Selasa, 21 Nov 2017
radarsolo
icon featured
Features

Andry Prasetyo Cs, Ciptakan Alat Digitalisasi Naskah Kuno Murah

Rabu, 25 Oct 2017 12:22 | editor : Bayu Wicaksono

alat reprograf

Andry Prasetyo (kanan) peragakan cara kerja reprograf di kampus ISI Surakarta. (DAMIANUS BRAM/RADAR SOLO)

SOLO - Naskah kuno koleksi museum memiliki historis yang tak ternilai. Tapi, saking ketatnya perawatan, pengunjung bakal sulit mengakses. Hal tersebut dikhawatirkan naskah kuno menjadi kurang bermanfaat.

Itu pula yang mendorong dua dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta program studi (prodi) Fotografi Andry Prasetyo dan Ketut Gura Arta Laras bekerja sama dengan pustakawan ISI,  M. Ali Nurhasan Islamy melakukan penelitian optimalisasi digitalisasi naskah kuno.

Dari penelitiannya di perpustakaan Radya Pustaka, perpustakaan daerah Jawa Tengah dan perpustakaan nasional di Jakarta, proses digitalisasi naskah kuno sudah dilakukan. Namun, progres dan teknis pelaksanaannya dinilai kurang maksimal dan malah dapat merusak naskah kuno. Sebab, terlalu banyak menggunakan alat pencahayaan.

Mereka kemudian membuat alat yang diberi nama reprograf. Merupakan pengembangan alat digitalisasi naskah kuno dengan lebih mengoptimalkan peran kamera digital.

Di ruang komputer gedung 4 Kampus ISI Surakarta, Andry bersama dua rekannya mengundang sejumlah pustakawan untuk mengenalkan dan mengajarkan reprograf.

Sekilas, alat itu mirip alat digitalisasi naskah pada umumnya. Yakni menggunakan kamera digital. Hanya saja, reprograf tampak lebih praktis dan fleksibel. Alat ini hanya menggunakan pencahayaan dari dua lampu LED yang mengandalkan sumber energi dari powerbank.

Itu menjadikan reprograf lebih fleksibel karena bentuknya relatif lebih mini dan mudah dipindahkan. “Hanya butuh dana sekitar Rp 1,5 jt. Jika ditambah kamera, harga total sekitar Rp 11,5jt. Ini jelas sangat murah jika dibandingkan alat digitalisasi lainnya yang harganya mencapai puluhan juta hingga ratusan juta rupiah,” beber Andry.

Dia tergerak membuat penelitian digitalisasi ketika mengetahui naskah kuno di Museum Radya Pusataka tersimpan rapat di dalam lemari. Bukan tanpa alasan, pengelola museum setempat tentu tak ingin benda sangat berharga itu rusak gara-gara kerap disentuh pengunjung.

Namun, di sisi lain, perlakuan ekstraketat tersebut juga menyebabkan naskah kuno yang seharusnya bisa dipelajari masyarakat, menjadi tak berguna. “Ilmu pengetahuan yang terkandung di dalam buku tersebut tidak akan bisa diakses. Padahal naskah itu merupakan karya pujangga pendahulu bangsa,” kata dia.

Dari hasil penelusuran tentang digitalisasi, Andry Cs menyimpulkan bawah alih media menjadi hal penting dan mendesak. Terlebih bagi perpustakaan tua seperti Radya Pustaka yang memiliki ratusan naskah kuno.

Dengan reprograf, alih media yang tadinya membutuhkan biaya relatif mahal, bisa lebih hemat. Kualitasnya pun tak perlu diragukan.  Andry berharap alat tersebut memberikan kemudahan akses bagi pengunjung perpustakaan melalui e-book hasil digitalisasi.

“Kami melihat peran digital masih kurang dimaksimalkan sebagai media utama dalam proses digitalisasi. Untuk itu, perlu peningkatan kapasitas pustakawan dalam mengoperasikan kamera dan teknik pemotretan melalui workshop alih media,” beber dia.

(rs/bram/bay/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia