Kamis, 14 Dec 2017
radarsolo
icon featured
Solo

Derita Mereka yang Tinggal di Zona Merah Kumuh

Senin, 20 Nov 2017 10:05 | editor : Bayu Wicaksono

Derita Mereka yang Tinggal di Zona Merah Kumuh

SOLO - Kepadatan penduduk Kota Solo cukup tinggi. Dampaknya, beberapa titik lokasi masuk zona merah kawasan kumuh. Beragam masalah pun muncul. Mulai dari limbah, sanitasi, hingga menjadi langganan banjir. 

Penyusuran Jawa Pos Radar Solo di lakukan di Kelurahan Gandekan, Kecamatan Jebres. Tepatnya di sekitar Kali Buntung. Sungai yang tersebut terhubung dengan Kali Pepe. Tapi, lokasinya lebih rendah. Sehingga tinggi muka air Kali Buntung kerap meluap.

Yang lebih mengkhawatirkan, luapan air tersebut berpotensi mengandung mikrobakteri mengingat pembuangan limbah rumah tangga warga sekitar langsung mengarah ke sungai.

“Sudah ada ipal (instalasi pengolahan air limbah) di tiap rumah. Tapi kan keluarnya air pembuangan masih masuk ke sungai,” jelas Anik, warga RT 02 RW 02 Kelurahan Gandekan. 

Kondisi tersebut menyebabkan air tanah di Kelurahan Gandekan kurang layak dikonsumsi. Keruh dan berbau. Untuk konsumsi, warga memilih berlangganan air dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Sedangkan air tanah digunakan untuk mencuci. 

Meski demikian, warga setempat tidak berpangku tangan. Beragam upaya dilakukan, mulai dari kerja bakti hingga perbaikan saluran air yang menuju ke sungai.

“Malah dulu Pak Wali (Wali Kota Surakarta F.X. Hadi Rudyatmo pernah nyemplung di sini (Kali Buntung) waktu bersih sungai,” jelas warga lainnya, Kuswantono, 46.

Dari Gandekan bergeser ke Kelurahan Semanggi. Warga sekitar kerap mengeluh lingkungannya diteror bau busuk dari limbah cair dari pasar ayam dan kambing Semanggi. Tembok pembatas setinggi tiga meter tak mempan menghalau bau busuk di RW 06. “Kalau bau itu pas hujan deras, baunya pasti mubal (menyengat),” terang Ketua RT 03 RW 06 Sugiyarto.

Menurutnya, bau tidak sedap tersebut muncul lantaran daya tampung Ipal tak sanggup menampung semua limbah dari para pedagang ayam potong. Akibatnya limbah cair meluber.

“Sempat dulu baunya sampai ke masjid. Padahal letak masjid dengan Ipal cukup jauh. Warga pun jadi kurang nyaman untuk ibadah,” jelas dia.

Pertemuan yang dihadiri pengelola pasar ayam, lurah Semanggi, camat Pasar Kliwon, dinas pengelola pasar, dinas pertanian, dan perwakilan warga digelar untuk mencari solusi. Akhirnya disepakati menambah daya tampung Ipal.

Lurah Semanggi Sularso gangguan bau busuk dari limbah pasar ayam juga dibahas intensif pada Musyawarah Rencana Pembangunan Kelurahan (Musrenbangkel) Semanggi awal tahun ini. “Usulannya sudah diterima pemkot dan ditangani langsung dinas perdagangan untuk perbaikan dan pengelola Ipal,” ungkapnya. 

Ketika permukiman padat penduduk di Kelurahan Gandekan dan Semanggi dibuat repot masalah lingkungan, beda di Kelurahan Jebres. Warga di bantaran rel Stasiun Jebres hidup di bawah garis kemiskinan. “RW 03 merupakan kawasan padat penduduk yang terkenal kumuh. Dari sekitar 200 KK (kepala keluarga), 50 KK di antaranya masuk dalam kategori keluarga miskin,” ucap Ketua RW 03 Ali Suprojo.

Wartawan Jawa Pos Radar Solo kemudian mendatangi salah satu rumah semipermanen di sekitar rel kereta api (KA). Rumah berukuran 3x2,5 meter itu itu dihuni Sukimin, 90, dan istrinya. Sehari-hari, pria lanjut usia itu berprofesi sebagai tukang becak. “Kadang dapat Rp 15 ribu (per hari), kadang juga blong,” katanya. 

Karena sempit, perabotan rumah Sukimin bercampur menjadi satu. Ketika hujan, lalat, tikus, dan kecoa yang berseliweran menjadi pemandangan biasa. “Ya memang seperti ini kondisinya. Sudah boleh pakai tanah PT KAI saja sudah syukur,” ungkapnya.

(rs/ves/bay/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia