Rabu, 13 Dec 2017
radarsolo
icon featured
Features

Ketika Orang Tua Sibuk Cari Nafkah, Tempat Penitipan Anak Jadi Pilihan

Selasa, 21 Nov 2017 12:48 | editor : Bayu Wicaksono

Ketika Orang Tua Sibuk Cari Nafkah, Tempat Penitipan Anak Jadi Pilihan

Banyak orang tua masa kini yang merasa dilema. Di satu sisi mereka harus bekerja memenuhi kebutuhan keluarga, sisi lainnya, tanggung jawab membesarkan dan mendidik anak tidak boleh diabaikan.

Nah, melihat kondisi tersebut, tempat penitipan anak dinilai sebagai alternatif agar anak tetap mendapatkan pengasuhan serta pendidikan yang tepat. Namun, orang tua harus jeli menentukan pilihan. Kebersihan, keramahan dan program di tempat penitipan anak menjadi faktor penting untuk diperhatikan.

Akhir pekan kemarin, Jawa Pos Radar Solo menyambangi salah satu tempat penitipan anak di Jalan Karimunjawa, Kelurahan Timuran, Kecamatan Banjarsari. Lokasi tempat penitipan anak ini berada di tengah perkampungan warga. Dari halaman terlihat beberapa anak sedang bermain riang.

Masuk ke bagian dalam, ruangan tempat penitipan anak ini cukup lapang. Tersedia sejumlah kamar tidur dengan desain interior khas anak, peralatan permainan anak, buku bacaan, dan sarana prasarana lainnya. Di halaman belakang terdapat ayunan, jungkat-jungkit, serta beragam bola berbagai ukuran. 

“Sudah tujuh tahun berdiri. Luas lahannya sekitar 391 meter persegi. Jam operasionalnya Senin-Sabtu dari pukul 08.00-17.00. Hari Minggu dan hari besar libur,” jelas salah seorang penanggung jawab penitipan anak, Prapti, 46.

Waktu operasional tersebut fleksibel. Para pengasuh bersedia pulang lebih lama. Termasuk tetap masuk ketika hari libur. Tapi, orang tua terlebih dahulu harus membuat janji.

“Misinya memang untuk pengasuhan anak dan membantu orang tua. Jadi ada kebijakan yang cukup longgar jika memang tenaga pengasuhan ini dibutuhkan,” terangnya. 

Maksimal, tempat penitipan anak tersebut menampung 20 anak dengan lima orang pengasuh. Tapi, permintaan penitipan anak selalu lebih dari kapasitas. Para orang tua pun harus rela antre untuk dapat menitipkan anaknya. Bahkan, ketika belum dibuka pendaftaran, sudah banyak yang memesan tempat.

Selama di tempat penitipan anak, pengasuh menyediakan makan siang, camilan, dan buah yang selalu tersedia. “Bukan cuma tidur dan makan. Ada kegiatan bersama, misalnya belajar merapikan tempat tidur. Belajar makan sendiri, ke kamar mandi sendiri, dan lainnya. Semua itu disesuaikan umur si kecil. Bahasa Inggris juga mulai dikenalkan,” beber Prapti.

Sebagian besar anak-anak yang dititipkan berusia 3-5 tahun. Tapi, tak menutup kemungkinan melakukan pengasuhan di bawah atau di atas usia tersebut. Untuk biayanya, kata Prapti bervariasi. Per bulan sekitar Rp 1,3 juta per anak.

Ada pula model harian yakni Rp 100 ribu per anak. Sedangkan tarif spesial Rp 10 ribu per satu jam pengasuhan. “Memang cukup mahal. Karena itu kebanyakan yang ada di sini itu (anak) menengah ke atas. Biasanya anak dokter, pegawai bank, pokoknya yang ayah ibunya bekerja,” ujarnya. 

Keamanan dan kenyamanan anak menjadi prioritas pengelola tempat penitipan anak. Itu diberlakukan sejak mulai tahap pendaftaran. Orang tua harus menyerahkan akta kelahiran anak, kartu keluarga, dan KTP dalam bentuk fotokopi.

Selain itu, juga dilakukan wawancara ringan dengan orang tua anak guna mengetahui latar belakang dan kedekatan mereka dengan si buah hati. Calon pengasuh juga harus memenuhi standar yang ditetapkan.

“Kalau pengasuh tidak ramah dengan anak, tentu akan kami copot. Karena pengasuhan anak itu kerja dengan hati. Tak hanya sekadar mencari nafkah, tapi harus memiliki passion,” tegas Prapti. 

Salah satu aturan yang terus dijaga adalah pengasuh tidak akan memulangkan anak jika anak tidak mau diajak pulang dengan orang yang menjemputnya. Begitu pula ketika ada perbedaan identitas antara si pengantar dan penjemput. Jika itu terjadi, pengelola tempat penitipan anak segera berkomunikasi dengan orang tua.

“Pernah ada anak nggak mau dijemput ayahnya sendiri. Kami sarankan untuk jemput mama-nya. Bukannya tidak percaya sama ayahnya, tapi untuk menjaga kenyamanan si kecil,” paparnya.

Bagaimana jika ada anak yang sakit? Prapti menerangkan dilihat kasusnya terlebih dahulu. Dia mencontohkan, jika orang tua membawa anak yang sakit, apalagi demam di atas 38 derajat celcius, pihak penitipan anak tidak akan menerimanya. Ini guna menjaga kesehatan anak lainnya.

Bila sakit ringan, si anak tetap akan diasuh, namun ruangannya dipisahkan dengan anak lainnya. “Kalau anak datang sehat kemudian sakit. Kami selalu komunikasi dengan orang tua anak,” tutur dia. 

Sementara itu, Anna, memutuskan menitipkan buah hatinya karena pekerjaanya di bidang kesehatan cukup menyita waktu dengan sang anak. “Saya sudah satu tahun menitipkan dua buah hati saya. Sebelum di sini, saya sempat cari-cari tempat pengasuhan lain. Kebetulan yang paling cocok di sini,” jelasnya di sela menjemput anaknya di Jalan Karimunjawa, Kelurahan Timuran, Kecamatan Banjarsari.

Orang tua lainnya Sri Suwarni menuturkan, dirinya tak khawatir menitipkan buah hatinya. “Di sini sudah tepercaya. Sepertinya ini penitipan anak yang paling longgar batasan waktunya. Saya biasa jemput sampai jam 8 malam dan masih tetap ditunggu. Ini kelebihan dari tempat lain,” ucap dia.

(rs/ves/bay/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia