Wonogiri AKBP Robertho Pardede saat ditemui di ruang kerjanya mengatakan bahwa berbagai upaya telah dilakukan masing-masing instansi untuk menekan angka kasus asusila. Namun, kasus masih saja terjadi di Wonogiri. 

“Upaya hukum telah dilakukan. Satgas perlindungan anak sudah bekerja. Jaksa juga sudah masuk ke sekolah-sekolah. Di daerah-daerah sudah rutin ada pendidikan agama dan pengajian-pengajian. Tapi asusila tetap saja terjadi,” kata Pardede, Selasa (13/2). 

Menurut Pardede, banyak faktor yang memengaruhi banyaknya kasus asusila. Seperti letak geografis dan faktor ekonomi. “Yang sering terjadi, orang tuanya merantau, anaknya di rumah sama saudaranya atau simbahnya. Letak rumah jauh-jauh. Akhirnya terjadi kasus asusila,” ujar Pardede. 

Lebih lanjut dikatakan Pardede, saat ini diperlukan pendidikan seks sejak dini. Mengingat, banyak kasus yang menimpa kalangan pelajar. “Mungkin dulu seks education masih dianggap tabu, tapi sepertinya sekarang harus digiatkan di sekolah-sekolah,” katanya. 

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Siswanto mengaku bahwa pendidikan seks di sekolah tidak kasat mata diberikan melalui pendidikan khusus seks. Hanya saja dimasukan dalam materi pendidikan karakter. 

“Jadi pendidikan seks masuk dalam pendidikan penguatan karakter anak didik. Bagaimana menjaga kehormatan, itu masuk ke penguatan karakter,” kata Siswanto.

(rs/kwl/bay/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia