Selasa, 16 Jan 2018
radarsolo
icon featured
Kombis

Realisasi Kredit UMKM di Kota Solo Cukup Memuaskan

Sabtu, 13 Jan 2018 08:35 | editor : Bayu Wicaksono

Perbankan memberi porsi lebih besar untuk kredit UMKM.

Perbankan memberi porsi lebih besar untuk kredit UMKM. (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

SOLO – Perbankan optimistis penyaluran kredit usaha rakyat (KUR) akan meningkat pesat pasca-penurunan suku bunga dari 9 persen menjadi 7 persen. Apalagi, tren penyerapan kredit oleh pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) selama ini semakin tumbuh.

Pemimpin Cabang BRI Slamet Riyadi Susanto mengatakan, dengan suku bunga yang makin ringan bisa menjadi  kesempatan bagi pelaku UMKM untuk mengakses tambahan modal kerja. Bahkan, ia memastikan suku bunga KUR ini menjadi yang paling rendah jika dibandingkan dengan suku bunga produk pembiayaan lain. 

”Suku bunga 7 persen per tahun itu resmi diberlakukan mulai awal tahun ini dan berlaku efektif, bukan flat. Artinya, bunga itu dihitung berdasarkan sisa pokok berjalan, bukan dari total pinjaman,” jelas Susanto.

Tahun ini, BRI Cabang Slamet Riyadi menargetkan penyaluran KUR mikro sebesar Rp 230 miliar dengan plafon pinjaman hingga Rp 25 juta. Angka tersebut meningkat dari target 2017 sebesar Rp 180 miliar. Kemudian, untuk penyaluran KUR kecil dengan plafon Rp 25 juta - Rp 500 juta ditargetkan Rp 18 miliar, meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya Rp 12 miliar - Rp 13 miliar. 

Sementara itu, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Solo Bandoe Widiarto menyampaikan, penyaluran kredit UMKM di Solo sangat bagus. Porsinya yakni lebih dari 30 persen dari total kredit yang disalurkan. Jumlah ini lebih besar jika dibandingkan penyaluran kredit untuk UMKM secara nasional yang masih di bawah 20 persen.

Secara umum, kredit macet atau non-performing loan (NPL) pun cukup terkendali, yakni di bawah 1 persen. “Namun, penyaluran kredit UMKM masih memiliki tantangan. Terutama di perluasan sektor penyaluran,” beber Bandoe.

Sebab, selama ini sektor yang disasar pembiayaan UMKM belum merata. Sebagian besar penyaluran kredit masih di sektor perdagangan dan industri. Sementara sektor primer, seperti pertanian, perikanan, dan peternakan masih minim.

Sektor perikanan pun yang banyak dibiayai adalah perikanan budidaya, sedangkan perikanan tangkap belum banyak dilirik perbankan. Selain itu, pertanian juga belum banyak disasar karena kebanyakan petani masih menggunakan cara penanaman konvensional. ”Jika petani menerapkan modern farming, peluang pembiayaan semakin besar,” pungkas Bandoe.

(rs/gis/bay/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia