Jumat, 24 Nov 2017
radarsolo
icon featured
Features
COVER STORY

Ketika Pesawat Radio Amatir Tetap Menjadi Andalan

Senin, 30 Oct 2017 11:06 | editor : Bayu Wicaksono

Ketika Pesawat Radio Amatir Tetap Menjadi Andalan

 Roger….roger….ganti. Kalimat tersebut masih terdengar di telinga Drajat Rustiyanto (50). Meskipun tidak sesering sekitar 27 tahun lalu. Sekarang, suara “berisik” radio amatir tergantikan dering smartphone beragam nada.

Bagi anak-anak zaman now, peralatan radio amatir dengan model relatif besar dan rumit, mungkin dianggap sebagai barang antik. Jangankan mengoperasikan, memegangnya saja mungkin tidak pernah.

       Mereka kurang paham bahwa radio amatir menjadi barang mewah di era 1980-1990. Harga perangkatnya relatif mahal. Bisa dijadikan media gaul, layaknya media sosial seperti sekarang. Dan juga cepat menyebarkan informasi penting. Seperti kecelakaan, bencana alam.

Drajat mempertahankan fungsi radio amatir meskipun harus rela dibombardir perkembangan internet. “Waktu itu, kalau sekolah terus main ke rumah teman atau ke mana bawa HT (handy talkie) itu sudah paling keren,” jelasnya.

Hampir setiap kawula muda merasa bangga ketika bercerita pengalamannya tentang nge-break. Mereka menjadi lebih betah di rumah karena tetap bisa berkomunikasi dengan teman-temannya lewat “udara”.

Tema pembicaraannya beragam. Mulai dari bidang pendidikan, kegiatan sehari-hari, hingga membahas penyebab kerusakan radio amatir. “Kita bertukar informasi,” jelas Kasi Operasional dan Pendidikan Organisasi Radio Amatir Indonesia (Orari) Solo.

Kepopuleran radio amatir puluhan tahun lalu itu juga diamani Sarmanto. "Zaman segitu harganya tidak murah. Sekitar Rp 75-150 ribu untuk HT. Kalau bus station bisa sampai Rp 500 ribu di 1980,” papar teknisi bus station Orari Solo.

Bergabung ke dalam komunitas radio amatir, bukan sekadar hobi. Sarmanto mendapatkan banyak saudara baru. Termasuk berbagi pengetahuan tentang perawatan dan perbaikan peralatan radio amatir.

Yang paling membuatnya bangga adalah bisa membantu banyak orang saat kondisi genting. “Pada 2004, dapat pesan di radio tentang pesawat tergelincir di Bandara Adi Soemarmo. Langsung kontak-kontak yang lain biar segera dapat bantuan dan mengirimkan armada ARES (Amateur Resque Emergency Servis) ke TKP,” ungkap dia.

Pentingnya peran radio amatir juga diakui Wakil Ketua II RAPI Solo Taufiq Agus. Yakni ikut menyebarluaskan informasi pencarian korban hanyut. “Daya jangkau siaran radio sampai ke segala penjuru daerah terpencil yang minim fasilitas,” terangnya.

Pria yang juga berprofesi sebagai satuan dinas kebakaran Surakarta ini menambahkan, radio tetap bisa diandalkan ketika sarana komunikasi lainnya telah lumpuh akibat bencana alam.

“Kita ingat Gempa Nias dan Tsunami Aceh 2004 itu yang pertama kali mengabarkan adalah teman-teman radio, bukan militer atau yang lain. Saat semua komunikasi lumpuh total, mereka membuat antena sederhana. Di sini kita bisa lihat peran radio,” ujar dia.

Salah seorang mahasiswa pecinta alam asal Universitas Sebelas Maret (UNS) Muhammad Rahman menegaskan, radio amatir selalu disiapkan ketika melakukan pendakian. "Penting karena ini adalah alat yang paling efektif. Misalnya saat ada peserta yang kesasar, wajib melakukan pencarian. Untuk memudahkannya, pakai HT,” tuturnya.

Serupa dituturkan Dian Purwoko. Anggota magang di komunitas peduli lingkungan dan Search And Rescue (SAR) Anak Gunung Lawu (AGL) ini mengakui radio komunikasi sangat membantu dalam koordinasi antaranggota dalam pendakian. Selain itu, dapat lebih cepat berkomunikasi ketika ada kejadian darurat.

(rs/ves/bay/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia