Selasa, 16 Jan 2018
radarsolo
icon featured
Sepak Bola

Mengenal Franz Setiabudi, Legenda Hidup Persis Solo

Jumat, 15 Dec 2017 10:34 | editor : Bayu Wicaksono

Franz Setiabudi

Franz Setiabudi (DOKUMEN PRIBADI)

SOLO - Persis Solo yang genap berusia 94 tahun melahirkan pemain-pemain lintas generasi. Diantaranya Franz Setia Budi, legenda hidup era 60-an. Dia masih sering mengolah si kulit bundar di acara reuni Persis All Star.

Franz muda awalnya merupakan pemain klub lokal Kota Solo, TNH. Dengan postur badan yang tak terlalu tinggi, dia tetap lincah di lapangan dengan berposisi sebagai winger.

Kakek tiga cucu ini berseragam Persis genap 16 tahun. Sejak 1961-1977. Dia  hanya setia membela satu panji, yakni Persis Laskar Sambernyawa. Wajar jika dirinya turut merasakan pasang surut prestasi Persis.

Bak roller coster, Franz ikut menemani Persis saat berkompetisi di liga kasta bawah, hingga akhirnya meraih prestasi tertinggi saat itu. Dia juga ikut membawa Persis sampai ke babak 8 besar Divisi Utama Kompetisi PSSI dua tahun berturut-turut 1968-1969.

Lawan Persis saat itu tim-tim besar yang mapan. Seperti Persija Jakarta, Persib Bandung, hingga PSMS Medan. Persis kebetulan masuk di grup wilayah barat kompetisi PSSI.

”Prestasi terbaik saat sampai babak 8 besar. Lawan kita saat itu tim-tim mapan yang dihuni pemain-pemain nasional. Sebaliknya, Persis diperkuat pemain lokal saja,” jelas pria 71 tahun itu.

Meski kalah kelas, bukan berarti penggawa Persis minder. Mereka justru punya motivasi tinggi membawa nama Kota Solo. Meski sulit mengalahkan tim seperti Persija, minimal tidak jadi lumbung gol. Persis tetap mampu bersaing dengan gagah.

”Lawan terberat Persija dan PSMS. Belum sekalipun menang, tapi kalau kalah juga nggak banyak. Paling selisih satu sampai dua gol saja,” imbuh pria yang menghabiskan hidupnya untuk berlayar ini.

Franz cukup kondang dalam hal memprovokasi lawan. Dia sering mendapat pukulan dari kiper lawan. Dua di antaranya berakhir cukup fatal. Tepatnya saat melawan PSIS Semarang di Solo. Franz suka mengganggu kiper lawan saat akan tendangan pojok. Karena lawan jengkel, dia pun kena bogem mentah.

”Dua kali saya kena pukul sampai memar tidak bisa makan. Itu yang paling diingat selama bermain di Persis,” jelasnya.

Usai memutuskan pensiun di usia 31 tahun, Franz memilih banting setir menjadi pelaut. Dia juga pernah menangani sejumlah sekolah sepak bola seperti TNH. Baginya, menjadi pemain Persis sudah bagian dari perjalanan hidup. Franz turut bangga karena bisa membawa nama Persis.

”Kalau dulu dipanggil masuk Persis sudah luar biasa senangnya, karena bisa gabung saja sulit. Motivasi kita bermain bola atas dasar ingin membawa klub berprestasi. Kalau sekarang motivasi pemain mungkin sudah bergeser ke materi,” bebernya.

(rs/adi/bay/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia