Senin, 11 Dec 2017
radarsolo
icon featured
Kombis

Tingkat Konsumsi Dexlite masih Rendah

Rabu, 22 Nov 2017 15:03 | editor : Bayu Wicaksono

Run test bus Sinar Jaya dilakukan untuk membuktikan kualitas dexlite sebagai bahan bakar kendaraan penumpang bermesin diesel.

Run test bus Sinar Jaya dilakukan untuk membuktikan kualitas dexlite sebagai bahan bakar kendaraan penumpang bermesin diesel. (SERAFICA GISCHA PRAMESWARI/RADAR SOLO)

CIBITUNG – Konsumsi dexlite sebagai bahan bakar kendaraan bermesin diesel masih sangat rendah, hanya sekitar 3 ribu kiloliter di tahun ini. Angka ini masih jauh dibandingkan konsumsi biosolar yang kontribusinya mencapai 93 persen untuk bahan bakar diesel.

Untuk membuktikan kualitas dexlite sebagai bahan bakar kendaraan penumpang bermesin diesel, PT Pertamina melakukan uji komparasi antara dexlite dan biosolar pada bus dan truk. Uji komparasi dilakukan di PO Sinar Jaya Bus pada Selasa (21/11). Secara teknis, uji komparasi tersebut menggunakan dua unit bus untuk berjalan sejauh 20 ribu kilometer (km) dengan rute Pulo Gebang-Pekalongan dan Cikarang-Pekalongan.

Untuk 10 ribu km pertama, dua kendaraan itu menggunakan bahan bakar dexlite. Kemudian, untuk 10 ribu km berikutnya menggunakan biosolar. Manager Retail Pertamina Marketing Operation Region IV Iin Febrian mengungkapkan, uji komparasi dilakukan untuk melihat perbedaan dari dua jenis bahan bakar diesel tersebut. Menurut dia, hadirnya dexlite bukan berarti untuk menghilangkan solar. Tetapi sebagai pilihan terbaik bagi masyarakat.

”Nantinya tetap masyarakat yang memilih, mau menggunakan bahan bakar mana. Seperti kehadiran pertalite yang menyesuaikan teknologi mesin terkini. Begitu pula dengan dexlite yang hadir mengikuti mesin tranportasi yang lebih bagus,” ujar Iin kepada Jawa Pos Radar Solo kemarin (21/11).

Hingga saat ini konsumsi dexlite baru mencapai 3 ribu kiloliter atau berkontribusi hanya 7 persen. Sebagian besar mesin diesel masih menggunakan biosolar. Dengan sosialisasi dan edukasi mengenai kualitas dexlite, Iin berharap angka konsumsinya akan meningkat pada 2018 menjadi 6 ribu kiloliter.

Sementara itu, perwakilan dari Lembaga Afiliasi Penelitian Indonesia (LIPI) ITB Tri Yuswidjayanto menerangkan, uji komparasi kemarin dilakukan dengan memasang alat di dalam kendaraan penumpang. Alat itu untuk memonitor kinerja mesin secara keseluruhan. Setiap 5 ribu km, bus dari PO Sinar Jaya selalu kembali ke garasi untuk melakukan pengecekan. Dari situ akan muncul semua sumber data yang bisa dibandingkan selama menggunakan dexlite maupun biosolar.

”Sulfur pada mesin diesel menjadi musuh utama kendaraan bermesin diesel. Karena dampak sulfur yang tinggi akan membuat mesin menjadi korosif. Sehingga mengakibatkan kerak dan penyumbatan di filter saluran bahan bakar serta mempengaruhi kadar emisi gas buang,” terang Yus.

Advisor of Sinar Jaya Megah Langgeng Hendah Sunugroho mengungkapkan, dari uji komparasi kemarin terlihat secara jelas bagaiman performa bus saat menggunakan dexlite maupun biosolar. Pihaknya membuktikan bahwa bahan bakar dexlite benar-benar efisien digunakan oleh transportasi serupa bus maupun truk.

”Bahan bakar yang bagus itu tidak menghasilkan endapan yang terlalu cepat pada mesin kendaraan, sehingga memperpanjang frekuensi pembersihan filter. Beberapa waktu ini kami sudah menggunakan dexlite dan sejauh ini cukup bagus. Konsumsi bahan bakarnya bisa lebih panjang atau awet,” pungkas Hendah.

(rs/gis/bay/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia