Selasa, 20 Feb 2018
radarsolo
icon featured
Kombis

Dari Kulit Sisa Jadi Produk Unik Berharga  

Sabtu, 13 Jan 2018 09:50 | editor : Bayu Wicaksono

Owner Sunrise Republik Dias Tanti membuat gantungan kunci dari limbah kulit.

Owner Sunrise Republik Dias Tanti membuat gantungan kunci dari limbah kulit. (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

SOLO – Produk fashion berbahan dasar kulit telah punya kelas penggemar tersendiri. Apalagi, ketersediaan bahan dasar kulit yang tak gampang didapat, membuat produk semakin bernilai tinggi. Maka, sayang sekali jika limbah kulit atau sisa-sisa dari proses produksi hanya terbuang dan disia-siakan.

Hal itulah yang terlintas di benar Dias Tanti, owner Sunrise Republik saat melihat banyaknya limbah dari produksi sepatu kulit. “Di Solo ini kan banyak pembuat sepatu berbahan kulit. Nah, mereka ini pasti ada kulit sisa yang tidak terpakai,” ujar Tanti saat ditemui Jawa Pos Radar Solo di tempat produksinya di Banjarsari, Jumat (12/1).

Dari situ, muncul ide untuk memanfaatkan limbah kulit. Lantaran kulit sisa rata-rata berukuran kecil, Tanti pun berpikir untuk membuat produk yang juga mini. Akhirnya, ia memutuskan untuk membuat aksesoris, seperti gantungan kunci, gelang, kalung, dan masih banyak lagi.

Alat untuk produksi cukup sederhana, seperti pukul besi dan pukul kayu, alat pelubang kulit, dan lainnya. Sementara untuk bagian menjahit, dia menggandeng tukang jahit khusus kulit. ”Dari awal produksi pada 2015, pemasaran  kami memang lewat online. Ternyata respons pasar cukup bagus,” papar Tanti.

Melihat minat pasar yang positif itu, Tanti dan rekannya Indro Yuwono pun berpikir untuk menambah variasi produk. Hingga akhirnya mereka membuat leather case dan mini wallet. Namun, tantangan untuk membuat leather case adalah kebutuhan bahan  yang lebih banyak dibanding aksesoris. Beruntung, Tanti dan Indro cukup mudah mencari bahan kulit di wilayah Solo dan sekitarnya.

Dengan ketersediaan bahan, mereka pun lebih percaya diri melakukan produksi, termasuk menerima orderan tulisan dari leather yang desainnya bersifat customized. ”Tapi, kami tidak menerima produk yang bentuknya customized, hanya desain atau tulisan dari leather-nya. Biasanya kami memberi estimasi waktu dua pekan,” terang Indro.

Untuk aksesoris hingga leather case, Tanti dan Indro membanderol harga mulai Rp 15 ribu hingga Rp 500 ribu. Kini, mereka rata-rata bisa mengantongi omzet Rp 4 juta – Rp 5 juta per bulan. Apalagi jika ada pesanan dari instansi atau corporate, omzet yang didapat bisa mencapai Rp 10 juta per bulan. Diakui Indro, hingga saat ini pasar paling laris memang dari luar kota maupun wisatawan yang datang ke Solo. Sementara konsumen lokal masih sedikit.

(rs/gis/bay/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia