Senin, 20 Nov 2017
radarsolo
icon featured
Features
COVER STORY

Jeritan Mahasiswa Penyandang Disabilitas

Senin, 23 Oct 2017 11:29 | editor : Bayu Wicaksono

ILUSTRASI

ILUSTRASI (IRECK OKTAFIANTO/RADAR SOLO)

Pemerintah pusat melalui Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 46 Tahun 2014 tentang Pendidikan Khusus, Pendidikan Layanan Khusus, dan/atau Pembelajaran Layanan Khusus pada Pendidikan Tinggi berupaya memfasilitasi mahasiswa penyandang disabilitas agar nyaman kuliah. Namun faktanya, perlu banyak evaluasi.

Tekad Felix Ardhi Yuda (23), untuk melanjutkan kuliah cukup tinggi. Tapi, kenyataan pahit harus dirasakan sebelum mendapatkan kampus idaman “Pas lanjut SMA, Alhamdulillah masih dapat sekolah inklusi yang aksesnya mudah. Tapi setelah lulus SMA, saya kesulitan mencari kampus yang mudah diakses untuk tunadaksa seperti saya,” jelas pria kelahiran Grobogan, 7 Juli 1993.

Kali pertama, pria yang akrab disapa Yuda tersebut melanjutkan pendidikan di kampus swasta dengan jenjdang D1. Tapi, baru satu semester dijalani, dia harus berhenti kuliah karena kesulitan naik turun tangga menuju kelasnya di lantai dua. 

Yuda kemudian mendaftar ke Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dan mengikuti ujian seleksi mahasiswa baru. Namun, setelah mengetahui ruang jurusan Teknik Informatika dambaannya berada di lantai atas, niat kuliah kembali di-cancel.

Tidak patah arang, Yuda memilih masuk STIMIK Sinar Nusantara. Awalnya, ada toleransi ruang untuk kuliah. Sayang, masuk semester dua, ada perubahan kelas. Yuda harus kuliah di lantai tiga. 

Satu setengah semester dijalaninya dengan susah payah. Yuda harus dibantu teman kuliah untuk pindah kelas. Tapi, karena dalam sehari bisa tiga kali ganti ruangan, dia lagi-lagi memutuskan berhenti kuliah.

“Saya pikir kasihan juga kalau teman-teman terkendala karena saya. Akhirnya saya yang ngalah,” ungkap sulung pasangan Agus Mantono
dan Muntofiah. 

Kampus lain yang menjadi bidikan Yuda adalah Universitas Sebelas Maret (UNS) dan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Seperti sebelumnya, dia mengurungkan niatnya kuliah di dua tempat tersebut karena lokasinya dinilai berbukit bukit. 

Menyerah? Bukan Yuda namanya. Dia kembali mencari informasi kampus yang cocok. Pencarian jatuh ke Univesitas Terbuka (UT), Kecamatan Jaten, Kabupaten Karanganyar. Di kampus tersebut menyediakan program unit pelayanan bimbingan belajar jarak jauh (UPBBJJ) dengan sistem pembelajaran jarak jauh secara online.

Konsekuensinya setiap tugas yang dikerjakan tepat waktu dan diserahkan secara online pula. Jika menemui kesulitan tentang materi kuliah, mahasiswa dapat datang ke kampus untuk konsultasi dengan dosen.

Dari pengalamannya itu, Yuda berharap pengelola perguruan tinggi meningkatkan akses untuk mahasiswa penyandang disabilitas, terlebih pengguna kursi roda. Keberadaan lift menjadi sarana vital.

“Mau sebagus apa pun pendidikan kampus, kalau aksesnya kurang mendukung (mahasiswa difabel) tetep jadi kendala. Katanya sekolah dan kampus inklusi itu sudah membuka diri untuk difabel. Tapi dari bangunan gedungnya saja masih sulit dilewati orang pakai kursi roda,” keluhnya. 

Mahasiswa penyandang disabilitas lainnya Wiji Lestari menuturkan, dirinya pernah mencari informasi tentang kegiatan perkuliahan di Universitas Slamet Riyadi (Unisri). Tapi, karena program studi yang dipilihnya berada di lantai atas, keinginan kuliah di kampus itu batal. “Makanya saya langsung ke UT,” jelas Tari sapaan akrabnya. 

Senada dengan Yuda, Tari ingin perguruan tinggi memperhatikan fasilitas untuk difabel agar dapat kuliah nyaman seperti mahasiswa lainnya.

Terpisah, alumni Unisri Ida Mujtahidah yang menderita lumpuh layu menuturkan, butuh usaha ekstrakeras agar dapat kuliah. Sebab, ruangannya berada di lantai dua.

“Awal kuliah, kalau mau naik dan turun tangga dibantu teman sekelas. Kalau tidak dosen yang membantu. Tapi setelah terbiasa, tidak pernah dibantu lagi. Bisa naik turun sendiri,” jelasnya.

Kesulitan lainnya adalah ketika hendak ke toilet. Karena tidak ada pegangan untuk menopang dirinya. “Cuma pegangan bak mandi, kalau tidak gagang pintu biar tidak jatuh,” kata dia.

Ida bersyukur, kendala tersebut bisa dihadapinya hingga dinyatakan lulus dari Jurusan Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP).

Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan Unisri Surakarta Sutoyo memaparkan, tempat kuliah Ida merupakan gedung lama yang belum dilengkapi fasilitas penunjang disabelitas.

“Kalau mau rehab juga sudah tidak bisa. Seandainya mau diberi lift, harus mengubah kontruksinya. Jadi antisipasi kita dengan memberi penyangga di tangga untuk memudahkan mereka (mahasiswa disabilitas) naik turun,” ucap Sutoyo.

Upaya lainnya adalah memberikan pengertian kepada seluruh civitas akademika agar tidak acuh terhadap mahasiswa disabelitas. Yakni dengan memberikan pertolongan ketika kesulitan beraktivitas.

Ke depan, lanjut Sutoyo, kampusnya menyiapkan kelas dari masing-masing program studi di lantai satu. Konsep ini digagas karena menurutnya belum ada kampus yang menyediakan kelas khusus bagi mahasiswa disabilitas. Dalam jangka pendek, fasilitas bagi disabilitas akan hadir di gedung baru. Yakni penyediaan lift. 

(rs/ves/bay/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia