Senin, 11 Dec 2017
radarsolo
icon featured
Wonogiri
Napas Nyaris Habis

Cerita Relawan Menembus Longsor Karangtengah-Purwoharjo (1)

Kembali karena Warga Rawan Kelaparan

Kamis, 07 Dec 2017 19:02 | editor : Bayu Wicaksono

Relawan menerabas longsor untuk salurkan bantuan sembako ke Desa Purwoharjo, Kecamatan Karangtengah.

Relawan menerabas longsor untuk salurkan bantuan sembako ke Desa Purwoharjo, Kecamatan Karangtengah. (WIBATSU ARISUDEWO/RADAR WONOGIRI)

WONOGIRI - Longsor di Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Wonogiri memantik perhatian beragam elemen. Mengingat akses utama untuk menjangkau ribuan warga terputus. Wartawan Jawa Pos Radar Solo Wibatsu Ari Sudewo ikut merasakan sulitnya mendistribusikan bantuan sembako dan obat-obatan ke wilayah terdampak bencana.    


Tidak pernah terlintas tanah longsor di Kecamatan Karangtengah, Selasa malam (5/12) begitu masif. Ketika mendapat informasi awal, yang ada di pikiran hanya longsor biasa. Ternyata, anggapan itu salah.

Rabu menjelang sore (29/12), di antara hiruk pikuk informasi dan penanganan bencana alam di sebagian besar Wonogiri selatan, datang pesan singkat dari Arsita Umawan, teman ngetril di Karangtengah.

“Tulung, iki piye caranya iso nembus dalan. Karangtengah total. Munggaho. Gawa bolo (Tolong, bagaimana caranya bisa menembus jalan. Karangtengah total. Bawa teman),” kata Wawan, sapaan akrab Arsita Umawan dalam pesan singkatnya.

Pesan itu dilengkapi foto-foto kondisi jalan di Karangtengah. Mulai dari foto material tanah, berikut pepohonan beragam ukuran yang menimbun jalan. Termasuk foto tiang listrik melintang di jalan, hingga tower operator seluler ambruk.

Wawan menyebut warganya sudah tak memungkinkan untuk menyentuh material longsor. Sebab, mereka juga disibukkan dengan kondisi rumah dan lingkungan perumahan yang juga tak luput dari bencana. Selain itu, secara psikologis, warga masih shock dengan bencana terbesar yang terjadi di Karangtengah.

Wartawan koran ini yang berada di Wonogiri Kota, berjarak sekitar 80 kilometer dari Karangtengah, langsung menghubungi komunitas tril Wonosetan di Baturetno dan Giriwoyo. Termasuk Palagas Baturetno, komunitas pecinta gunung yang selama beberapa tahun terakhir aktif dalam upaya penyelamatan alam.

Informasi terkini kondisi Karangtengah juga diteruskan ke Agung Talok, pentolan B2B, komunitas sepeda downhill Baturetno.  

“Mas, saat ini sudah ada beberapa teman Wonosetan di Batuwarno. Ada Agung Dimbung, Irzat, Hoho dan beberapa teman lain. Membantu warga membuka jalur semampunya,” jawab Aiptu Sutarno, kanitreskrim Polsek Batuwarno yang juga salah satu sesepuh Wonosetan.

Kemudian, Kiran, pentolan tril lain di Giriwoyo, menjawab, dia langsung mengumpulkan “pasukan”. Tapi, karena saat itu sudah beranjak sore, Kiran memutuskan membawa pasukan kecilnya naik esok harinya.

Hal yang sama juga dikatakan Didin Markothik, personel Palagas. “Saya sudah kontak Mbah Dedy (Dedi Al Jawi, sesepuh Palagas), kita berangkat besok pagi mas. Nunggu njenengan (Anda) sisan (sekalian). Ini sudah koordinasi dengan Lik Ran (Kiran) juga,” ujarnya.

Agung Talok juga memutuskan menuju lokasi bencana Kamis pagi untuk fokus di pembongkaran tower operator seluler yang ambruk.

Koordinasi terus berjalan. Disepakati untuk tidak membuat beban bagi siapa pun di Karangtengah. Akhirnya, tim dari Baturetno membawa sendiri peralatan operasi pembukaan jalur Karangtengah. Mulai dari cangkul hingga garon. Termasuk tim pengirim konsumsi.

Esok harinya, Kamis (30/12), tim singgah di posko penanganan bencana Balai Desa Temboro untuk melapor dan berkoordinasi dengan Mbak Aisyah, personel Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Wonogiri yang dituakan di posko tersebut. Tim juga telah ditunggu Anor, Vidhi, Dobleh dan beberapa personel komunitas tril asli Karangtengah.

“Dari sini (Balai Desa Temboro, Red) sampai kecamatan sudah bisa dilintasi motor. Warga sudah membuka jalurnya,” ujar Mbak Aisyah.

Tim memilih langsung menyusul Wawan yang saat itu sudah stand by di depan Kantor Kecamatan Karangtengah. Tak jauh dari tower operator seluler setinggi 72 meter yang ambruk melintang jalan, dengan wajah lelahnya, Wawan menyampaikan kabar buruk. Ayahnya yang berniat ikut gotong royong menyingkirkan material longsor terpeleset dan mengalami patah tulang kaki. “Ini bapak mau dioperasi di Kartasura. Patah dua di betis,” katanya.

Setelah memastikan kondisi ayah Wawan, tim mulai bekerja. Menebang pohon kelapa yang nyaris roboh dibantu warga menjadi kegiatan pertama di Karangtengah hari itu. Berlanjut menyingkirkan puing di jalanan sekitar kantor Kecamatan Karangtengah. Tim kemudian menuju Desa Purwoharjo yang terisolasi.

Bersama sejumlah warga Karangtengah, sedikit demi sedikit material longsor disingkirkan dari badan jalan. Setidaknya sampai bisa dilintasi sepeda motor. Hingga tiba pada material longsor setinggi dua meter, panjang 30 meter.

“Opo kuat iki nek manual?,” tanya Kiran ketika itu. Saat itu, rombongan hanya terdiri 30 orang. Sebagian besar sudah lelah karena nyaris tak henti bekerja semenjak dari kantor Kecamatan Karangtengah. Ditambah, hujan kembali mengguyur. Muncul kekhawatiran longsoran susulan. Mengingat lereng bagian atas terlihat gundul. Hanya ada semak belukar dan pokok-pokok pinus yang menghitam.

Namun, tim memutuskan berjuang semampunya. Berbagi tugas. Ada yang terus mencangkul dan menyingkirkan tanah gembur di badan jalan, sisanya membelokkan aliran sungai kecil di lereng bukit ke arah timbunan longsoran guna memudahkan pekerjaan.

Hasilnya, tak sampai dua jam, material longsoran tersingkirkan dan dapat dilintasi sepeda motor. Tujuan ke Desa Purwoharjo kian dekat. Setelah menyingkirkan beberapa gundukan tanah di badan jalan, perjalan tim terhenti oleh beberapa batang pinus besar yang tumbang.

Berbekal golok dan sabit, sebagian batang pinus dipangkas agar cukup dilintasi sepeda motor. Tapi, lagi-lagi perjalanan terhalang oleh gundukan tanah raksasa di tikungan wilayah Gunung Gede.

Tim memilih berhenti di tempat itu. Selain waktu sudah sekitar pukul 17.00, hujan juga semakin deras. Menyebabkan material longsor kian lunak. Kaki tim pun tenggelam sampai di atas lutut ketika menginjaknya.

“Hari ini kita berhenti disini. Tak mungkin meneruskan. Kita kembali,” kata wartawan koran ini sambil mengamati tebing di sisi atas yang menurut Anor dan Dobleh terdapat retakan dan sewaktu-waktu bisa longsor.

Antara khawatir dan rasa dingin yang menusuk tulang, tim balik kanan lalu mampir ke posko untuk melapor. Ketika itu, tim sudah hampir menyerah dan berencana tidak kembali ke lokasi yang sama keesokan harinya. Tapi, Wawan, Anor, Dobleh dan Mbak Aisyah meminta tim bisa menerobos hingga sampai ke Desa Purwoharjo.

“Mas, besok tolong kembali. Tolong bawa teman lebih banyak. Besok tolong diusahakan nembus ke Purwoharjo untuk kirim sembako. Njenengan mirsani (Anda lihat) sendiri, kalau nggak pakai trail, nggak mungkin bisa sampai sana kan. Kasihan warga,” terang Mbak Aisyah.

Setelah berembuk, tim sepakat kembali keesokan harinya. Sore itu, tim kembali mengirim request ke teman-teman trail lainnya untuk bisa datang membantu. Termasuk tim trail dari Wonogiri Kota. “Siap. Wonogiri siap berangkat. Tapi, jumlahnya berapa belum tahu,” kata Didik Senggung, Direktur BKK Tasikmadu Karanganyar asal Pokoh, Wonogiri.

Tiba di Batuwarno, Kiran mendapat pesan singkat dari Aris, teman ngetril di Purwoharjo. Aris mengaku sedang di Baturetno. Tim kemudian meminta Aris menunggu guna berkoordinasi mengenai rencana menyuplai sembako ke desanya.

“Saya tadi turun melalui Tirtomoyo. Tapi, jalannya sulit. Motor harus dipikul. Untuk turun saja hampir lima jam. Saya terpaksa turun karena harus menjemput saudara sambil mencari bahan pangan. Di sana (Purwoharjo) masih ada bahan pangan, tapi menipis. Kalau dua hari lagi mungkin sudah akan sulit. Tidak ada listrik,” urai Aris ketika bertemu tim malam itu.

Tim kemudian membuat kesepakatan. Aris dan teman-teman tril serta warga Purwoharjo esoknya akan berusaha membuka jalur dari arah timur (Purwoharjo). Sedangkan kami yang dari barat akan berusaha berjalan ke arah timur sambil membawa sembako. (bersambung)

(rs/bay/bay/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia