Jumat, 23 Feb 2018
radarsolo
icon featured
Features
COVER STORY

Ketika Buzzer Mati-matian Bela Klien Paslon di Medsos

Senin, 15 Jan 2018 11:25 | editor : Bayu Wicaksono

ILUSTRASI

ILUSTRASI (IRECK OKTAFIANTO/RADAR SOLO)

Kontestasi pemilihan kepala daerah (pilkada) tidak cukup mengandalkan kampanye konvensional dengan cara tatap muka. Pasangan calon (paslon) juga memiliki tim siber atau buzzer.

Buzzer dalam Bahasa Inggris berarti lonceng, alarm yang fungsinya memberikan tanda. Nah, jika dikaitkan dengan aktivitas di media sosial (medsos), buzzer bisa disebut orang yang memanfaatkan akun media sosial untuk menyebarluaskan informasi.

Dalam konteks pilkada, buzzer akan mendongkrak citra paslon di media sosial. Sekaligus meng-counter potensi serangan kampanye negatif hingga hitam selama 24 jam.

Akhir pekan kemarin, Jawa Pos Radar Solo menghubungi salah seorang buzzer yang telah aktif sejak 2008. Menurutnya, kesadaran paslon dalam memanfaatkan medsos baik untuk kampanye atau menangkal informasi menyesatkan kian meningkat.

“Sekarang, serangan (kampanye negatif dan hitam) paling cepat adalah lewat medsos, hitungannya detik. Bisa puluhan bahkan ratusan. Untuk itu harus dilawan dengan cepat. Kalau paslon masih mengandalkan tatap muka, efeknya lemah. Namanya keburu tercoreng,” ujar sumber yang meminta identitasnya tidak dikorbankan.

Permintaan tersebut cukup beralasan, karena mereka bekerja di balik layar dan identitasnya di dunia nyata sangat dirahasiakan. Untuk nama akun, bisa menggunakan akun pribadi. Tapi, mayoritas membuat akun baru guna melindungi privasi.

“Ini untuk keamanan saja sebenarnya. Karena saya punya pengalaman waktu ngawal mencalonkan kedua kalinya. Saya sering dicari-cari orang. Katanya saya buzzer pilkada paling berpengaruh. Padahal saya kalau dukung seseorang tidak pernah sekali pun ngomongin lawan dari klien saya,” bebernya.

Jenis medsos yang paling sering digunakan? Buzzer tersebut menuturkan, ketika mengawal pilkada DKI dan pemilihan presiden, lebih efektif memakai Twitter. Nah, untuk mengawal kliennya pada Pilkada Jateng, dia memanfaatkan Facebook.

“Dalam menentukan medsos, kita melihat dulu mayoritas pendukung kita maupun lawan pakai apa,” ujar warga asli Temanggung ini.

Meski di balik layar, peran dan kinerja para buzzer tidak bisa sembarangan. Mereka total bekerja mengawal kliennya di medsos selama 24 jam. Satu tim buzzer biasanya terdiri dari tujuh hingga sepuluh orang. Kemudian dipecah kembali menjadi tiga kelompok.

Kelompok pertama adalah PIC dan PIC Support. Tugas mereka menyusun strategi dan implementasi medsos, merancang desain sosialisasi berdasarkan sasaran, hingga mengukur efektivitas pesan.

Kelompok kedua adalah Content Writer mereka yang akan membuat naskah untuk di-posting di website, akun medsos, hingga mempersiapkan pesan broadcast untuk disebar di forum-forum di instant messenger.

“Yang terakhir admin. Mereka bertugas mengawasi isu-isu dan mempertajam isu tersebut. Mereka juga yang memantau apabila ada serangan dari pihak lawan,” jelasnya.

Soal efektivitas kampanye lewat medsos atau cara manual, sumber itu mengatakan, masing-masing cara memiliki dua tujuan berbeda tapi saling melengkapi. “Kalau kampanye lewat panggung-panggung rakyat itu untuk mendekatkan paslon dengan masyarakat, sedangkan lewat medsos guna memperkuat karakter paslon,” bebernya.

Mengingat beban dan risiko pekerjaan cukup berat, wajar jika para buzzer tersebut mendapatkan bayaran relatif mahal. Honor per hari bisa Rp 200 ribu hingga Rp 400 ribu atau lebih. Nominal tersebut belum termasuk bonus bulanan apabila target tercapai.

Terpisah, pengamat informatika Universitas Sebelas Maret (UNS) Wiharto menuturkan, sifat kampanye di medsos bisa merupakan kebalikan dari kampanye di dunia nyata. Yakni, kampanye di dunia nyata seperti pengerahan massa lebih mudah dihitung dan diperbandingkan jumlah simpatisan. Sedangkan di medsos, belum tentu pengikut (follower) atau pemberi jempol (like) akan menjatuhkan pilihannya ke paslon bersangkutan.

Tapi, menurut koordinator divisi software development UPT TIK UNS ini, medsos sangat potensial dalam pengenalan produk. Jika ranahnya politik, produk yang dimaksud berupa janji politik, sasaran, serta promosi. “Kasarannya, pemegang akun politik itu penjual, sedangkan pengguna medsos pembelinya,” katanya.

Para buzzer yang digandeng paslon akan melakukan pemetaan targetnya. Kemudian melakukan invitasi (undangan) dalam social network, pemasangan status, dan lainnya. Cara-cara ini belakangan dimaksimalkan dengan pembuatan blog service, link sharing, virtual community, serta lainnya guna memudahkan pengguna medsos menjaring informasi. Tujuannya akan mengerucut yakni paslon akan menjadi trending topic.

Sementara itu, pengamat politik UNS Agus Riewanto memaparkan, yang menarik dari medsos adalah demografi penggunanya rata-rata berusia muda. Sayangnya, belum ada peneliti di Indonesia yang mengukur efektivitas kampanye di medsos.

Tapi, bila dibandingkan kampanye menggunakan baliho, Agus menilai, kampanye lewat medsos lebih efektif. Sebab, pengguna medsos lebih percaya pada perkataan teman atau kolega di dunia maya daripada konten baliho pinggir jalan. 

Lebih lanjut diterangkannya, kampanye di medsos maupun konvensional akan diwarnai positive campaign (visi-misi) dan negative campaign (debat dengan acuan data riil), serta potensi black campaign (fitnah).

“Peran media sosial dan fenomena relawan memberikan warna tersendiri karena digerakkan secara bebas oleh publik. Ini bisa memengaruhi keberhasilan atau kegagalan aktor politik menduduki posisi strategis,” urainya.

(rs/atn/bay/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia