Minggu, 25 Feb 2018
radarsolo
icon featured
Solo

Dua Perusahaan Produk Kecantikan Diduga Bodong

Sabtu, 16 Dec 2017 15:03 | editor : Perdana

Dua Perusahaan Produk Kecantikan Diduga Bodong

SOLO – Hati-hati saat diimingi-imingi produk maupun layanan investasi. Sebab, perusahaan-perusahaan bodong masih bertebaran dan siap memangsa uang korban. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengendus dua perusahaan bodong di Solo dan Sragen.

Kepala Bagian Pengawasan Industri Keuangan Non-Bank (IKNB) OJK Solo Tito Adji Siswantoro mengatakan, secara nasional ada 21 entitas atau perusahaan investasi yang teridentifikasi bodong. Dua perusahaan di antaranya berada di Solo dan Sragen. Perusahaan yang ada di Solo adalah PT Ayudee Global Nusantara yang bergerak di bidang digital marketing produk kecantikan.

Kemudian, di Sragen yakni PT Raja Walet Indonesia (Rajawali) yang bergerak di bidang penjualan produk sabun wajah blackwalet. Perusahaan disinyalir hanya tipu-tipu karena tidak memiliki izin usaha penawaran produk. ”Dengan tidak adanya izin tersebut, maka perusahaan tersebut berpotensi merugikan masyarakat,” tutur Tito kepada wartawan kemarin (15/2).

Hingga saat ini, dua perusahaan abal-abal itu masih sebatas diawasi. Untuk penindakannya, diakui Tito, itu sudah menjadi tugas pihak kepolisian. Agar tak menjadi korban produk atau investasi aba-abal, Tito mengimbau kepada masyarakat untuk selalu berhati-hati. Terutama terhadap pelaku-pelaku yang menawarkan produk dengan janji berlebihan atau keuntungan dengan nominal tak masuk akal. Sebaiknya masyarakat tetap membuat perjanjian bermaterai atau berkekuatan hukum dengan perusahaan tersebut.

Sementara itu, sejauh ini Satgas Waspada Investasi Kota Solo sudah melakukan banyak hal. Di antaranya sosialisasi tentang investasi bodong yang digelar di setiap kelurahan. Kemudian, memasang baliho waspada investasi di Loji Wetan, Solo Techno Park, dan Pasar Jongke. Namun, untuk pengaduan investasi bodong di Solo, diakui Tito, belum ada. Rata-rata adalah pengaduan BPR dan perusahaan leasing atau pembiayaan.

”Untuk Solo dan sekitarnya hingga Desember ini total ada 170 pengaduan. Sebanyak 133 pengaduan atau 78 persen merupakan pengaduan perbankan, biasanya terkait kredit atau barang lelang. Lalu, tiga pengaduan di bidang asuransi, 25 pengaduan leasing, dan lain-lain itu ada sembilan pengaduan,” pungkas Tito. (gis/ria)

(rs/gis/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia