Senin, 11 Dec 2017
radarsolo
icon featured
Features

Berbagi Inspirasi: Sensasi Mengajar di Daerah Perbatasan

Sabtu, 25 Nov 2017 10:25 | editor : Bayu Wicaksono

Bagas Adi Prabowo saat bertugas di Kabupaten Musi Banyuasin.

Bagas Adi Prabowo saat bertugas di Kabupaten Musi Banyuasin.

Meskipun hanya 12 bulan mengajar di Kabupaten Musi Banyuasin, Bagas Adi Prabowo cukup banyak mendapatkan tantangan. Semua dilakoni dengan penuh pengabdian.

Mendapatkan informasi dari rekannya tentang program Indonesia Mengajar, Adi sangat tertarik. Dia ingin menguji nyalinya ambil bagian mengajar di daerah terpencil. Kala itu, pria berkacamata ini mendapatkan tugas di Desa Bandar Agung, Kecamatan Lalan, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan.

”Alasan utamanya (ikut Indonesia Mengajar) cukup simpel. Kehidupan di kota dan desa sangat berbeda, khususnya dalam hal pendidikan. Makanya saya tertantang,” ujar alumni Ekonomi Pembangunan Universitas Sebelas Maret (UNS).

Padahal Adi tidak memiliki pengalaman menghadapi murid. Sama sekali belum pernah mengajar di kelas. Untungnya, dia mendapatkan kursus selama dua bulan dari panitia Indonesia Mengajar sebelum diterjunkan ke lapangan.

Setelah dirasa bekal pelatihan mengajar cukup, Adi bergegas menuju lokasi tugasnya. Butuh waktu sekitar enam jam menyusuri Sungai Musi untuk tiba di Desa Bandar Agung.

”Kita naik kapal cepat. Deg-degan juga karena saya tidak bisa berenang,” ujar pemuda kelahiran 8 Juni 1991 ini.

Tiba di lokasi, Adi langsung mendapat kejutan. Aliran listrik di desa tersebut hanya menyala selama 12 jam. Tentu kondisi itu tak pernah dirasakan Adi selama hidupnya.

Namun, lagi-lagi Adi beruntung. Di tempatnya mengajar banyak permukiman transmigran yang berasal dari Pulau Jawa. Itu setidaknya bisa menghibur hatinya. Merasa seperti di kampung halaman sendiri. ”Masuk ke komunitas masyarakatnya juga lebih gampang,” katanya.

Tiba-lah hari Adi harus mengajar di kelas SDN Bandar Agung. Dia baru merasakan bahwa mengatur anak-anak usia sekolah dasar tidak mudah. Apalagi mereka merasa lebih maju dibandingkan anak lainnya karena sekolah berada di ibu kota kecamatan.

Di sekolah itu, Adi mengajari Bahasa Inggris. Menjaga agar tidak cepat bosan, dia membawa anak-anak belajar di luar ruangan, outing class. ”Pernah mengalami murid satu kelas menangis semua karena berebut pensil warna dan berakhir dengan bertengkar. Bingung mau ngapain. Tapi, setelah dibujuk, mereka berhenti menangis,” ujar warga Tegalasri, Karanganyar.

Ketika sudah merasa bisa beradaptasi, cobaan lain datang. Adi diminta pergi oleh istri pemilik rumah yang ditumpanginya. Perempuan tersebut khawatir timbul fitnah karena suaminya harus bekerja dan jarang pulang.

”Bingung harus ke mana. Untung saja ditolong tukang kebun sekolah. Dia bersedia menampung saya selama tujuh bulan tersisa,” ungkap Adi.

Satu peristiwa yang tak terlupakan adalah ketika Adi mengajak murid-murid bersantai naik sampan menikmati keindahan Sungai Musi. Tiba-tiba, sampan yang mereka tumpangi bocor. ”Bagi saya yang nggak bisa berenang, itu (perahu bocor) sangat menegangkan. Untung saja ditolong anak-anak sehingga tidak tenggelam,” kenang dia.

Selain mengajar, Adi juga memfasilitasi audiensi antara pihak sekolah dengan pemkab setempat. Tujuannya menyampaikan kebutuhan pendidikan yang harus segera dilengkapi. Dari kegiatan tersebut, Adi merasa lebih bermanfaat bagi masyarakat.

“Saya senang bisa mendapat teman dan keluarga baru. Paling penting bersyukur dengan apa yang kita punya saat ini,” ujarnya.

(rs/vit/bay/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia