Kamis, 18 Jan 2018
radarsolo
icon featured
Lifestyle

Retno Tri Astuti, Si Cantik Hobi Makan Kerupuk

Minggu, 10 Dec 2017 08:10 | editor : Bayu Wicaksono

Retno Tri Astuti

Retno Tri Astuti

SOLO - Siapa sangka perempuan berparas ayu yang satu ini sangat demen dengan kerupuk kuning yang biasa dijual di warung-warung kampung maupun kedai kaki lima. Bahkan, kerupuk pun jadi salah satu penanganan yang wajib dibawa saat dirinya hendak pergi ke luar negeri. “Ya mau bagaimana lagi tanya juga sudah demen,” ujar Retno Tan saat ditemui Jawa Pos Radar Solo di kediamannya di Jalan Margorejo II No. 3 Banjarsari.

Perempuan multi talenta kelahiran Jogjakarta 23 Oktober 1981 yang memiliki nama asli Retno Tri Astuti tersebut mengaku sudah sejak kecil suka dengan kerupuk. Saat masih kecil, dirinya hanya mau makan jika sudah ada kerupuk di samping piringnya. Bahkan pada saat dirinya kelas 2 SD, di mana kala itu lagi sulit sulitnya makan. Kerupuk dijadikan salah satu cara agar dirinya mau makan.  “Jadi kerupuknya itu ada di bawah nasi. Plus makanya harus disuapi,” kata Retno Tan.

Memiliki paras oriental yang tercatat sebagai atlet basket nasional junior sejak 1997 dan atlet basket nasional pada 2000 itu mengaku dirinya tak bisa lepas dari kerupuk. Bahkan setiap stok kerupuk di rumah habis dirinya rela selama kerupuk yang diinginkan belum siap.

“Hampir semua jenis kerupuk saya suka. Tetapi yang paling suka ya sama kerupuk kuning itu,” ujar Retno Tan.

Karena itu, dirinya paling sebal jika waktu makan kerupuk, tapi kerupuk yang ditunggu-tunggu dalam kondisi kurang baik, alias melempem. Jika sudah seperti itu, perempuan yang mahir menari latin tersebut bisa merajut bak anak kecil yang keinginannya tidak kesampaian.

“Pernah suatu kali saya dapat kerupuk melempem. Ya saya kembalikan walaupun sudah saya gigit,” ucap Retno Tan. 

Lantaran kejadian tersebut, atlet tari di PON 2001 tersebut pernah dihadiahi kaleng kerupuk warna hijau lengkap dengan isinya saat dirinya ulang tahun dulu. Pemberian dari tantenya tersebut menjadi kado terunik yang pernah tercatat dimemorinya.

“Jadi waktu itu saya dikado sekaleng gede berisi kerupuk yang biasa ada di warung-warung itu. Nah dari situ kalau setiap kosong pasti langsung diisi agar stok selalu terpenuhi,” kelakar dia.

Ada cerita unik yang terjadi pada Januari 2017 lalu. Karena tuntutan pekerjaan di dunia desain yang ia geluti saat ini, dirinya pun harus terbang ke Eropa untuk merampungkan beberapa pekerjaan. Sayangnya, si kerupuk kesukaan yang sudah dipersiapkan ternyata tertinggal di rumah. Tak putus asa dirinya mulai menyambangi lokasi perbelanjaan di sana. Apesnya, ternyata kerupuk di Eropa tak seenak kerupuk lokal yang dia gemari. Karena itu dirinya meminta sang mama untuk mengirimkan sekilo kerupuk mentah agar bisa dia olah sendiri.

“Kalau di Eropa itu kan jarang yang goreng pakai minyak banyak. Akhirnya saya akali dengan teknik mikro. Tak masalah asalkan ada kriuk-kriuknya,” papar Retno Tan.

Ia tidak ingin kejadian tersebut terulang kembali. Karena itu dalam road show ke Eropa beberapa bulan lalu, dirinya tak lupa membawa kerupuk kesukaannya. Jadi  20-28 Juli kemarin, karya saya berjudul "Pelangi Samudera” akan dipamerkan di tiga negara berbeda, yakni Rumania, Austria, dan Jerman. “Pikir saya saat itu, pokoknya stok kerupuk harus cukup sampai balik lagi di Solo,” ujar Retno Tan.

(rs/ves/bay/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia