Jumat, 24 Nov 2017
radarsolo
icon featured
Solo

PKL Nekat Bangun Cor Semen

Jumat, 20 Oct 2017 14:47 | editor : Perdana

NEKAT: PKL bergotong-royong membangun cor-coran semen di lapangan voli dan kantong parkir Kottabarat karena takut becek saat hujan.

NEKAT: PKL bergotong-royong membangun cor-coran semen di lapangan voli dan kantong parkir Kottabarat karena takut becek saat hujan. (DAMIANUS BRAM/RADAR SOLO)

SOLO – Sejumlah pedagang kaki lima (PKL) Kottabarat yang baru saja pindah ke area lapangan voli kantong parkir selatan, nekat mengecor dasaran dengan semen. Padahal, langkah tersebut tidak mendapat izin dari pemkot.

Salah seorang pedagang yang enggan menyebutkan namanya mengaku, ia nekat membuat dasaran berupa cor-coran semen. Sebab, ia takut ketika musim hujan tiba, lokasi usahanya akan menjadi becek.

”Ini kan tanah semua, kalau hujan nanti pasti becek. Kalau becek, mana ada pembeli yang mau datang, bisa rugi saya,” tuturnya.

Salah seorang pengurus Paguyuban Pedagang Kuliner Kottabarat Uut Srusemedi menuturkan, pihanya sudah memberi surat kepada Wali Kota Surkarta F.X. Hadi Rudyatmo, kepala Dinas Pedagangan (Disdag) Surakarta, dan kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Surakarta. Surat tersebut terkait pembuatan dasaran tersebut.

Namun, hingga kini belum ada surat balasan dari dinas terkait. Para pedagang nekat membangun dasaran karena keburu membutuhkan tempat yang layak untuk berjualan setelah tidak bisa lagi menempati selter lama di Jalan dr Moewardi.

“Ketua kami sudah mengajukan surat tertulis. Tinggal tunggu balasan surat tersebut,” tutur Uut.

Sementara itu, ketika dimintai konfirmsi, Kabid PKL Disdag Didik Anggono menuturkan, pihaknya tidak pernah mengizinkan pedagang membuat dasaran dari semen. “PKL ngecor atau nyemen itu atas inisiatif mereka sendiri. Kami tidak meminta mereka. Disdag sementara hanya memfasilitasi tenda untuk mereka berjualan,” kata Didik.

Didik menyayangkan langkah para PKL yang nekat membuat dasaran dari semen di lokasi baru. Menurut dia, para PKL semestinya menunggu hasil kajian teknis dari pemkot dulu. Terutama terkait rencana pembuatan dasaran hingga pembangunan selter.

Dia khawatir PKL hanya asal membangun tanpa memenuhi standar teknis. “Bisa jadi, dasaran yang dibuat PKL sekarang itu kurang tinggi atau tidak sesuai hasil kajian teknis. Sampai saat ini kami tetap berusaha ada penyamaan persepsi dengan dinas lain, sehingga PKL tidak bingung,” jelas Didik.

Meski demikian, Didik tidak akan meminta PKL membongkar dasaran yang telah dibangun. Dia hanya mewanti-wanti PKL untuk memperhatikan sejumlah ketentuan. Yakni pembangunan dasaran tidak sampai merusak ekosistem pohon di sekitarnya, tidak boleh mendirikan bangunan permanen, dan hanya boleh berjualan dengan tenda bongar pasang. (atn/ria)

(rs/atn/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia